hai... blogger | Members area : Register | Sign in

ingin blog anda dapat iklan KLIK GAMBAR DIBAWAH INI !!!

Online Job for All. Work from home computer.

Pembuatan keju dengan menggunakan enzim renin Mucor pusillus amobil


oleh Mustakim1, R. F. Muarifah2, K.U. Al Awwaly1*

PENDAHULUAN
Enzim adalah suatu protein yang bertindak sebagai katalisator reaksi biologi (biokatalisator). Pemanfaatan enzim saat ini berkembang pesat terutama pada industry pengolahan pangan misalnya penggunaan enzim rennin untuk menggumpalkan susu pada proses pembuatan keju. Menurut Sardinas (1972), penggunaan enzim rennin yang berasal dari lambung anak sapi sangat mahal, sehingga meningkatkan biaya produksi keju. Penggantian rennin yang berasal dari lambung anak sapi yang masih menyusu dengan rennin mikrobia sebagai enzim penggumpal susu dalam proses pembuatan keju saat ini dirasa sangat diperlukan.
Enzim yzng dihzsilkzn oleh mikrobia tersebut merupakan enzim protease asam yang dikenal dengan naman renninmikrobia. Beberapa mikrobia penghasil rennin adalah kapang dan bakteri, seperti spesies Mucor yaitu Mucor pusillus, Mucor miehei, Mucor heimalis, dan Mucor rouxii. Bakteri yang mampu menghasilkan rennin diantaranya Endothia parasitica, Bacillus subtilis, dan Bacillus polymyxa. Penggunaan Mucor dan Endothia untuk produksi rennin adalah yang terbanyak dilakukan (Muchtadi dkk., 1992).
Renin mikrobia mampu menggumpalkan susu seperti enzim rennin sapi. Fedrich dan Fuller (1988) mengatakanbahwa tidak ada perbedaan yang nyata dalam proses pematangan dan produk akhir keju, yang dihasilkan melalui penggumpalan dengan enzim rennin mikrobia maupun rennin dari lambung anak sapi. Enzim telah nyata berjasa dan membuktikan kemampuannya dalam dunia industry, yaitu memperbaiki mutu produk dan enzim mampu menghemat biaya produksi melalui substitusi bahan dasar fermentasi. Penggunaan bahan sisa industry pertanian yang masih mengandung zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan mikrobia sebagai media fermentasi mampu menurunkan biaya produksi enzim.
Namun demikian, penggunaan enzim dalam proses fermentasi yang demikian hanya dapat dilakukan sekali saja. Dewasa ini telah dilakukan upaya untuk dapat menggunakan enzim dalam proses fermentasi secara berulang-ulang. Salah satu caranya adalah amobilisasi enzim. Amobilisasi enzim adalah enzim yang secara fisik terlokalisasi dalam ruang dengan aktivitas katalitik yang dapat digunakan secara cepat dan kontinyu (Sasmito, 1990). Menurut Said (1987), amobilisasi biasanya dapat dianggap sebagaiperubahan enzim dari yang larut dalam air pada keadaan ‘bergerak’ menjadim keadaan ‘tidak bergerak’ yang tidak larut dalam air. Amobilisasi enzim juga dapat meningkatkan stabilitas dan daya tahan enzim terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim seperti pH dan suhu tinggi.
Metode yang digunakan dalam menghasilkan enzim ini adalah penjebakan enzim didalam matriks. Menurut Bucke (1982), Penjebakan adalah metode yang telah terbukti sangat memuaskan untuk amobilisasi enzim. Terutama karena kesederhanaan dan penahanan enzim yang cukup baik sehingga metode penjebakan untuk amobilisasi enzim banyak digunakan untuk penelitian. Djaafar (2006) berhasil meningkatkan stabilitas enzim dengan teknik amobilisasi enzim penisilin asilase yang dihasilkan oleh Escherichia coli B-130 dengan menggunakan berbagai bahan pendukung polimer untuk menghasilkan reaksi hidrolisis benzyl penisilin menjadi asam 6-amino penisilinat dan asam fenil asetat. El-katatny et al (2003) juga menjebak konidia didalam matriks alginate dan menunjukkan produktivitas yang tinggi terhadap enzim, meskipun sudah diulang 4 kali. Dalam penelitian ini digunakan matriks alginate karena memiiki banyak keuntungan diantaranya bersifat aman pada bahan pangan, kekuatan gelnya baik, tidak memerlukan panas dalam pembentukan gel sehingga resiko kerusakan enzim dapat dihindari, serta dapat mempertahankan stabilitas enzim selama dalam keadaan amobil. Menurut Sheu dan Marshall (1993), amobilisasi dengan gel alginate bersifat aman, cepat, murah, ringan, sederhana dan dapat digunakan untuk hampir semua jenis biokatalisator.
Suhu dan pH merupakan factor yang mempengaruhi aktivitas enzim rennin mikrobia. Oleh karena itu, perlu dikaji penggunaan enzim amobil dengan matriks alginate terhadap lingkungan suhu dan pH yang berbeda sehingga diperoleh kondisi yang optimum bagi enzim amobil untuk melaksanakan reaksi katalitik. Proseskoagulasi susu dengan penambahan enzim rennin mikrobia pada saat pembuatan keju memiliki suhu optimum sekitar 30 – 400C, sedangkan pada suhu 150C tidak akan terjadi koagulasi susu dan bila suhu 600C enzim rennin mikrobia menjadi inaktif (Winarno, 1983). Menurut Radiati dan Fardiaz (1991) enzim rennin stabil dalam menggumpalkan susu pada pH 4 – 6.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan matriks alginate untuk amobilisasi enzim rennin M. pusillus serta mengetahui kondisi suhu dan pH yang baik pada pembuatan keju dengan enzim rennin M. pusillus amobil. Diduga perbedaan perlakuan suhu dan pH pada pembuatan keju menggunakan enzim rennin M. pusillus akan memberikan pengaruh terhadap kualitas keju yang dihasilkan. Diharapkan dapat menggunakan secara berulang-ulang enzim rennin M. pusillus amobil dalam pembuatan keju dengan suhu dan pH yang sesuai dapat menghasilkan keju berstandar kualitas baik.

