hai... blogger | Members area : Register | Sign in

ingin blog anda dapat iklan KLIK GAMBAR DIBAWAH INI !!!

Online Job for All. Work from home computer.

PENETAPAN KADAR KARBOHIDRAT PADA NASI AKING YANG DIKONSUMSI MASYARAKAT DESA SINGOROJO KABUPATEN KENDAL

PENETAPAN KADAR KARBOHIDRAT PADA NASI AKING YANG
DIKONSUMSI MASYARAKAT DESA SINGOROJO KABUPATEN KENDAL
 OLEH 
T. Ariyadi 1 , H. Anggraini 2

PENDAHULUAN
Beras adalah salah satu bahan makanan pokok yang mudah disajikan, enak lagi
pula mempunyai nilai energi yang cukup tinggi, sehingga berpengaruh terhadap
aktivitas tubuh dan kesehatan. Badan yang sehat akan lebih mampu menyelesaikan
tugas dengan baik, terutama pekerjaan yang menggunakan tenaga badan (Aksi Agraris
Kanisius, 1990). Beras mempunyai bermacam – macam komponen bahan atau susunan
zat gizi yang lengkap sehingga walaupun dalam jumlah terkecil dapat dipenuhi oleh
beras. Komposisi bahan makanan dalam 100 gram beras mengandung 360 kalori, 6,7
gram protein, 0,7 gram lemak, 7,9 gram karbohidrat, 10 mg vitamin B 1, 0,03 mg
vitamin B 2 dan niacin 1,6 mg ( Sukartinah, 1980 ).
Kebutuhan pokok makanan orang Asia tenggara umumnya adalah kandungan
karbohidrat yang cukup tinggi yaitu antara 70 – 80 %. Bahan makanan tersebut dapat
diperoleh dari butir padi padian, umbi, akar dan sebagainya. Fungsi utama karbohidrat
adalah sebagai penghasil energi, di dalam hati digunakan sebagai detoksifikasi,
disamping itu dapat juga membantu dalam metabolisme lemak dan protein (Suhardjo,
1990 ).
Bagi yang sudah terbiasa makan nasi, bahan ini tidak mudah digantikan
perannya dengan bahan makanan lain. Seiring dengan perkembangan ekonomi
Indonesia yang kurang mendukung dan jumlah penduduk miskin yang makin
meningkat maka akan berdampak pada keterbatasan daya beli, sehingga beras yang
bagus akan menjadi mahal dan beras dengan kualitas jelek menjadi alternatif untuk
dikonsumsi. Menurut berbagai laporan, karena tidak terjangkaunya lagi mendapatkan
bahan makanan maka nasi yang sudah tidak dimakan kemudian dikeringkan diolah
kembali untuk dikonsumsi ( nasi aking ).Dari beberapa laporan yang yang didapat badan koordinasi Bidang
kesejahteraan Rakyat menyatakan bahwa warga yang mengkonsumsi nasi aking
tersebar di beberapa daerah dan mencapai 3.500 kk/ daerah. Hal ini disebabkan karena
beberapa hal yaitu diantaranya karena gagal panen, harga beras yang mahal serta akibat
ketidak mampuan.
Nasi Aking adalah nasi yang dibuat dari nasi yang sudah tidak dimakan kemudian
dijemur sampai kering lalu disimpan. Biasanya diberikan sebagai campuran makanan
ternak unggas. Proses pembuatan nasi ini dengan merendam nasi yang telah di
keringkan dengan air panas, selanjutnya dimasak kemudian siap dikonsumsi kembali.
Berdasarkan hal tersebut bagaimanakan kandungan karbohidrat pada nasi aking ?.

