hai... blogger | Members area : Register | Sign in

ingin blog anda dapat iklan KLIK GAMBAR DIBAWAH INI !!!

Online Job for All. Work from home computer.

Sejarah Pembangunan Ka’bah di Mekah

Hal yang dibahas di bagian ini adalah tahun sebenarnya pembangunan Ka’bah di Mekah, penggalian sumur Zamzam, dan transfer Batu Hitam ke Mekah.
Pernyataan Muhammad bahwa Abraham dan Ishmael membangun Ka’bah di Mekah terbukti salah, terutama jika kita mempelajari asal-usul Batu Hitam (Hajar Aswad), yang merupakan jantung kuil tersebut.
Abraham tidak pernah datang ke Mekah, dan tidak pula Ishmael dan putra Ishmael yakni Nabaioth. Meskipun demikian, biografer Muhammad yakni Ibn Ishaq menyatakan bahwa Abraham bertanggung jawab atas pembangunan kuil Ka’bah di Mekah, dan lalu diurus oleh Ishmael, dan akhirnya oleh Nabaioth. Dongeng karangan Ibn Ishaq dan teman²nya ini mengatakan bahwa setelah Nabaioth, suku Jurhum, yang kata mereka tinggal di Mekah di jaman Abraham, mengambil alih pengurusan Ka’bah di Mekah. Menurut dongeng mereka, suku ini terus mengurus Ka’bah sampai suku Khuzaa’h datang ke Mekah dari Yaman. Hal ini terjadi setelah bendungan di Ma’rib mulai menunjukkan tanda² retak dan memaksa mereka pergi. Dongeng mengisahkan bahwa suku Khuzaa’h datang ke Mekah, dan menaklukkan suku Jurhum. Suku Jurhum kemudian meninggalkan Mekah untuk menyembunyikan Batu Hitam dan dua patung gazel emas. Mereka menyembunyikan barang² tersebut di mata air Zamzam, lalu menutupi mata air, Batu Hitam dan patung² emas dengan tanah agar tidak kelihatan. [171] Tanggal kejadian ini sangatlah penting. Menurut dongeng tersebut, suku Jurhum tinggal di Mekah sampai bendungan Ma’rib retak, dan suku Khuzaa’h meninggalkan Mekah. Kita tahu bahwa kejadian² ini terjadi di tahun 150 M.
[171] Tarikh al-Tabari, I, hal. 524
Keterangan hadis Islam yang tak masuk akal tentang suku Jurhum dan usaha penyembunyian mata air Zamzam dan Batu Hitam.
Pertama, jika kisah tentang suku Jurhum itu benar, maka mengapa para penulis klasik tidak pernah menyebut tentang Mekah dan kuil Ka’bah padahal mereka telah mengunjungi daerah Arabia barat, menyebut semua suku yang tinggal di situ, bahkan yang terkecil sekalipun?
Kedua, setelah dikalahkan, bagaimana mungkin suku Jurhum bisa mengubur dua patung emas gazel dan batu besar hitam yang tadinya terletak di kuil Ka’bah tanpa pengetahuan para penduduk Mekah? Suku apapun yang meninggalkan Mekah sudah tentu akan membawa harta emasnya dan tidak menguburnya di tempat umum, apalagi di satu²nya sumber mata air kota Mekah.
Ketiga, Batu Hitam adalah batu yang besar. Tidaklah mudah untuk membawa batu itu keluar lingkungan Ka’bah. Menurut klaim Islam, perang terjadi untuk menentukan siapakah yang berhak mengurus Ka’bah. Bagaimana mungkin suku Jurhum yang kalah perang ternyata bisa membawa Batu Hitam tanpa dicegah oleh suku Khuzaa’h yang menang perang, atau setidaknya tidak tahu di mana batu itu disembunyikan?
Keempat, jika mata air Zamzam sudah ada di Arabia barat sejak jaman kuno, maka tentunya lokasi mata air itu akan mudah diingat. Air merupakan hal yang amat penting bagi masyarakat Arabia yang hidup di gurun pasir. Hadis Islam mengatakan mata air Zamzam sudah ada sejak jaman Abraham, ketika malaikat Jibril memberi air kepada Hagar dan putranya Ishmael. Jika itu benar, maka tentunya tidak hanya masyarakat Mekah yang tahu akan keberadaan mata air ini, tapi juga berbagai kota di sekitar Mekah. Masyarakat Baduy akan berbondong-bondong datang ke mata air tersebut untuk memberi minum ternak mereka. Penduduk sekitar juga akan sering berkunjung untuk memenuhi kebutuhan air mereka. Sumber mata air tak bisa disembunyikan, meskipun dengan tumpukan pasir sekalipun.