MATERI DAN METODE
Bahan dan Alat Penelitian
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalahsusu segar dari KUD Dau Malang; alginate (alginate acid sodium salt medium viscosity) (MP Biomedical inc. Perancis); jagung pop corn (FINNA, PT Sekar Alam, Surabaya); potato dextrose agar (PDA) (Bacton Bikinson and Company, USA); kalsium klorida, kalium klorida, dan magnesium sulfat (Merk KgaA Darmstadt, Jerman); kasein, buffer fosfat, Trichloro Acetic acid (TCA) dan akuades (PT Panadia Corporation, Indonesia); pepton(Oxoid LTD Basingstoke,Hampshire, Inggris) dan susu skim yang dibeli dari took AVIA Malang. Starter yang digunakan adalah Lactobacillus bulgaricus, Streptococcus thermophillus yang dibeli dari PT IMDI Pasuruan dan kultur mikrobia penghasil rennin M. pusillus. Bahan-bahan untuk analisis kualitas keju menggunakan menggunakan bahan kimia dengan pro analisis.

Alat-alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
incubator dan oven (type E 53, WF Binder, Jerman); timbangan analitik (type AJ150L, Mettler Instrumente AG, Switzerland); pH meter (Hanna Instrument); refrigerator (Model MR 173 PG, Mitsubishi Electric Corporation, Jepang); hot plate stirrer (type IKAMAG RED, Junke and Kunkel); autoclave (Model HL 36AE, Tokyo Hirayama Manufacturing Corporation, Jepang); centrifuge (Digisystem Laboratory instruments Inc); spektrofotometer (SpectronicR20, GenesysTM, USA); vortex (Model VM 2000, D.S Instruments Inc, Taipei-Taiwan) dan waterbath (type 1003, made in fed Rep, Jerman).