METODA
Jenis penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif, karena hanya
menggambarkan kadar karbohidrat pada nasi aking tanpa mempermasalahkan lama
waktu penyimpanan, jenis nasi yang dibuat sebagai nasi aking dan proses pemanasan
pada saat pembuatan nasi aking. Obyek penelitian ini nasi aking yang dikonsumsi
seluruh warga di RW VII Desa Singorojo, dengan asumsi populasi homogen maka
pengambilan data dilakukan secara purposive. Data yang terkumpul merupakan data
primer yaitu berupa hasil pemeriksaan langsung kadar karbohidrat pada nasi aking.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah stp Erlenmeyer, pendingin
balik, buret 25 ml, labu ukur 500ml, pipet volume 10 dan 25 ml, neraca analitis, lampu
bunsen dan gelas ukur 100 ml. Sedangkan bahan terdiri dari nasi yang sudah dibuat nasi
aking, larutan Luff schoorl, HCL 3 %, H2SO4 6 N, serbuk KI, Na2S2O3 0,1 N,
aquadest dan indikator Amylum.
Prosedur Penetapan Kadar Karbohidrat yaitu : ditimbang sampel sebanyak 3
gram yang sudah di blender, masukkan dalam stop erlenmeyer 250 ml, tambah HCl 3
% sebanyak 120 ml dan batu didih, kemudian dihubungkan dengan pendingin refluk
dan didihkan selama 3 jam. Setelah dingin dinetralkan dengan NaOH 10 % ( cek
dengan indikator universal ). Larutan dimasukkan dalam labu ukur 500 ml, dan
tepatkan sampai tanda batas. Saring dengan kertas saring lalu pipet sebanyak 10,0 ml,
tambahkan 25 ml larutan luff schoorl, batu didih dan hubungkan dengan refluk dan
didihkan selama 10 menit. Dinginkan tambah 3 gr serbuk KI, 25 ml H2SO4 6 N
perlahan – lahan. Setelah reaksi habis cepat – cepat dititrasi dengan Na2S2O3 0,1 N
sampai kuning muda dan tambahkan amylum 1 ml. Titrasi dilanjutkan sampai warna
biru tepat hilang. Blangko dikerjakan dengan menggunakan 25,0 ml larutan luff
schooorl dan 25 ml aquadest.
Perhitungan kadar Karbohidrat :
(ml Blangko – ml Sampel ) x N Na2S2O3 = ...... ml
0,1
Ml Na2S2O3 0,1 N dilihat euivalen pada tabel.
Kadar Glukosa = mg glukosa pada tabel x pengenceran x 100 %
g
Kadar Karbohidrat = Kadar Glukosa x 0,9

HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pemeriksaan karbohidrat dari dua sampel yang dikerjakan
secara duplo didapatkan rata – rata hasil pemeriksaannya adalah 8,31 %, sedangkan
pada pemeriksaan karbohidrat pada nasi normal ( bukan aking ) didapatkan kadar rata –
rata adalah 10.72 % . Berdasarkan hasil pemeriksaan di atas jika dibandingkan maka
terdapat perbedaan penurunan kadar karbohidrat pada nasi aking walau tidak begitu banyak. Perbedaan tersebut tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor yang bisa
menyebabkan penurunan kadar tersebut diantaranya jenis nasi, lamanya pengeringan,
kualitas nasi aking.

SIMPULAN
Hasil pemeriksaan karbohidrat pada sampel nasi aking didapatkan kadar rata –
rata 8,31 % dan pada nasi normal didapatkan kadar karbohidrat sebesar 10,72 % .

DAFTAR PUSTAKA
AAK, Budidaya Tanaman Padi, Yogyakarta, Aksi Agraris Kanisius, 1990
H. Sukartinah, Laporan Penelitian Perbaikan Kualitas Nasi, Jakarta, 1980
Suhardjo, Pangan Gizi dan Pertanian, UI Press, 1990
Suhardjo, Clara M. Kusharto, Prinsip – Prinsip Ilmu Gizi, Yogyakarta, Kanisius, 1992
Robert S, Harni Endakarmas, Evaluasi Gizi pada Pengolahan Bahan Pangan, ITB
Bandung, 1989

0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger.....