hai... blogger | Members area : Register | Sign in

ingin blog anda dapat iklan KLIK GAMBAR DIBAWAH INI !!!

Online Job for All. Work from home computer.

jurnal Pertumbuhan, Kandungan Klorofil, dan Laju Respirasi Tanaman Garut (Maranta arundinacea L.) setelah Pemberian Asam Giberelat (GA3)



GIYATMI WAHYU LESTARI, SOLICHATUN♥, SUGIYARTO
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta 57126.
Diterima: 27 Desember 2005. Disetujui: 2 Pebruari 2006.


PENDAHULUAN
Sektor pertanian Indonesia masih
memprioritaskan pembangunannya pada
peningkatan produksi tanaman pangan. Hal ini
dilakukan karena tuntutan penyediaan bahan
pangan yang terus meningkat seiring dengan
pertambahan jumlah penduduk (Arfian dan
Wijonarko, 2000). Pengembangan pangan
berbasis umbi-umbian, biji-bijian dan tanaman
pohon terus ditingkatkan untuk memenuhi
kebutuhan pangan (Husodo, 2003). Usaha untuk
diversifikasi dan mencegah kerawanan pangan
mengharuskan didapatkannya sumber alternatif
tanaman pangan yang lain, salah satunya adalah
garut (Maranta arundinacea L.).
Rimpang garut dapat dikonsumsi setelah
direbus, dikukus atau diolah dalam bentuk
keripik. Kandungan karbohidrat tanaman garut
cukup tinggi (19,4-21,7%) sehingga tanaman
garut potensial untuk dikembangkan sebagai
salah satu komoditas bahan pangan pengganti
2 Bioteknologi 5 (1): 1-9, Mei 2008
tepung terigu yang impornya terus meningkat
yaitu lebih dari 3 ton tiap tahun (Pujiyanto, 2004).
Kualitas pati garut tidak setara dengan tepung
terigu, tetapi pati garut memiliki beberapa
kelebihan jika dibandingkan dengan tepung ubi
kayu dan ubi jalar. Bentuk butiran pati garut
adalah oval atau bulat panjang sedangkan
butiran pati ubi jalar dan ubi kayu berbentuk
kristal. Butiran oval menyebabkan butir-butir
pati tetap membengkak, dapat menahan udara
dan menyebabkan tekstur remah. Pati garut
tidak mengandung senyawa antinutrisi seperti
HCN dalam ubi kayu, fenol dan oligosakarida
dalam ubi jalar (Kumalaningsih, 1998).
Pati garut dapat dimanfaatkan sebagai bahan
baku pembuatan kue, bubur, perekat, makanan
bayi, pembuat tablet, bedak, pengisi pada
industri kertas dan tekstil serta untuk obat luka
(Damanhuri, 1998; Pribadi dan Sudiarto, 2002).
Kumar (2003) menambahkan bahwa pati garut
juga bisa digunakan untuk substrat produksi
alkalin protease secara fermentasi dengan
menggunakan bakteri alkalofil Bacillus lentus
dengan biaya murah.

Upaya pengembangan tanaman garut masih
perlu ditingkatkan mengingat kebutuhan pangan
yang terus meningkat. Agar kebutuhannya
terpenuhi harus diimbangi dengan peningkatan
jumlah produksi dengan terus berusaha
memperbaiki budidayanya. Salah satu
komponen budidaya adalah penggunaan zat
pengatur tumbuh. Zat pengatur tumbuh mampu
mempengaruhi sintesis protein termasuk klorofil,
dengan peningkatan klorofil diharapkan akan
meningkatkan fotosintat yang dihasilkan
(Abidin, 1994). Fotosintat merupakan substrat
respirasi sehingga peningkatan fotosintat akan
meningkatkan respirasi yang menghasilkan
energi untuk pertumbuhan tanaman yang pada
akhirnya akan meningkatkan hasil tanaman.
Untuk mencapai produksi yang tinggi tanaman
memerlukan faktor-faktor tumbuh yang
optimum baik berupa hormon yang dihasilkan
oleh tanaman sendiri maupun zat pengatur
tumbuh. Faktor lingkungan seperti cahaya, suhu,
air dan zat hara yang berkaitan erat dengan
lingkungan berupa kondisi tanah, daerah dan
iklim juga mempengaruhi produksi tanaman.
Zat pengatur tumbuh semakin banyak
digunakan untuk memodifikasi perkembangan
dan pertumbuhan tanaman. Zat pengatur
tumbuh terutama digunakan untuk
meningkatkan produk akhir, kualitas dan
kuantitas hasil tanaman. Penelitian dengan zat
pengatur tumbuh sebagai hormon eksogen,
dalam bidang pertanian pada masa sekarang ini
sudah mencapai kemajuan yang pesat dan luas.
Hal ini disebabkan luasnya pengaruh yang
ditimbulkan oleh zat tersebut baik yang bersifat
memacu atau sebaliknya justru menghambat
pertumbuhan.
Salah satu hormon tanaman yang penting
adalah giberelin. Giberelin mempercepat
pertumbuhan tanaman. Hormon ini bersifat
tidak hanya merangsang pertumbuhan
melainkan juga merupakan zat yang berfungsi
mengendalikan pertumbuhan tanaman termasuk
pembungaan, pemanjangan batang dan
pematahan dormansi biji (Salisbury dan Ross,
1995c). Menurut Davies (1995) terdapat 89 jenis
giberelin. Semua giberelin merupakan turunan
ent-giberelan dan bersifat asam sehingga
dinamakan GA (asam giberelat) yang dinomori
untuk membedakannya.