Kisah suku Jurhum menyembunyikan benda² berharda di mata air sekitar abad ke-2 M terus diulang dengan tambahan bahwa Abdul Mutalib, kakek Muhammad, menemukan mata air di akhir abad ke-5 M. Kita bisa menyimpulkan bahwa mata air itu belum ada sebelum jaman Abdul Mutalib, dan masyarakat Mekah menggali pasir di daerah itu sehingga akhirnya menemukan sumber mata air yang sebenarnya merupakan hal yang biasa terjadi di Timur Tengah. Pernyataan Muslim yang mengatakan bahwa mata air Zamzam telah ada di Mekah selama 2.500 tahun sebelum suku Jurhum akhirnya menutupinya selama 300 tahun adalah keterangan yang tak masuk akal, karena semua mata air Arabia lebih penting bagi masyarakat Baduy daripada Laut Merah. Kau mungkin dapat menyembunyikan letak laut dari mata suku² Arabia yang haus, tapi kau tak dapat menyembunyikan mata air dari mereka untuk waktu selama itu.
Keterangan bahwa Batu Hitam disembunyikan selama tiga atau empat abad adalah tak masuk akal. Batu itu dianggap sebagai batu keramat di setiap kuil Ka’bah, karena dianggap mewakili wujud bulan. Ibadah agama Keluarga Bintang Arabia dengan sang dewa bulan Allah sebagai ketuanya berhubungan erat dengan Batu Hitam. Istri Allah yakni Ellat adalah dewi matahari, dan mereka punya putri yakni al-‘Uzza dan Mannat yang mewakili dua buah planet. Umat Muslim percaya bahwa Batu Hitam berasal dari Allah, yang dulu merupakan sang bulan sebelum akhirnya planet Venus mengganti gelar Allah. Tidaklah mungkin bahwa suatu suku bisa menyembunyikan batu besar yang disembah dan dipuja banyak orang. Jika suku Jurhum mengambil batu itu dari Ka’bah, tentunya mereka akan dikejar masyarakat sekitar. Suku Jurhum tak mungkin bisa menyembunyikan batu besar itu di dalam mata air Zamzam, tempat yang dikunjungi masyarakat Mekah setiap hari.
Kisah Batu Hitam (Hajar Aswad) mengandung beberapa hal penting. Batu Hitam itu tak ada di sekitar Mekah sampai kira² akhir abad ke-5 M. Itulah sebabnya mengapa hadis Islam mencoba menutupi hal ini dengan menciptakan dongeng sejarah palsu. Batu Hitam ini merupakan elemen penting untuk setiap kuil Ka’bah di Arabia. Batu ini biasanya didatangkan dari daerah lain, kemungkinan Yaman, di akhir abad ke-5 M.
Asa’d Abu Karb adalah Pembangun Ka’bah yang Sebenarnya di Awal Abad ke-5 M
Dikatakan bahwa sebelum Ka’bah dibangun, orang² Khuzaa’h membangun sebuah tenda di tempat Ka’bah kelak dibangun. [172] Suku Khuzaa’h datang dari Yaman sekitar abad ke-2 M. Di abad ke-4 M, mereka menuju ke tempat di mana Mekah kelak dibangun. Karena mereka tak menemukan kuil untuk ibadah, maka mereka mendirikan tenda untuk beribadah di suatu lapangan.
[172] Al-Azruqi, Akhbar Mecca, 1, hal. 6
Keterangan dari para penulis abad ke-8 M, yang mendengar keterangan dari jaman Muhammad, menyatakan bahwa Ka’bah dibangun di awal abad ke-5 M oleh seorang pagan Himyarit ketua suku Yaman bernama Asa’d Abu Karb. Dia juga dipanggil dengan nama Abu Karb Asa’d, dan berkuasa atas Yaman di tahun 410-435 M. [173]
[173] A. Jamme, W.F., Sabaean Inscriptions from Mahram Bilqis (Ma’rib), the Johns Hopkins Press, Baltimore, 1962, Volume III, hal. 387; tulisan diberi nomer oleh G. Ryckmans, G. Ryckmans, Le Museon 66 (1953), hal. 363-7, p1.V; dikutip oleh K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I, Liverpool University Press, 1994, hal. 219
Image
Contoh prasasti Sabaian yang menjelaskan sejarah Arabia kuno.