Metode Penelitian
Metode penelitian adalah percobaan dengan Rancangan Petak Terbagi yang terdiri dari dua factor yaitu factor suhu yang terdiri tiga level (sebagai petak utama) 32, 37 dan 420C. Faktor pH yang terdiri tiga level (sebagai anak petak) : 5,0; 5,5 dan 6,0. Kedua factor yang terlibat adalah factor tetap, sehingga model yang dipilih adalah model tetap. Anak petak dipiih perlakuan pH. Rancangan dasarnya adalah Randcangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga kelompok yang didasarkan pada kualitas bahan baku susu yang digunakan karena perbedaan hari pembuatan keju.

Jalan Penelitian
Penyimpanan Kultur Spora (Purnomo dkk., 1996)
Potato Dextrose Agar (PDA) sebanyak 3,9 g dilarutkan dengan 100 ml akuades. Setelah larutan homogeny, 7 ml larutan PDA dimasukkan kedalam tabung reaksi kemudian disterilisasi pada suhu 1210C selama 15 menit. Tabung reaksi yang berisi PDA steril kemudian dimiringkan dan ditunggu hingga padat. Kultur M. pusillus dibiakkan pada PDA miring yang telah padat dan diinkubasi pada suhu 370C selama 7 hari.

Produksi Enzim Rennin (Purnomo dkk., 1996)
Rennin M. pussillus disiapkan dengan cara menginokulasikan spora M. pusillus kedalam media fermentasi tepung jagung (pop corn) dengan perbandingan tepung jagung : larutan mineral (1 : 1), dengan pH media 4,0. Larutan mineral terdiri dari akuades, 0,1% urea; 2,0% pepton; 0,05% CaCl2; 0,02% KH2PO4; 0,05% MgSO4.7H2O;; 0,05% KCl. Media disterilisasi pada suhu 1210C selama 15 menit. Selanjutnya pada suhu kamar, media fermentasi diinokulasi spora sebanyak 5 ml, diinkubasi suhu 370Cselama 116 jam. Media fermentasi yang berwarna abu-abu, kemudian diekstraksi menggunakan blender dengan pengenceran akuades steril 1000 ml per 100 g dan ditambah tween 80 sebanyak 0,05%. Supernatan disaring dan kemudian disentrifugasi berkecepatan 4000 rpm selama 20 menit pada suhu 40C sehingga diperoleh filtrate ekstrak kasar enzim reinnin M. puaillus.

Pembuatan Enzim Rennin M. pusillus Amobil (Wang, 2006)
Matriks Ca-alginat dengan perbandingan Na-alginat 1% dan enzim yaitu 4 : 1 yakni 4 ml Na-alginat dan 1 ml filtrate enzim (perbandingan ini dianggap 1 bagian), diteteskan dalam CaCl2 2%. Enzim amobil disimpan dalam media pepton 0,1% pada suhu ± 40C.

Aplikasi Enzim Rennin M. pusillus Amobil dalam Pembuatan Keju
Proses pembuatan keju menurut Radiati dan Fardiaz (1991) sebagai berikut : Susu dipasteurisasi pada suhu 72 – 730C selama 15 menit, didinginkan sampai 400C dan diberi starter Lactobacillus bulgaricus, Streptococcus thermophillus (2 : 1) sebanyak 5% (v/v), diinkubasi suhu 430C selama 1 – 2 jam dalam waterbath. Suhu diatur sesuai perlakuan (32, 37 dan 420C) dan dibiarkan hingga tercapai pH sesuai perlakuan (5,0; 5,5 dan 6,0). Larutan CaCl2 25% kemudian ditambahkan sebanyak 0,1% (v/v) dan enzim rennin amobil sebanyak 2,5% (b/v), dibiarkan hingga susu membentuk curd. Curd dipotong kecil-kecil dan ditiriskan untuk memisahkan whey, kemudian curd dipanaskan pada suhu 500C, dan dipres selama 2 – 3 jam. Tidak lupa pada tahap ini, enzim amobil dipisahkan dengan penyaringan. Koagulum direndamdalam larutan garam 2% selama 2 jam, ditiriskan selama 1 jam dan dibungkus dengan aluminium foil dan disimpan dalam lemari pendingin sampai digunakan untuk tahap selanjutnya.