Giberelin yang biasa digunakan untuk
penelitian fisiologi tumbuhan adalah asam
giberelat (GA3). Pada GA3, GA4 dan GA9 terdapat
jembatan lakton sehingga golongan giberelin ini
memiliki aktivitas biologis yang lebih besar
dibandingkan dengan yang lain, selain itu asam
giberelat (GA3) juga banyak tersedia di pasaran
(Gardner dkk, 1991). Widiastuti dkk. (1993)
menyatakan, penyemprotan GA3 dengan
konsentrasi 50 ppm dapat meningkatkan tinggi
dan biomassa herba Phyllanthus niruri. Menurut
Usman (1999) zat pengatur tumbuh GA3 dalam
proses pertumbuhan tanaman antara lain dapat
mendorong perkembangan sel serta
pemanjangan pada bagian apikal tanaman.
Sudibyo (1997) melaporkan bahwa GA3 dengan
konsentrasi 250 ppm dapat memacu induksi
pembungaan brokoli dengan rata- rata umur
pembungaan 95,7 hari. Dengan latar belakang
seperti tersebut di atas maka penelitian mengenai
tanaman garut sebagai sumber alternatif
tanaman pangan perlu untuk dilakukan dengan
penggunaan zat pengatur tumbuh yaitu asam
giberelat (GA3).

BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Mei
sampai dengan bulan November 2005. Tempat
penelitian di rumah kaca Sub Lab Biologi,
Laboratorium Pusat MIPA Universitas Negeri
Sebelas Maret Surakarta.
KRISTANTI dkk. – Fermentasi nira tebu untuk pembuatan minuman probiotik 3
Bahan
Rimpang tanaman garut (Maranta arundinacea
L.)., media tanah, pupuk kandang, asam
giberelat ( GA3), akuades, etanol, air, pasir

Cara Kerja
Rancangan percobaan
Percobaan dilakukan dengan menggunakan
Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan
tunggal berupa konsentrasi asam giberelat (GA3)
yaitu:
G0 = GA3 konsentrasi 0 ppm
G1 = GA3 konsentrasi 50 ppm
G3 = GA3 konsentrasi 150 ppm
G2 = GA3 konsentrasi 100 ppm
G4 = GA3 konsentrasi 200 ppm
(Widiastuti dkk., 1993)
Setiap perlakuan dengan 5 ulangan.
Persiapan Media
Media Pertunasan. Media yang digunakan
untuk pertunasan adalah pasir kali yang sudah
dicuci bersih dan dikeringkan. Setelah kering
pasir diayak dengan ayakan. Pasir lalu di
tempatkan pada kotak pertunasan setebal +10-12
cm (Priadi dkk., 2000).
Media Penanaman. Campuran tanah dengan
pupuk kandang dibuat dengan perbandingan
1:1. Campuran ini kemudian dimasukkan ke
dalam polybag berukuran 20x30 masing-masing
polybag sebanyak 4 kg (Susanto, 2004).
Persiapan Bibit. Rimpang umur 8 bulan
dicuci bersih lalu dikering anginkan. Setelah
rimpang kering, diambil bagian yang seragam
kemudian dipotong-potong dan ditimbang
dengan berat yang sama yaitu 30 gram.
Pertunasan dan Penanaman. Bibit yang telah
siap tanam diletakkan pada media pertunasan
dan disiram dengan air setiap pagi. Untuk
mencegah penguapan yang berlebihan media
pertunasan diberi tutup dari plastik. Setelah
tanaman bertunas sepanjang kurang lebih 5 cm
kemudian dipindahkan ke dalam media
penanaman.
Pemberian Asam Giberelat (GA3). Asam
giberelat (GA3) diberikan dalam bentuk larutan
dengan akuades sebagai pelarut. Konsentrasi
asam giberelat yang dipakai adalah 0, 50, 100, 150
dan 200 ppm. Pembuatan larutan asam giberelat
GA3 50 ppm (G1) dengan cara melarutkan GA3
serbuk sebanyak 50 mg dengan beberapa tetes
etanol (2-3 tetes dalam 1000 ml akuades. Untuk
konsentrasi yang lain dibuat dengan cara yang
sama.
Pemberian GA3 dilakukan dua kali pada saat
tanaman berumur satu bulan dan berumur tiga
bulan dengan cara menyemprotkan larutan zat
pengatur tumbuh tersebut secara merata pada
daun. Volume penyemprotan pertama sebanyak
10 kali semprotan tiap polybag pada tiap
perlakuan. Volume penyemprotan kedua
sebanyak 40 kali semprotan tiap polybag pada
tiap pelakuan. Satu kali semprotan diasumsikan
dengan 1 ml. Pada saat penyemprotan tanaman
diberi sungkup plastik supaya tidak mengenai
tanaman lain.
Pemeliharaan. Tanaman disiram dengan air
setiap hari sebanyak kurang lebih 100 ml tiap
polybag. Penyiangan dan penggemburan
dilakukan seminggu sekali.
Pengamatan Parameter Pertumbuhan
Tinggi Tanaman. Pengukuran tinggi tanaman
dilakukan satu bulan sekali sampai saat panen
yaitu tanaman berumur 4 bulan. Pengukuran
dilakukan mulai pangkal batang sampai ujung
daun tanaman tertinggi.
Jumlah Daun dan Luas Daun. Pengamatan
jumlah daun dilakukan satu bulan sekali. Jumlah
daun dihitung dengan menghitung semua daun,
kecuali daun yang masih kuncup. Luas daun
diukur pada akhir percobaan dengan metode
gravimetri yang pada prinsipnya luas daun
ditaksir melalu perbandingan berat. Langkahlangkah
yang dilakukan adalah menggambar
daun yang akan ditaksir pada sehelai kertas yang
menghasilkan replika daun (tiruan daun).