Fakta bahwa sejarawan Islam mengakui Asa’d Abu Karb sebagai pemimpin pertama dalam sejarah yang menyelubungi Ka’bah merupakan petunjuk penting bahwa dialah pembangun Ka’bah yang sebenarnya. [174] Menyelubungi kuil Ka’bah dengan gorden/kiswah merupakan tahap kedua terpenting setelah selesai membangun kuilnya. Tahap ini mencakup menghias bagian dalam tembok, menempatkan karpet di lantai dan tembok, dan menambah perhiasan di berbagai bagian dalam kuil. (Masyarakat Arab tak akan beribadah di kuil yang tak dihiasi dan diselubungi gorden.). Asa’d Abu Karb menyuruh Amir dari Azed untuk membangun bagian dalam Ka’bah. [175] (Azed adalah suku yang datang dari Yaman bersamaan dengan kedatangan suku Khazaa’h.) Asa’d Abu Karb tentunya membangun Ka’bah di tempat yang sama di mana tenda ibadah didirikan oleh suku Khuzaa’h.
[174] Al-Azruqi, Akhbar Mecca, 1:173; Yaqut al-Hamawi, Mujam al-Buldan, 4:463
[175] Ibn Saad, Tabakat, 1, hal. 64
Asa’d Abu Karb, yang juga disebut Tubb’a, menduduki kota Yathrib sebelum datang ke Mekah. [176] Tampaknya dia menemukan banyak kuil di Yathrib, tapi ketika dia tiba di Mekah, dia tak menemukan kuil apapun. Karena penduduk Mekah adalah para pendatang baru dari Yaman, maka Asa’d Abu Karb membangun bagi mereka kuil sederhana bergaya Yaman. Dia mendirikan kuil ini agar terjadi hubungan baik antara penduduk Mekah dan dirinya. Dia juga menulis syair tentang matahari terbenam dalam kolam lumpur, dan hal ini juga disebut Muhammad dalam Qur’an.
[176] Ibn Hisham 1, hal. 20
Bagian Tambahan Lain Dibangun oleh Suku Quraysh pada Ka’bah
Suku Quraysh, yakni suku asli Muhammad, lalu menguasai kota Mekah. Mereka mendapatkan batu hitam dari Yaman, sehingga kuil mereka tampak seperti Ka’bah² lainnya, yang sesuai dengan agama Keluarga Bintang Arabia, yang ibadahnya dilakukan di sekitar batu hitam. Agama Keluarga Bintang dimulai di Yaman, tempat asal suku Quraysh sebelum pindah ke Mekah. Ka’bah pertama yang dibangun Asa’d Abu Karb beratap kayu. Tapi atap kayu ini lalu terbakar, sehingga mereka menggunakan kayu yang dibawa perahu Byzantium, yang berhenti di pantai Laut Merah yakni “al-Shaebieth.” Pemilik perahi adalah orang Mesir Koptik bernama Bachum. Dia menjual kayu itu pada mereka dan lalu kayu dibuat menjadi atap Ka’bah. [177] Kemudian, tatkala Muhammad masih muda, hiasan² dan bagian² lain ditambahkan pada Ka’bah. [178]
[177] Halabieh 1, hal. 235; Ibn Hisham I, page 157; al-Azruqi, Akhbar Mecca I, hal. 104
[178] Tarikh al-Tabari, I, hal. 526
Fakta pembangunan kuil Mekah seharusnya membuat umat Muslim mempertanyakan keterangan Ibn Ishaq dan teman²nya tentang kota itu, dan juga keterangan Muhammad di Qur’an bahwa Ka’bah dibangun oleh Abraham dan Ishmael.
Masyarakat Yaman Membangun Kuil Ka’bah di Mekah
Suku Khuzaa’h dari Yaman membangun kota Mekah di abad ke-4 M. Ibadah agama pagan Yaman telah meninggalkan sidik jari di berbagai kuil Ka’bah, dan menunjukkan bahwa pembangunnya sudah jelas bukan Abraham dan Ishmael.