Pengamatan dan Analisis
Uji Aktivitas Proteolitik (Khan et al., 1979)
Uji aktivitas proteolitik dilakukan dengan mencampur2 ml kasein 0,5%; 0,5 ml buffer fosfat (pH 4,0) dan 1,0 ml enzim, diinkubasi pada suhu 370C selama 1`0 menit. Larutan TCA 5% kemudian ditambahkan sebanyak 2,5 ml dan diinkubasi pada suhu ruang selama30 menit, disentrifugasi berkecepatan 4000 rpm selama 10 menit. Supernatan yang diperoleh diambil 1 ml dan ditambah akuades sebanyak 5 ml kemudian diukur serapannya pada panjang gelombang 275 nm. Blanko dibuat dengan cara sama seperti diatas, tetapi enzimnya diinaktifkan terlebih dahulu pada suhu 1000C selama 10 menit.
Pengukuran aktivitas proteo-litik enzim dilakukan dengan mengubah nilai serapan menjadi konsentrasi tirosin (μg/ml) dengan kurva standar tirosin. Aktivitas proteolitik dihitung dengan rumus :
[ ]
Dimana : [ ] = konsentrasi tirosin
yang terbentuk
v = volume total sampel
pada tiap tabung
q = waktu inkubasi
p = jumlah enzim (ml)
fp = factor pengenceran

Uji Aktivitas Koagulasi (Khan et al., 1979)
Aktivitas koagulasi ditentukan dengan metode Berridge yang ditulis kembali oleh Khan et al. (1979), yaitu berdasarkan pada waktu yang diperlukan untuk membentuk koagulum tahap awal. Substrat uji digunakan 10 ml susu skim 12% dalam CaCl2 0,05 M. Susu skim diinkubasi suhu 400C selama 30 menit. Kemudian diambil 1 ml enzim yang telah diaktifkan pada suhu 400C selama 5 menit. Waktu yang dicapai untuk membentuk koagulum tahap awal digunakan untuk memperkirakan aktivitas koagulasi. Unit aktivitas koagulasi didefinisikan sebagai sejumlah enzim yang mampu mengkoagulasi 10 ml susu skim selama 1 menit memiliki aktivitas 104 unit.

Pengujian Kualitas Keju
Pengamatan terhadap kualitas keju yang dihasilkan menggunakanenzim rennin M. pusilus melputi tekstur (Carballo et al., 1996), nilai pH (Sudarmadji dkk., 1997) dan nilai keasaman (AOAC, 1990).