Replika daun tersebut digunting kemudian luas
daun ditaksir berdasar persamaan:
LD = Wr X LK
Wt
LD = Luas daun
Wr = Berat kertas replika daun
Wt = Berat total kertas
LK = Luas total kertas
(Sitompul dan Guritno, 1995).
Berat Basah Tanaman dan Berat Kering Tanaman.
Pengukuran berat basah tanaman dengan cara
menimbang tanaman yang sudah dibersihkan
dari kotoran. Pengukuran dilakukan setelah
tanaman berumur 4 bulan. Sedangkan untuk
berat kering dengan cara memasukkan tanaman
yang sudah dibersihkan dari kotoran ke dalam
oven dengan suhu 700 C hingga didapatkan
berat yang konstan.
Jumlah Anakan. Pengamatan jumlah anakan
dilakukan setiap satu bulan sekali. Jumlah
4 Bioteknologi 5 (1): 1-9, Mei 2008
anakan dihitung dengan menghitung semua
anakan yang terbentuk dengan tinggi 5 cm.
Jumlah dan Panjang Stomata. Jumlah dan
panjang stomata dihitung pada akhir
pengamatan dan dilakukan pada siang hari.
Jumlah stomata dihitung dengan menggunakan
mikrometer okuler. Penghitungan dilakukan tiap
satuan luas mm2. Pengukuran panjang stomata
dengan menggunakan mikrometer berskala
dengan satuan mm. Selanjutnya panjang stomata
dihitung dalam satuan mikron (1 mm = 103
mikron).
Pengukuran Kandungan Klorofil dan Karotenoid.
Pengukuran kandungan klorofil dan karotenoid
berdasarkan metode yang dikemukakan oleh
Hendry dan Grime (1993).
Klorofil total = {( 8,02x A663) + ( 20,2 x A645)} μmol
Karotenoid= {(A480+(0.114xA663)-
(0,638xA645)}x3x1000 μmol; 112,5x100
Pengukuran Laju Respirasi. Laju respirasi diamati
setiap satu bulan sekali dengan menghitung
jumlah CO2 yang dihasilkan oleh tanaman
dengan menggunakan alat Plant Assimilation
Analizer (PAA).
Laju respirasi= CO2 sampel – CO2 kontrol
Laju respirasi= ppm CO2/L/menit
Analisis Data
Data yang diperoleh berupa data kuantitatif
yang meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas
daun, berat basah tanaman, berat kering
tanaman, jumlah anakan, jumlah dan panjang
stomata, kandungan klorofil total dan karotenoid
serta laju respirasi. Data dianalisis dengan
analisis varian (ANAVA) dilanjutkan dengan
Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%.


HASIL DAN PEMBAHASAN
Tinggi Tanaman
Rerata tinggi tanaman M. arundinacea setelah
diberi perlakuan GA3 disajikan pada tabel 1.
Hasil analisis varian terhadap rerata tinggi
tanaman menunjukkan adanya beda nyata yang
disebabkan perlakuan. Peningkatan tinggi
tanaman dari bulan ke bulan menunjukkan nilai
yang signifikan. Peningkatan tinggi tanaman dari
bulan ke-1 sampai ke-4 dapat dilihat pada
gambar 1.
Tinggi tanaman tertinggi diperoleh pada
perlakuan GA3 dengan konsentrasi 50 ppm. Hasil
ini sesuai dengan penelitian Khristyana dkk.
(2004) bahwa penyemprotan GA3 dengan
konsentrasi 50 ppm juga memiliki efek paling
tinggi pada peningkatan tinggi tanaman Plantago
major. Tinggi tanaman terendah diperoleh pada
perlakuan GA3 dengan konsentrasi 200 ppm.
Perlakuan GA3 dengan konsentrasi 100, 150 dan
200 ppm memberikan hasil dibawah tanaman
kontrol.
Peningkatan tinggi tanaman dengan
pemberian GA3 ini sesuai dengan pendapat
bahwa giberelin mampu mendorong orientasi
mikrotubul ke arah sumbu pertumbuhan sel dan
terjadi penimbunan selulosa dan pada akhirnya
sel membesar hanya ke aksis pertumbuhan
sehingga tanaman memanjang (Shibaoka dalam
Fukazawa et al. 2000). Efek GA3 dalam memacu
Tabel 1. Tinggi tanaman (cm), jumlah daun dan luas daun (cm), jumlah anakan tanaman, Berat basah dan berat
kering (g) tanaman, Panjang stomata (μm) dan jumlah stomata tanaman, Jumlah klorofil total dan karotenoid
(μmol) tanaman, Laju respirasi (ppm CO2/L/menit) M. arundinacea dengan perlakuan GA3 selama 4 bulan
Rerata Konsentrasi GA3 (ppm)
0 50 100 150 200
Tinggi Tanaman (cm) 99,770ab 102,940b 98,455a 96,600a 96a
Jumlah Daun 14,40c 14,25bc 12,40a 13,10ab 11,95a
Luas Daun (cm2) 5215,216a 5323,784a 4564,360a 4879,339a 4890,339a
Jumlah anakan 2,40a 2,35a 2,25a 2,60a 2,55a
Berat Basah (g) 535,90a 579b 522,70a 538,76ab 510,41a
Berat Kering (g) 50,040ab 52,640b 46,340a 46,040a 47,160a
Panjang stomata (μm) 0,336a 0,340a 0,346a 0.352a 0,354a
Jumlah stomata 33,960a 34,480a 34,440a 34,720a 36,280a
Jumlah Klorofil Total(μmol) 16,659a 16,339a 18,894a 16,836a 15,882a
Jumlah Karotenoid(μmol) 0,165a 0,161a 0,170a 0,165a 0,140a
Laju Respirasi (ppmCO2/L/menit) 13,80ab 16,20bc 21,05d 11,80a 18,60cd
Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang sama pada satu baris berarti tidak ada beda nyata pada DMRT taraf 5%.