Kita akan membahas mengapa berbagai tatacara dan kebiasaan ibadah Yaman tampak jelas di Ka’bah di Mekah. Perkataan dan kebiasaan Muhammad disebut Hadis. Koleksi buku hadis dari “Muslim Sahih” dan “Bukhari Sahih” dianggap mengandung perkataan Muhammad. Di dalam buku² tersebut dapat kita baca kebiasaan Muhammad memeluk dan mencium dua batu, yakni “Rukun Yamani” dan “Batu Hitam.” Ibn Abbas, saudara sepupu Muhammad dan pelapor hadis, mengatakan bahwa Muhammad seringkali memeluk dua Rukun² Yamani. Yang dimaksud dengan “Rukun² Yamani” adalah Batu Hitam dan batu lain lagi yang disebut Rukun. [179] Dari keterangan ini kita ketahui bahwa Ka’bah mengandung dua benda keramat yang disebut Rukun. Kedua batu ini ditempelkan di Ka’bah dan disebut sebagai “Yamani” sehingga bisa diketahui bahwa batu² tersebut berasal dari Yaman. Hal ini juga memperkuat keterangan bahwa Ka’bah dibangun oleh pemimpin Yaman yakni Asa’d Abu Karb, sesuai dengan tata cara ibadah Yaman, terutama ibadah agama Keluarga Bintang Arabia. Allah adalah kepalanya, dan Ellat sang matahari adalah istrinya, dan kedua putri mereka adalah al-‘Uzza dan Manat.
[179] Sahih Muslim 9, hal.15
Image
Sudut tembok “Rukun/Sudut Yamani” terletak di sebelah kiri bawah Ka’bah pada gambar di atas.
RukunYemeni.jpg
RukunYemeni.jpg (70 KiB) Viewed 43 times
Muslim sibuk memeluk dan menciumi batu “Rukun Yamani” di sudut Ka’bah. Ternyata bukan batu Hajar Aswad saja yang diciumi Muslim, tapi batu Rukun/Sudut Yamani juga. Memang begitulah kecenderungan umat pencium dan pemuja batu. Begitu ketemu batu… weleehh… tahu aja sendiri.
RukunYemeni1.jpg
RukunYemeni1.jpg (24 KiB) Viewed 43 times
Sudut batu “Rukun Yamani” di dinding Ka’bah.
Tampaknya Batu Hitam dibawa dari Yaman di jaman Abdul Mutalib, kakek Muhammad. Hadis Islam menyatakan batu itu dan mata air Zamzam hilang selama berabad-abad sebelum jaman Muhammad. Aku telah jelaskan bahwa keterangan ini tidak masuk akal. Fakta menunjukkan bahwa Muhammad dan hadis Islam berusaha keras menghubungkan ibadah pagan Yaman dari kakek moyang Muhammad dengan Abraham dan Ishmael, meskipun fakta sejarah bertentangan akan hal itu. Mari kita telaah hal ini.
Pertama, kota Mekah dibangun setelah abad ke-4 M. Abu Karb Asa’d adalah pembangun pertama Ka’bah, di saat dia berkuasa di Yaman pada tahun 410-435 M. Kedua Rukun, yakni batu keramat di Ka’bah, berasal dari Yaman. Batu Hitam pertama kali muncul di Mekah di jaman kakek Muhammad, yakni sekitar 495-520 M. Meskipun hadis Islam menyebutkan hal ini, tapi Muslim tetap saja menciptakan dongeng untuk menutupi celah sejarah.
Hal penting yang membuktikan orang² Yamanlah yang mendirikan Ka’bah di Mekah dan juga tahun pembuatannya terdapat di kerajaan Himyarit di Yaman. Abu Karb Asa’d, raja Himyarit, mencoba memperluas kekuasaannya sampai ke Arabia barat tengah guna menguasai rute dagang rempah² dari Yaman ke Arabia Utara, dan lalu ke daerah Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent). Abu Karb Asa’d atau Tubb’a menguasai kota² Arabia barat tengah di awal abad ke-5 M, termasuk kota Mekah dan Yahtrib (kelak bernama Medina). Sang Penguasa Yaman ini ingin menyatukan berbagai kota tersebut ke dalam kerajaannya dengan memperkuat ibadah agama Yaman yang sebenarnya telah dianut masyarakat Mekah yang juga berasal dari Yaman. Kota Yathrib dibangun oleh dua suku Yaman, yakni Aws dan Khazraj. Kedua suku ini meninggalkan Yaman ketika bendungan di situ retak pada tahun 150 M, dan mereka lalu menetap di Yathrib, yang telah lama dihuni suku² Yahudi yakni Bani Qurayza dan An-Nadr. Abu Karb Asa’d berasal dari Yaman. Dia membangun Ka’bah di Mekah untuk memperkuat kedudukannya di kota itu, dan untuk menyenangkan hati masyarakat Mekah yang sebelumnya tak punya kuil tempat ibadah. Sama seperti Abu Karb Asa’d, mereka pun beragama pagan Yamani.