Analisa Data
Data dianalisis menggunakan bantuan software SPSS 11.0 dan bila ada perbedaan pengaruh diantara perlakuan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT) (Pramoedyo, 2004).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Produksi Rennin M. pusillus
Produksi rennin M. pusillus dilakukan pada suhu 370C. Pemilihan suhu fermentasi berpedoman pada suhu optimum pertumbuhan kapang M. pusillus. Menurut Somkuti dan Babel (1968), fermentasi pada suhu 280C dan 450C pada medium yang sama M. pusillus menghasilkan karakteristik enzim yang sama. Enzim ekstraseluler pada umumnya disintesis di membrane sel dalam bentuk precursor (Ward, 1983) akan menjadi bentuk proteinase aktif, jika peptide tersedia dalam medium dan mendukung enzim keluar membrane.
Suhu lingkungan merupakan factor pentingbagi pertumbuhan mikroba dan sintesis produk metabolism. Pada suhu optimum mikroba dapat tumbuh dan melakukan metabolism sebaik-baiknya. Suhu optimum pertumbuhan belum tentu merupakan suhu optimum untuk pembentukan enzim. Suhu adalah salah satu factor penting yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba dan produksi metabolit, mengingat suhu mempengaruhi kecepatan reaksi kimia, konfigurasi tiga dimensi protein dan kecepatan aktivitas enzim. Suhu yang terlalu rendah menyebabkan reaksi metabolism relative rendah karena tidak cukup energy untuk mencapai suatu reaksi. Pada suhu yang lebih tinggi molekul enzim yang terproduksi lebih aktif dan terjadi tumbukan molekul, dapat memulai suatu reksi selama protein enzim tidak terdenaturasi. Optimual produksi enzim didefinisikan sebagai maksimum produk, pada kondisi ini enzim diproduksi terus-menerus.
Amobilisasi Enzim Rennin M. pusillus
Tujuan amobilisasi enzim adalah untuk meningkatkan aktivitas enzim dan menggunakan enzim amobil tersebut untuk fermentasi ulang secara bacth maupun fermentasi kontinyu (Panji, 1998). Amobilisasi enzim rennin yang diproduksi dari M. pusillus dengan menggunakan matriks alginate berhasil dengan baik. Manik-manik yang terbentuk mempunyai bentuk dan kekenyalan yang baik serta cukup stabil dalam media cair selama dalam penyimpanan larutan pepton 0,1%. Manik-manik yang terbentuk dalam 4 ml alginate 1% dan 1 ml enzim memiliki berat 3,5 g. Kekuatan gel akan meningkat dengan meningkatnya konsentrasi dar alginate dan CaCl2.
Na-alginat termasuk bahan makanan, memiliki kekuatan gel yang baik, mampu mempertahankan aktivitas enzim dan mampu menjaga stabilitas aktivitas biokimia (Bucke, 1982). Gel alginate dapat dibentuk dari pembentukan jaringan ionic dengan adanya ion kalsium (Ca2+). Secara kimia, alginate sangat stabil pada pH 5 – 10. Pada konsentrasi asam tinggi dan suhu tinggi dapat menyebabkan proses dekarboksilat alginate (Rahayu, 1990; Chaves et al., 1994). Terbentuknya matriks Ca-alginat disebabkan oleh Ca bivalen bereaksi dengan monovalen anion karboksilat alginate membentuk jaringan tiga dimensi (Bucke, 1982).

Aktivitas Proteolitik dan Koagulasi Enzim Rennin M. pusillus
Aktivitas proteolitik enzim rennin M. pusillus ekstrak kasar dan enzim rennin M. pusillus amobil diperoleh 0,18 dan 0,1395 unit/ml/menit. Terjadi penurunan aktivitas proteoitik enzim rennin M. pusillus ekstrak kasar dengan enzim rennin M. pusillus amobil sebesar 22,5%. Aktivitas koagulasi enzim rennin M. pusillus ektrak kasar dan enzim rennin M. pusillus amobil diperoleh 28250 dan 6090 unit/mg protein/menit. Terjadi penurunan aktivitas koagulasi enzim rennin M. pusillus ekstrak kasar dengan enzim rennin M. pusillus amobil sebesar 78,445%.
Penurunan aktivitas enzim ekstrak kasar dengan enzim amobil karena kemampuan enzim yang terjebak dalam matriks membutuhkan waktu yang lebih lama untuk kontak dengan substrat dala menghasilkan produk. Menurut Sasmito (1990), efek dari pembatasan difusi memberikan pengaruh yang besar terhadap kerja enzim dalam berikatan dengan substrat. Dalam amobilisasi enzim, enzim terjebak dalam matriks sehingga pori-pori dari matriks akan mempengaruhi substrat berdifusi kedalam matriks untuk berikatan dengan enzim. Menurut Fadiaz (1988) enzim yang diamobilisasi dapat kehilangan aktivitasnya karena beberapa hal, yaitu : 1) beberapa enzim mungkin dismobilisasi pada matriks dengan konfigurasi sedemikian rupa sehingga menghambat kontak antara substrat dengan sisi aktif enzim, 2) gugus reaktif pada sisi enzim mungkin ikut terikat pada matriks. Perlindungan sisi aktif oleh inhibitor reversible selama pengikatan akan mem-pertahankan aktivitasnya, 3) molekul enzim selama pengikatan mungkin berubah menjadi konfigurasi inaktif, 4) kondisi reaksi selama pengikatan mungkin menyebabkan denaturasi atau inaktivasi enzim.
Menurut Radiati dan Fardiaz (1991), standarisasi aktivitas enzim rennin M. pusillus yang digunakan dalam pembuatan keju memiliki aktivitas proteolitik sebesar 12 unit/ml/menit dan aktivitas koagulasi sebesar 3020 unit/mg protein/menit. Penurunan aktivitas pada enzim rennin M. pusillus amobil masih dapat digunakan untuk membuat keju karena masih memiliki aktivitas koagulasi dan aktivitas proteoitik. Brock (1984) menyetakan bahwa rennin dari kapang memenuhi syarat untuk pembuatan keju yaitu : 1) baik untuk koagulasi, tanpa adanya hidrolisis lanjut dari kasein, 2)menghasilkan keju dengan baud an struktur yang baik, 3) tidak beracun, dn 4) daya proteolitinya rendah, sehingga produk yang dihasilkan tidk pahit.