KRISTANTI dkk. – Fermentasi nira tebu untuk pembuatan minuman probiotik 5
0
20
40
60
80
100
120
140
0 1 2 3 4 5
Bulan Ke-
Pertambahan Tinggi Tanaman (cm)
200 ppm
150 ppm
100 ppm
50ppm
0 ppm
0
5
10
15
20
25
30
0 1 2 3 4 5
Bulan ke-
Pertambahan Jumlaah Daun
200 ppm
150 ppm
100 ppm
50 ppm
0 ppm
Gambar 1. Pertambahan tinggi tanaman (cm) M.
arundinacea dengan perlakuan GA3 (0, 50, 100, 150, 200)
ppm dari bulan ke-1 sampai ke-4.
Gambar 2. Pertambahan jumlah daun tanaman M.
arundinacea dengan perlakuan GA3 (0, 50, 100, 150, 200)
ppm pada bulan ke-1 sampai ke-4.
peningkatan tinggi tanaman ini disebabkan oleh:
pertama, pembelahan sel dipacu di ujung tajuk,
terutama pada sel meristematik yang terletak di
bawah yang menumbuhkan jalur panjang sel
kortek dan sel empulur. Kedua, GA3 memacu
pertumbuhan sel karena hormon tersebut
berperan dalam meningkatkan hidrolisis pati,
fruktan dan sukrosa menjadi molekul glukosa
dan fruktosa; serta yang ketiga, GA3
mempengaruhi peningkatan plastisitas dinding
sel (Salisbury dan Ross, 1995c). Sauter dan Kende
(1992); Sauter et al. (1993) dan Van der Knaap et
al. (1997) menyatakan bahwa pemanjangan
batang biasa terjadi pada daerah internodus
karena GA3 mempengaruhi pemanjangan batang
pada daerah meristem interkalar.
Jumlah Daun Dan Luas Daun
Hasil analisis varian menunjukkan bahwa
GA3 berpengaruh nyata terhadap jumlah daun
dan tidak berpengaruh terhadap luas daun. Data
pengaruh GA3 terhadap rerata jumlah daun dan
luas daun tanaman M. arundinacea dapat dilihat
pada tabel 1. Pengamatan jumlah daun
dilakukan setiap satu bulan sekali selama 4
bulan. Jumlah daun terus meningkat seiring
dengan umur tanaman. Hasil pengamatan tersaji
pada gambar 2.
Jumlah daun terbanyak dihasilkan pada
tanaman kontrol kemudian mengalami
penurunan pada perlakuan GA3 dengan
konsentrasi 50 dan 100 ppm. Pada konsentrasi
150 ppm jumlah daun mengalami kenaikan
tetapi pada konsentrasi 200 ppm mengalami
penurunan kembali. Hal ini diduga karena
adanya perbedaan jumlah daun anakan yang
turut mempengaruhi jumlah daun keseluruhan.
Adanya peristiwa pengguguran daun-daun yang
sudah tua juga akan mempengaruhi jumlah daun
keseluruhan.
Berdasarkan data luas daun, masing-masing
perlakuan menunjukkan nilai yang hampir sama.
Hasil ini sejalan dengan penelitian Khristyana
dkk. (2004) bahwa perlakuan GA3 tidak
berpengaruh terhadap luas daun tanaman
Plantago major. Andjarikmawati (2004) dan
Afriana (2004) juga mengemukakan bahwa
perlakuan GA3 tidak berpengaruh terhadap luas
daun tanaman Punica granatum dan Allium
ascalonicum. Cahyuningdari (2002) menyatakan
bahwa luas daun Ipomoea batatas dipengaruhi
oleh ketersediaan air. Luas daun semakin
meningkat dengan meningkatnya ketersediaan
air yaitu ½ dari air normal. Nilai luas daun selain
dipengaruhi giberelin juga dipengaruhi oleh
faktor genetik yang berperan dalam menentukan
jumlah dan ukuran daun (Gardner dkk., 1991).
Jumlah Anakan
Hasil analisis varian terhadap jumlah anakan
menunjukan tidak beda nyata yang disebabkan
perlakuan. Data rerata jumlah anakan tanaman
M. arundinacea setelah diberi perlakuan GA3
tersaji pada tabel 1.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian
Sudiarso dkk. (1998) bahwa perlakuan
perendaman dengan GA3 tidak memberikan
pengaruh pada jumlah anakan tanaman sedap
malam (Polianthes tuberosa L.). Jumlah anakan
tanaman M. arundinacea dihitung satu bulan
sekali selama 4 bulan. Jumlah anakan terus
meningkat, dari bulan ke-1 sampai ke-4. Hal ini
menunjukkan bahwa tanaman sedang dalam
masa aktif pertumbuhan. Pertambahan jumlah
anakan dari bulan ke-1 sampai ke-4 dapat dilihat
pada gambar 3.
6 Bioteknologi 5 (1): 1-10, Mei 2008
0 1 2 3 4 5 6
0 1 2 3 4 5
Bulan ke-
Pertambahan Jumlah
Anakan
200 ppm
150 ppm
100 ppm
50 ppm
0 ppm
0
5
10
15
20
25
30
0 2 4 6
L a j
u
R e s
p i
ra s i
(CO 2/L /
m e
n i
t)
Bulan ke-
200
ppm
150
ppm
100
ppm
50
ppm
Gambar 3. Pertambahan jumlah anakan tanaman M.
arundinacea dengan perlakuan GA3 (0, 50,100, 150, 200)
ppm dari bulan ke-1 sampai ke-4.