Image
Daerah hijau adalah daerah Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent).
Ajaran Tubb’a tentang dongeng pagan Yaman dan Yahudi dan pengaruhnya pada masyarakat Arabia di Arabia barat tengah, dan akhirnya pada Muhammad.
Tubb’a juga mencoba membangun hubungan dengan masyarakat Yahudi di Yathrib. Dia mempelajari pemikiran dan ibadah agama mereka. Selain itu dia juga mempelajari dongeng² Yahudi, misalnya tentang burung hupu yang mengumumkan tentang kerajaan Saba pada Salomo. Dongeng ini datang dari buku dongeng Yahudi berjudul Targum Kedua Esther (Second Targum of Esther). Muhammad menyampaikan dongeng ini di dalam Qur’an.
Agar usahanya berhasil, Tubb’a membawa dua rabi Yahudi ke Yaman. [180] Mereka mengajarkan padanya tentang berbagai ibadah agama Yahudi beserta dongeng² masyarakat Yahudi, sehingga Tubb’a mampu mencampurkannya ke dalam agama pagan Yaman. Contohnya, dia menggabungkan ibadah Bintang Arabia dengan dongeng² Yahudi. Dengan pengetahuan campur aduk ini, dia berharap bisa mengontrol berbagai daerah Arabia barat tengah, di mana orang² Arabia dan Yahudi tinggal. Dia lalu mengaku sebagai nabi, menguraikan terperinci penjelasan tentang matahari, bumi, dan alam semesta yang dianggap benar oleh masyarakat Yaman. Di Mekah, dalam rangka meyakinkan pendengarnya bahwa dia adalah nabi, Tubb’a mengajarkan bahwa matahari terbenam di kolam berlumpur hitam. [181] Dongeng ini juga dicantumkan ke dalam Qur’an oleh Muhammad.
[180] al-Tabari, I, hal. 426-428; al-Ya’akubi I, hal. 226
[181] Tarikh al-Tabari, I, hal. 429
Setelah Tubb’a wafat, ajarannya diingat dan dikisahkan ulang oleh banyak kelompok masyarakat, bahkan yang terus hidup sampai di jaman Muhammad. Muhammad menganggap Tubb’a sebagai Muslim dan setara nabi. [182] Terdapat banyak dongeng tentang Tubb’a diantara masyarakat Arab. Al-Tabari mengisahkan kemenangannya berperang di China dan Tibet. Hal ini jelas adalah keterangan sejarah yang salah, tapi menunjukkan besarnya pengaruh Tubb’a bagi masyarakat Arabia di jaman Muhammad, sampai² banyak yang menganggapnya sebagai nabi. [183]
[182] Halabieh I, page 280
[183] Tarikh al-Tabari, I, hal. 331, 332, 360
Ka’bah di Mekah dibangun bagi agama Bintang Arabia, dan mengandung semua sifat Ka’bah² lainnya yang dibangun bagi ibadah agama itu.
Kenyataan bahwa kuil Ka’bah di Mekah dibangun sebagai kuil untuk ibadah agama Bintang Arabia tampak dalam berbagai hal. Pertama, bentuknya sama persis seperti berbagai Ka’bah di Arabia. Ka’bah² ini merupakan kuil² agama Keluarga Bintang Arabia, di mana Allah dianggap sebagai ketuanya, dan Ellat sebagai istrinya. Semua Ka’bah memiliki Batu Hitam sebagai benda yang paling keramat. Batu ini mewakili dewa Bintang Arabia. Banyak dari batu² hitam itu yang sebenarnya adalah batu meteor yang dilihat orang² Arab jatuh dari langit ke bumi. Mereka mengira batu² meteor ini adalah utusan² dari bulan, dan mereka menganggap bulan adalah Allah. Hal ini dipercayai sebelum gelar Allah diberikan kepada Venus, yang menggantikan kedudukan bulan sebagai kepala Keluarga Bintang.