Pengaruh Enzim Rennin Amobil terhadap Tekstur Keju
Perbedaan kelompok tidak memberikan pengaruh terhadap tekstur karena bahan baku susu segar yang digunakan rata-rata memiliki kadar air yang sama. Perbedaan pH tidak memberikan pengaruh terhadap tekstur karena pH yang digunakan merupakan kisaran pH optimum kerja enzim rennin M. pusillus yaitu antara 5,0; 5,5 dan 6,0. Tidak terdapat interaksi antara suhu dan pH dalam mempengaruhi tekstur keju, kemungkinan karena interaksi antara suhu dan pH yang digunakan pada penelitian ini merupakan kisaran pH dan suhu optimum kerja enzim rennin M. pusillus. Perlakuan suhu memberikan pengaruhb yang sangat nyata (P<0,01) terhadap tekstur keju segar yang dihasilkann oleh rennin M. pusillus amobil, karena kemungkinan variasi suhu 32, 37 dan 420C sebagai petak utama memberikan pengaruh terhadap masing-masing anak petak. Nilai tekstur keju yang dihasilkan menggunakan enzim rennin M. pusillus amobil seperti pada Tabel 1.
Perlakuan suhu 320C berbeda sangat nyata dengan suhu 370C dan 420C dalam mempengaruhi tekstur. Semakin besar nilai tekstur maka semakin tinggi kekerasannya. Meningkatnya kekerasan tekstur pada peningkatan perlakuan suhu karena kecepatan reaksi enzimatik pada umumnya meningkat dengan bertambahnya suhu yang semakin tinggi akan meningkatkan gerakan molekul-molekul reaktan sehingga tumbukan antar molekul akan meningkat (Lehninger, 1988). Pada suhu 420C kekerasan keju yang dihasilkan oleh enzim rennin M. pusillus amobil memiliki nilai kekerasan tertinggi menurut Garnot dan Olson (1986), suhu 400C merupakan suhu optimum proses sterjadinya koagulasi. Suhu koagulasi yang optimum akan meningkatkan proses koagulasi, sehingga pengeluaran whey akan lebih besar dan air yang terikat dalam curd lebih sehingga keju yang dihasilkan juga semakin keras.

Pengaruh Enzim Rennin Amobil Terhadap Nilai pH Keju
Suhu dan pH memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai pH. Nilai pH keju dapat dilihat pada Tabel 2 dan 3.
Perlakuan suhu 420C berbeda sangat nyata dengan suhu 370C dan suhu 320C dalam mempengaruhi nilai pH, sedangkan suhu 370C dan suhu 320C tidak berbeda nyata dalam mempengaruhi nilai pH. Menurunnya nilai pH karena meningkatnya perlakuan suhu disebabkan oleh aktivitas starter (Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus) yang digunakan dalam proses pembuatan keju. Menurut Idris (2002) suhu 430C akan menyebabkan pertumbuhan starter sangat cepat. Sehingga semakin cepat pertumbuhan starter maka akan semakin menurunkan nilai pH, sedangkan perlakuan suhu 370C dan suhu 320C tidak berbeda nyata dalam mempengaruhi nilai pH kemungkinan karena aktivitas starter pada suhu 370C dan suhu 320C tumbuh lebih lambat dibandingkan pada suhu 420C.