Gambar 5. Perubahan laju respirasi (ppm
CO2/L/menit) tanaman M. arundinacea dengan
perlakuan GA3 (0, 50, 100, 150, 200) ppm dari bulan ke-
1 sampai ke-4.
Berat Basah dan Berat Kering
Hasil analisis varian terhadap berat basah dan
berat kering tanaman M. arundinacea
menunjukkan adanya beda nyata yang
disebabkan oleh perlakuan. Data rerata berat
basah dan berat kering tanaman M.arundinacea
setelah diberi perlakuan GA3 dapat dilihat pada
tabel 1.
Pada berat basah perlakuan GA3 dengan
konsentrasi 50 ppm memberikan hasil yang
berbeda nyata terhadap kontrol. Berat basah
tertinggi dicapai pada perlakuan GA3 dengan
konsentrasi 50 ppm, dan berat basah terendah
pada konsentrasi 200 ppm. Hasil ini sesuai
dengan penelitian Widiastuti dkk. (1993) bahwa
penyemprotan GA3 dengan konsentrasi 50 ppm
pada Phyllanthus niruri dapat meningkatkan hasil
herba yang tertinggi. Salisbury dan Ross (1995c)
serta Sitompul dan Guritno (1995) menyatakan
bahwa berat basah tanaman dapat menunjukkan
aktivitas metabolisme tanaman dan nilai berat
basah tanaman dipengaruhi oleh kandungan air
jaringan, unsur hara dan hasil metabolisme.
Khrisnamoorthy (1975) mengemukakan bahwa
giberelin mampu meningkatkan ukuran sel
(pembesaran sel) dan peningkatan jumlah sel
(pembelahan sel). Peningkatan ukuran dan
jumlah sel pada akhirnya akan meningkatkan
berat tanaman.
Produksi tanaman biasanya lebih akurat
dinyatakan dengan ukuran berat kering daripada
dengan berat basah, karena berat basah sangat
dipengaruhi oleh kondisi kelembaban (Sitompul
dan Guritno, 1995). Hasil berat kering
merupakan keseimbangan antara fotosintesis
dan respirasi. Fotosintesis mengakibatkan
peningkatan berat kering tanaman karena
pengambilan CO2 sedangkan respirasi
mengakibatkan penurunan berat kering karena
pengeluaran CO2 (Gardner dkk.,1991).
Perlakuan GA3 dengan konsentrasi 50 ppm
menunjukkan adanya beda nyata dengan
perlakuan GA3 pada konsentrasi 100, 150 dan 200
ppm. Dari penelitian ini berat kering tertinggi
dicapai pada konsentrasi 50 ppm. Hasil ini sesuai
dengan nilai tinggi tanaman dan berat basah
tanaman yang juga menunjukkan nilai tertinggi
pada konsentrasi 50 ppm. Adanya peningkatan
tinggi dan luas daun diikuti juga oleh
peningkatan berat basah dan berat kering
tanaman.
Perlakuan GA3 dengan konsentrasi di atas 50
ppm menghasilkan nilai yang lebih rendah dari
kontrol. Peristiwa ini menunjukan efek
kejenuhan tanaman terhadap hormon. Salisbury
dan Ross (1995b) mengemukakan bahwa pada
saat konsentrasi hormon yang diberikan terus
meningkat, pertumbuhan mulai menurun karena
hormon menjadi bersifat menghambat. Menurut
Taiz dan Zeiger (1998) pemberian asam giberelat
yang tinggi menyebabkan penurunan transkripsi
GA20 oksidase yang merupakan target utama
dalam pengaturan umpan balik. Apabila
transkripsi GA20 oksidase menurun maka terjadi
pengeblokan biosintesis GA3 sehingga aktivitas
asam giberelat menurun. Ketika aktivitas asam
giberelat menurun diduga akan tejadi penurunan
pada pembelahan dan pertumbuhan sel serta
sintesis protein. Penurunan ini akan
mengakibatkan penurunan berat basah dan berat
kering tanaman secara keseluruhan.
Panjang dan Jumlah Stomata
Hasil analisis varian terhadap panjang dan
jumlah stomata menunjukkan tidak ada beda
nyata yang disebabkan oleh perlakuan. MasingKRISTANTI
dkk. – Fermentasi nira tebu untuk pembuatan minuman probiotik 7
masing perlakuan menunjukkan nilai yang
hampir sama. Data panjang dan jumlah stomata
M. arundinacea setelah diberi perlakuan GA3
disajikan pada tabel 1.
Berdasarkan data yang diperoleh diketahui
bahwa perlakuan GA3 tidak mempengaruhi
panjang dan jumlah stomata yang terbentuk. Hal
ini sesuai dengan pendapat Salisbury dan Ross
(1995a) bahwa hormon sitokinin, dapat
menyebabkan pembukaan stomata dan asam
absisat (ABA) dapat menyebabkan penutupan
stomata, namun kedua hormon tersebut tidak
berpengaruh pada jumlah dan ukuran stomata
yang terbentuk. Kerapatan stomata sangat
tergantung pada konsentrasi CO2 yaitu apabila
CO2 naik maka jumlah stomata per satuan luas
menjadi lebih sedikit dan proses ini memerlukan
waktu lama.
Stomata tanaman M. arundinacea bertipe
parasitik yaitu setiap sel penutup diiringi sebuah
sel tetangga/lebih dengan sumbu panjang sel
tetangga sejajar dengan sumbu sel penutup serta
celah (Hidayat, 2001). Stomata tanaman M.
arundinacea tersaji pada gambar 4.