Selain itu, pintu utama Ka’bah Mekah disebut sebagai “pintu jemaat penyembah matahari,” [184] dan matahari adalah istri Allah.
[184] Halabieh I, hal. 236
Muhammad Membenarkan Asal-usul agama Ka’bah adalah dari Yaman.
Peranan agama pagan Yaman dalam pembangunan kuil Ka’bah di Mekah dan ajaran² agamanya pada masyarakat Mekah tak dapat disembunyikan. Bahkan Muhammad sendiri mengakui dalam beberapa hadis bahwa asal-usul sistem agama Mekah adalah Yaman. Contohnya di hadis al-Bukhari di mana Muhammad berkata, “Iman dari orang Yaman, fikih dari orang Yaman, hikmah Yaman.” Di hadis lain dia berkata, “Kepercayaan dan aturan agama dari orang Yaman.” [185] Karena itu, tidak hanya batu² keramat Ruku di Ka’bah yang berasal dari Yaman, tapi juga aturan² agama, doktrin, dan iman juga berasal dari Yaman. Sudah jelas Ka’bah di Mekah dibangun oleh pemimpin Yaman sesuai dengan gaya agama pagan Yaman dan aturan ibadahnya. Dia mendirikan agama Yaman di Mekah, dan agamanya juga dikenal di bagian lain Arabia. Dengan begitu, bagaimana mungkin Abraham bisa membangun Ka’bah, jika catatan sejarah yang kita miliki tentang pembangunan Ka’bah adalah benar? Bagaimana mungkin Batu Hitam bisa berasal dari surga, dan bagaimana caranya Abraham mendapatkannya dan membangun Ka’bah di sekitarnya, jika batu itu tak ada di Mekah sebelum abad ke-5 M? Bagaimana mungkin ajaran agama Muhammad berasal dari Allah melalui malaikat Jibril, padahal asal-usul agamanya adalah dari Yaman?
[185] Al-Bukhari 5, hal. 122; Halabieh I, hal. 259
Ahli Islam terkenal Mesir yakni Tah Hussein mengritik budaya Islam karena menghubungkan kuil Ka’bah di Mekah dengan tokoh2 Abraham dan Ishmael. [186] Tah berkata, “Kasus masalah ini sudah sangat jelas karena Ka’bah adalah bangunan baru yang dibangun sebelum munculnya Islam. Islam memanfaatkannya untuk alasan² agama.” [187]
[186] Kutipan dari Alessandro Bausani, L’Islam, Garzanti Milano, 1980, hal. 208
[187] Kutipan dari Mizan al-Islam oleh Anwar al-Jundi, hal. 170 ; Behind the Veil, hal. 184
Tahun Pembangunan Ka’bah oleh Suku Khuzaa’h
Banyak unsur sejarah yang membantu kita untuk mengetahui kapan tepatnya Mekah dibangun. Salah satu unsur utama adalah kerusakan yang terjadi pada bendungan Ma’rib di Yaman sekitar tahun 150 M. Kerusakan ini menyebabkan berbagai keluarga dan suku Yaman berimigrasi ke utara. Salah satu dari keluarga tersebut adalah keluarga Amru bin Amer, orang Yaman yang keturunannya menghasilkan banyak suku. Salah satu suku tersebut adalah suku Khuzaa’h, yang berdiam di Arabia barat tengah. Kelak mereka membangun kota Mekah.