Berdasarkan Tabel 3 dibawah, perlakuan pH 5,0; pH 5,5 dan pH 6,0 berbeda sangat nyata dalam mempengaruhi nilai pH. Semakin rendah perlakuan pH yang diberikan juga menunjukkan pengaruh penurunan terhadap hasil akhir nilai pH keju yang dihasilkan, hal yang mungkin terjadi adalah aktivitas starter dari Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus masih berlanjut dalam menghasilkan asam laktat sehingga menurunkan nilai pH. Menurut Purnomo, dkk. (1996), pH keju yang dihasilkan menggunakan starter memiliki pH yang lebih rendah ini menendakan starter tersebut memiliki kemampuan mengubah laktosa menjadi asam laktat.

Kemampuan enzim rennin M. pusillus amobil dalam mengkatalisis substrat membutuhkan waktu yang lebih lama daripada enzim rennin tanpa amobilisasi karena menurut Sasmito (1990), enzim amobil membutuhkan waktu untuk berdifusi kedalam matriks agar dapat berikatan dengan enzim dalam menghasilkan produk. Hal ini juga mampu menurunkan nilai pH karena waktu yang dibutuhkan untuk berkoagulasi juga dimanfaatkan oleh starter dalam memecah komponen susu menjadi komponen-komponen lain. Menurut Scott (1986), perbedaan nilai pH yang terjadi disebabkan oleh produksi asam laktat yang banyak karena aktivitas starter dan adanya aktivitas enzim rennin. Asam laktat yang banyak mengakibatkan ion hydrogen mengalami disosiasi, sehingga menurunkan pH.

Pengaruh Enzim Rennin Amobil Terhadap Nilai Keasaman Keju
Perbedaan kelompok, suhu dan interaksiantara suhu dan pH tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap nilai keasaman karena kisaran interaksi suhu dan pH yang digunakan dalam perlakuan merupakan kisaran suhu dan pH optimum kerja enzim rennin M. pusillus. Perlakuan pH memberikan perbedaan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai keasaman keju. Nilai keasaman keju disajikan pada Tabel 4.

Dari Tabel 4 dapat dilihat bahwa semakin rendah perlakuan pH yang diberikan semakin meningkatkan nilai keasaman keju segar yang dihasilkan dengan menggunakan enzim rennin M. pusillus amobil karena pada saat pembuatan keju pencapaian perlakuan pH dilakukan dengan menggunakan starter untuk memperoleh kondisi asam yang dibutuhkan untuk membantu kerja enzim dalam menggumpalkan susu. Aktivitas proteolitik starter dari Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus juga masih berlanjut dalam menghasilkan asam laktat sehingga menurunkan nilai pH dan meningkatkan nilai keasaman. Waktu yang dibutuhkan enzim untuk mengkoagulasi susu ternyata digunakan pula untuk aktivitas metabolism starter dalam mengubah laktosa menjadi asam laktat. Menurut Scott (1986), aktivitas proteolitik dapat mengakibatkan nilai pH rendah dan nilai keasaman memjadi lebih tinggi.

KESIMPULAN
Alginat dapat digunakan untuk amobilisasi enzim rennin yang diproduksi dari Mucor pusillus. Perlakuan suhu dan pH pada pembuatan keju dengan menggunakan enzim rennin Mucor pusillus amobil memberikan pengaruh yang berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap tekstur, nilai pH dan nilai keasaman. Suhu 370C dan pH 6,0 dalam pembuatan keju segar menggunakan enzim rennin Mucor pusillus amobil dapat menghasilkan keju segar berkualitas baik dengan memiliki tekstur 1,1866 N, pH 4,94 – 5,21 dan keasaman 1,409%.

0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger.....