Gambar 4. Stomata tanaman garut (M. arundinacea L.)
dengan perbesaraan 400 kali. Celah stomata, b. Sel
penutup, c. Sel tetangga, d. Sel epidermis
Jumlah Klorofil Total dan Karotenoid
Hasil analisis varian menunjukkan bahwa
GA3 tidak berpengaruh pada pembentukan
klorofil dan karotenoid. Data rerata jumlah
klorofil total dan karotenoid tanaman M.
arundinacea setelah diberi perlakuan GA3
disajikan pada tabel 1.
Meskipun hasil analisis tidak menunjukkan
beda nyata, namun dapat dilihat bahwa jumlah
karotenoid seimbang dengan jumlah klorofil.
Ketika jumlah klorofil tinggi maka jumlah
karotenoid juga tinggi dan sebaliknya. Hal ini
terlihat pada perlakuan GA3 dengan konsentrasi
100 ppm dan 200 ppm. Menurut Bidwell (1979)
pemberian hormon giberelin secara eksogen
dapat meningkatan aktivitas enzim nitrat
reduktase. Nitrat reduktase berfungsi mengubah
nitrat menjadi amoniak yang selanjutnya dapat
berubah menjadi amonium dengan adanya
proton. Amonium bergabung dengan glutamat
melalui jalur GS-GOGAT (glutamin
sintetase/glutamat sintase dan glutamat
oksoglutarat aminotransferase). Kemudian
glutamat akan berubah menjadi glutamin oleh
glutamin sintase. Glutamin kemudian berikatan
dengan α-ketoglutarat dengan bantuan glutamat
sintase berubah menjadi glutamat. Glutamat
akan menghasilkan prolin, arginin dan δ-
aminolevulinat. δ-aminolevulinat merupakan
senyawa antara dalam pembentukan klorofil
(Salisbury dan Ross, 1995b; Loveless, 1991).
Susanto (2004) mengemukakan bahwa jumlah
klorofil total dipengaruhi oleh logam krom (Cr).
Pemberian logam Cr yang semakin meningkat
mampu menurunkan jumlah klorofil total tetapi
tidak mempengaruhi jumlah karotenoid pada
tanaman Brasica juncea. Cahyanti (2004)
menambahkan, bahwa jumlah klorofil total
dipengaruhi oleh senyawa kimia yang dihasilkan
oleh tanaman lain. Jumlah klorofil total tanaman
Portulaca oleracea mengalami penurunan setelah
pemberian ekstrak akar Acalypha indica dengan
konsentrasi 1000 ppm.
Laju Respirasi
Selain melakukan proses fotosintesis tanaman
juga melakukan proses respirasi. Respirasi
merupakan proses pembongkaran energi dari
energi kimia yang tersimpan untuk
menyelenggarakan proses-proses kehidupan
(Dwidjoseputro, 1994). Hasil analisis varian
tehadap laju respirasi tanaman M. arundinacea
menunjukkan adanya beda nyata yang
disebabkan oleh perlakuan. Data rerata laju
respirasi M. arundinacea setelah diberi perlakuan
GA3 disajikan pada tabel 1.
Berdasar data yang diperoleh dalam
penelitian ini, laju respirasi tertinggi dicapai
pada perlakuan GA3 dengan konsentrasi 100
ppm, sedangkan laju respirasi terendah pada
perlakuan GA3 dengan konsentrasi 150 ppm.
Nilai laju respirasi terlihat fluktuatif pada
masing-masing konsentrasi. Hal ini diduga
adanya perbedaan pembagian hasil fotosintesis
untuk respirasi. Pada perlakuan GA3 dengan
konsentrasi 150 ppm, hasil fotosintesis diduga
a
d b
c
8 Bioteknologi 5 (1): 1-10, Mei 2008
lebih diarahkan pada pembentukan anakan
sehingga jumlah anakan yang terbentuk paling
tinggi dan laju respirasinya rendah. Pada
perlakuan GA3 dengan konsentrasi 100 ppm hasil
fotosintesisnya diduga lebih banyak
dimanfaatkan untuk respirasi sehingga jumlah
anakan yang terbentuk sedikit
Pengukuran laju respirasi dilakukan tiap satu
bulan sekali selama 4 bulan. Laju respirasi pada
tiap bulan menunjukkan nilai yang fluktuatif dan
laju respirasi terendah terjadi pada bulan ke-2.
Data perubahan laju respirasi tanaman M.
arundinacea dengan perlakuan GA3 dari bulan ke-
1 sampai ke-4 dapat diamati pada gambar 5.
Laju respirasi tanaman M. arundinacea pada
setiap perlakuan kemungkinan dipengaruhi oleh
faktor dari tanaman sendiri dan faktor
lingkungan. Faktor dari dalam berhubungan
dengan umur tanaman yang menyebabkan
perbedaan struktur perkembangan dan
kebutuhan energi. Faktor lingkungan meliputi
suhu, kadar CO2 dan O2, cahaya, perlakuan dan
pengaruh mekanik. Respirasi tetap tinggi selama
fase vegetatif dan mengalami penurunan pada
fase generatif. Cahaya dapat meningkatkan
fotosintesis sehingga dihasilkan fotosintat yang
banyak sebagai substrat respirasi. Cahaya juga
mampu meningkatkan suhu yang mampu
mendukung respirasi, tetapi suhu yang terlalu
tinggi dapat menyebabkan inaktifnya enzimenzim
sehingga menghambat respirasi.
Pengukuran respirasi melibatkan gerakan
mekanis penggoyangan tanaman yang dapat
meningkatkan respirasi (Dwidjoseputro, 1994).