Dari buku² sejarah Tabari, sejarawan Arabia terkenal, kita ketahui bahwa hal ini terjadi di saat yang sama bangsa Lakhmid pergi dari Yaman ke Mesopotamia. Di saat yang sama, Amru bin Amer, ayah Khuzaa’h, meninggalkan Yaman. [188] Bangsa Lakhmid tiba di daerah Mesopotamia, di kota Hira, pada abad ke-2 SM. Kelak orang² Persia menggunakan mereka untuk menjaga perbatasan Persia dan Kekaisaran Byzantium, yang sedang menguasai Syria. Raja Lakhmid pertama adalah Amr I bin Adi, yang berkuasa di tahun 265-295 M. [189] Hancurnya bendungan Ma’rib mengakibatkan suku² lain seperti Ghassan pergi meninggalkan Yaman dan tinggal di perbatasan Byzantium. [190] Suku² ini masih berhubungan darah satu sama lain karena mereka adalah keturunan Amru bin Amer. [191] Suku Shamar juga meninggalkan Yaman dan lalu tinggal di padang pasir Syria; suku² lain pergi ke Arabia utara dan daerah Bulan Sabit Subur (Fertile Crescent). [190] Suku² Aws dan Khazraj meninggalkan Yaman dan tinggal di Yathrib, yang nantinya dikenal sebagai Medina, di mana suku² Yahudi Bani Qurayza dan An-Nadir telah lama tinggal. Suku Ozd al-Sarat pergi ke al-Sarat dekat Orfeh, tak jauh dari tempat di mana Mekah kelak dibangun. Suku Khuzaa’h tinggal di tempat bernama Mur atau Mur al-Thahran, [192] yang juga tak jauh dari tempat di mana Mekah kelak dibangun. [193]
[188] Tarikh al-Tabari, I, hal. 431 and 360 juga menyebutkan tentang suku² keturunan Maad bin Adnan dari Yaman yang berimigrasi ke daerah Hira di Mesopotamia.
[189] K.A. Kitchen, Documentation For Ancient Arabia, Part I , Liverpool University Press, 1994, hal. 251
[190] James Montgomery, Arabia and the Bible, University of Pennsylvania Press, Philadelphia, 1934, hal. 126; Montgomery juga mengutip Philby, The Heart of Arabia, II, hal. 97
[191] Ibn Hisham I, hal. 12
[192] Ibn Hisham I, hal. 13
[193] Komentar² pada buku Ibn Hisham I, hal. 13
Mekah Dibangun Suku Khuzaa’h sebagai Gardu/Stasiun Terpencil di Jalur Dagang Rempah²
Tiada kota bernama Mekah di daerah itu; jika ada, tentunya suku Khuzaa’h dan Ozd akan menempatinya, sama seperti suku Aws dan Khazraj menempati kota Yathrib. Selama satu setengah abad, suku Khuzaa’h tinggal di daerah dekat Mekah kelak dibangun. Mereka lalu mengambil keputusan untuk membangun gardu/stasiun bagi jalur kafilah di mana para pedagang bisa beristirahat dan melakukan transaksi dagang. Jika Mekah sudah ada sebelum suku Khuzaa’h berimigrasi dari Yaman, tentunya Mekah telah jadi tempat mereka mencari nafkah. Mereka menunggu lebih dari 170-200 tahun sebelum akhirnya membangun kota tersebut, yang menjadi saingan Yathrib sebagai tempat istirahat para kafilah, yang berjarak 200 mil ke utara. Mereka lalu menamakan gardu/stasiun tersebut sebagai Mekah.
Penting untuk diingat bahwasanya tiada suku apapun dari Yaman yang menghuni Mekah. Jika Mekah sudah ada di jaman bendungan Ma’rib hancur (sekitar 150 M), maka tentunya akan banyak suku² Yaman yang tinggal di Mekah, karena letaknya lebih dekat ke Yaman daripada kota Yathrib. Karena daerah Mekah dulu kosong dan terasing, suku² Ozd dan Khuzaa’h tertarik untuk tinggal di situ, meskipun dulu mereka tinggal di kota besar Ma’rib, yang merupakan ibukota Saba. Akhirnya suku Khuzaa’h membangun Mekah pada abad ke-4 M.
Mari kita ulas beberapa fakta historis yang penting. Aku telah menunjukkan bagaimana suku Khuzaa’h dari Yaman mendirikan kota Mekah di abad ke-4 M. Kita juga telah melihat koneksi kuil Ka’bah di Mekah dengan ibadah agama pagan Yaman. Semua ini membuktikan klaim Islam bahwa Abraham dan Ishmael mendirikan Ka’bah di Mekah sungguhlah bertentangan dengan fakta² sejarah. Membangun iman dengan landasan pasir adalah tindakan tak bijaksana. Kepercayaan yang tak memiliki fakta sejarah yang benar tidaklah tepat untuk dijadikan pedoman hidup.


sumber:http://islaminlightofhistory.wordpress.com/2011/03/24/bagian-2-10-sejarah-sebenarnya-pembangunan-ka%E2%80%99bah-di-mekah/

0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger.....