Dari keseluruhan data hasil penelitian
diketahui bahwa perlakuan asam giberelat (GA3)
memberikan pengaruh yang berbeda nyata
terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, berat
basah, berat kering dan laju respirasi. Perlakuan
GA3 tidak berpengaruh nyata terhadap luas
daun, jumlah anakan, jumlah dan panjang
stomata serta jumlah klorofil dan karotenoid.
Asam giberelat dapat mendukung pembentukan
RNA baru serta sintesis protein (Abidin,
1994). Adanya peningkatan sintesis protein
diduga akan mempengaruhi pembentukan
klorofil karena salah satu komponen klorofil
adalah protein. Menurut Sugito (1994)
kandungan klorofil akan mempengaruhi proses
fotosintesis tanaman, semakin tinggi kandungan
klorofil dan tersedianya air akan memacu
fotosintesis. Menurut Salisbury dan Ross (1995c)
hasil fotosintesis tanaman digunakan dalam
beberapa kebutuhan yaitu cadangan makanan,
respirasi dan pertumbuhan. Ketika respirasi
meningkat maka akan terjadi pengurangan pada
penimbunan cadangan makanan karena terjadi
persaingan dalam mendapatkan fruktosa 1, 6-
bifosfat dalam sitosol. Menurut Sugito (1994)
penggunaan hasil fotosintesis pada satu proses
akan mengurangi penggunaan pada proses yang
lain dan dipengaruhi oleh suhu. Ketika suhu
malam terlalu tinggi akan menyebabkan
peningkatan respirasi yang mengakibatkan
peningkatan pembongkaran hasil fotosintesis,
akibatnya hasil fotosintesis yang digunakan
untuk pertumbuhan dan cadangan makanan
menurun. Adanya peristiwa fotorespirasi juga
mengakibatkan pengurangan hasil fotosintesis.
Ketika laju fotosintesis dan laju respirasi
seimbang akan menyebabkan tidak adanya hasil
fotosintesis yang digunakan untuk pertumbuhan
dan cadangan makanan.
Dalam penelitian ini terbukti bahwa asam
giberelat (GA3) dapat meningkatkan pertumbuhan
tanaman garut (M. arundinacea) yang
ditunjukkan oleh variabel tinggi tanaman, luas
daun, berat basah dan berat kering. Perlakuan
asam giberelat (GA3) dengan konsentrasi 50 ppm
menghasilkan laju respirasi yang mampu mendukung
pertumbuhan tanaman garut sehingga
dicapai pertumbuhan tanaman tertinggi.
KESIMPULAN
Perlakuan asam giberelat (GA3) dengan
konsentrasi 50 ppm menghasilkan pertumbuhan
tanaman yang tertinggi yang ditunjukkan oleh
variabel tinggi tanaman, berat basah dan berat
kering tanaman garut. Konsentrasi asam
giberelat (GA3) yang semakin tinggi (100, 150,
200) ppm mengakibatkan penurunan
pertumbuhan tanaman garut (M. arundinacea).
Perlakuan asam giberelat (GA3) tidak
berpengaruh terhadap kandungan klorofil.
Perlakuan asam giberelat (GA3) dengan
konsentrasi 100 ppm menghasilkan laju respirasi
tertinggi tanaman garut (M. arundinacea) yaitu
sebesar 21,05 ppm CO2/L/menit.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z. 1994. Dasar-Dasar Pengetahuan Tentang Zat
Pengatur Tumbuh. Penerbit Angkasa. Bandung.
Afriana, N. I. 2005. Pengaruh Pogesan Dan Konsentrasi GA3
Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Bawang
Merah (Allium ascolonicum L.). Skripsi. Program Studi
Agronomi. Fakultas Pertanian. UNS. Surakarta.
Andjarikmawati, D. W. 2004. Perkecambahan, Pertumbuhan
Dan Struktur Anatomi Batang delima Putih (Punica
KRISTANTI dkk. – Fermentasi nira tebu untuk pembuatan minuman probiotik 9
granatum L.) Dengan Perlakuan Asam Indol Asetat Dan
Asam Giberelat. Skripsi. Jurusan Biologi. FMIPA. UNS.
Surakarta.
Arfian, M. dan Wijonarko, A. 2000. Kondisi dan Tantangan
Ke Depan Sub Sektor Tanaman Pangan di Indonesia.
Proceeding of The Fourth Symposium on Agri-Bioche. 5
Maret. Chiba. Jepang. 251-247.
Bidwell, R.G. S. 1979. Plant Physiology. 2Nd . Mc Milan Pub.
Co. inc. New York.
Cahyanti, I. D. 2004. Pengaruh Ekstrak Anting Anting
(Acalypha indica Linn.) Terhadap Pertumbuhan, Kadar
Klorofil Dan Nitrogen Total Gulma Krokot (Portulaca
oleracea Linn.). Skripsi. Jurusan Biologi. FMIPA. UNS.
Surakarta.
Cahyuningdari, D. 2002. Pengaruh Ketersediaan Air Dan
Pemberian Mulsa Serbuk Sabut Kelapa Pada
Pertumbuhan Dan Kandungan Gula Reduksi Ubi Jalar
(Ipomoea batatas Lamk.). Skripsi. Jurusan Biologi.
FMIPA. UNS. Surakarta.
Damanhuri. 1998. Teknologi Budidaya Tanaman Garut.
Disampaikan pada Semiloka Pengembangan Tanaman
Garut Sebagai Sumber Bahan Baku Alternatif Industri
Pangan. 27-28 Agustus. Universitas Brawijaya. Malang.
Davies, P. J. 1995. Plant Hormones, Physiology Biochemistry
and Molecular Biology. Kluwer Publishig. Dordrest.
Fukazawa, J., Sakai, T., Ishida, S., Yamaguci, I., Kamijaya, Y.
and Takahashi, Y. 2000. Respiration of Shoot Growth, a
bZIP Transcriptional Activator Regulates Cell Elongation
by Controlling The Level of Gibberellins. Plant Cell.
12(6):901-916.
Gardner, F. P., Pearce, R. B. and Mitchell, R. L. 1991. Fisiologi
Tanaman Budidaya (Diterjemahkan oleh: Herawati
Susilo). Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Hidayat, E. B. 2001. Anatomi Tumbuhan Berbiji. ITB Press.
Bandung.
Husodo, S. Y. 2003. Membangun Kemandirian Di Bidang
Pangan: Suatu Kebutuhan Bagi Indonesia. Artikel
Disampaikan Pada Seminar Kemandirian Ekonomi
Nasional. 22 November 2002. Jakarta.
Khrisnamoorthy, H. N. 1975. Gibberellin and Plant Growth.
John Willey and Sons. New York.
Khristyana, L., Anggarwulan, E., Marsusi. 2004.
Pertumbuhan, Kadar Saponin, Nitrogen Jaringan dan
Aktivitas Nitrat Reduktase Tanaman Daun Sendok
(Plantago mayor L.) Pada Pemberian Asam Giberelat
(GA3). Biofarmasi. 3 (1): 11-15
Kumalaningsih, S. 1998. Aspek Pengembangan Produk
Olahan Dari Bahan Baku Garut (Maranta arundinacea L.).
Disampaikan Dalam Semiloka Pengembangan Tanaman
Garut Sebagai Bahan Baku Alternatif Industri Pangan. 27-
28 Aguatus 1998. Universitas Brawijaya. Malang.
Kumar, C. G. 2003. Arrowroot (Maranta arundinacea L.)
Starch as a New Low Cost Substrat for Alkaline Protease
Production. World Journal of Microbiology and
Biotechnology. 19(7):757-762.
Pribadi, E. R. dan Sudiarto. 2002. Tepung Garut Alternatif
Sumber Karbohidrat Serbaguna. Warta Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. 24(6): 1
Pujiyanto, D. 2004. Garut (Maranta arundinacea L.)
Berpotensi Tinggi Namun Belum Tergali. Warta Kehati.
26(VII): 16-17.
Rosseto, M. R. B., Lajolo, F. M. and Cordenunsi, B. R. 2004.
Influence of Gibberellic Acid in The Starch Breakdown
During Banana Ripening. Abstract. Cien Technology
Aliment. 24(1): 76-81.
Salisbury, F. B and Ross, C. W. 1995a. Fisiologi Tumbuhan.
Jilid 1. (Diterjemahkan oleh : Diah R, Lukman dan
Sumaryono). Penerbit ITB. Bandung
Salisbury, F. B and Ross, C. W. 1995b. Fisiologi Tumbuhan.
Jilid 2. (Diterjemahkan oleh : Diah R, Lukman dan
Sumaryono). Penerbit ITB. Bandung
Salisbury, F. B and Ross, C. W. 1995c. Fisiologi Tumbuhan.
Jilid 3. (Diterjemahkan oleh : Diah R, Lukman dan
Sumaryono). Penerbit ITB. Bandung
Sauter, M. and Kende, H. 1992. Gibberellin Induced Growth
and Regulation of The Cell Devision Cycle in Deepwater
Rice. Planta. 188:362-368.
Sauter, M. Seagul, R. W. and Kende, H. 1993. Internodal
Elongation and Orientation of Cellulose Microfibri and
Microtubules in Deepwater Rice. Planta. 190:354-362.
Sitompul, S. M. dan Guritno, B. 1995. Analisa Pertumbuhan
Tanaman. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Sudiarso, Dewani, M. Dan Aini, N. 1998. Pengaruh Zat
Tumbuh Dan Lama Perendaman Umbi Terhadap
Pertumbuhan Tanaman Sedap Malam (Polianthes
tuberosa L.). Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Hayati (Life
Sciences). 10 (2): 21-27.
Sudibyo, P. 1997. Induksi Pembungaan Brokoli (Brassica
olerace var Botrytis L.) Dengan Perlakuan Auksin (NAA)
dan Giberelin (GA3). Skripsi. Fakultas Biologi UGM.
Yogyakarta.
Sugito, Y. 1994. Ekologi Tanaman. Fakultas Pertanian.
Universitas Brawijaya. Malangusanto, L. C. 2004.
Akumulasi Krom (Cr), Pertubuhan dan Kandungan
Klorofil pada Tanaman Sawi Putih (Brassica juncea L.)
dan Sawi Hijau (Brassica chinensis L.). Skripsi. Jurusan
Biologi F MIPA UNS. Surakarta.
Taiz, L. and Zeiger. E. 1998. Plant Physiology. second edition.
Sinauer Associates, Inc., Publisher. Massachusetts.
Usman. 1999. Pengaruh Pemberian Giberelin dan Media
Tanam Terhadap Pertumbuhan Tunas Manggis. Tropika.
7(1):1-9.
Van der Knaap, E., Jagoueix. S and Kende. H. 1997.
Expression of an Ortholog of Replication Protein A1
(RPA1) is Induced by Gibberellin in Deepwater Rice. Proc
Natl. Acad. Sci. U. S. A. 94:9979-9983
Widiastuti, Y., Hutapea, J. R. dan Suhadi. 1993. Usaha
Peningkatan Hasil Biomassa Phyllanthus niruri melalui
Pemberian Asam Giberelat. Warta Tumbuhan Indonesia.
2(4): 11

0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger.....