hai... blogger | Members area : Register | Sign in

ingin blog anda dapat iklan KLIK GAMBAR DIBAWAH INI !!!

Online Job for All. Work from home computer.

KIMIA ORGANIK


TUGAS KELOMPOK KIMIA ORGANIK
Senyawa Alkena
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Belajar dan Pembelajaran
Dosen Pengampu : Dra.Hj.HRA. Mulyani. MTA














Disusun Oleh :

NAMA                                      NPM
1.      FENDI IRAWAN                  10321317
2.      PURWASIH                           10321346
3.      EKA YULIANTI                   10321309
4.      MEGA DWI SUSANTI         10321335
5.      EKA SEFTIANA                   10321308





FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO
LAMPUNG
2011


BAB I
PEMBAHASAN


Alkena

Senyawa alkena memiliki ikatan rangkap dua pada struktur molekulnya merupakan senyawa hidrokarbon tak jenuh. Atom C membentuk ikatan rangkap dua agar memenuhi kaidahoktet. Rumus umumCNH2N
Penamaan Senyawa Alkena

Pemberian nama Alkena menurut system IUPAC sama dengan pada Alkana. Nama- nama Alkena dianggap sebagai turunan dari Alkana. Oleh karena itu, nama Alkena diturunkan dari nama alkana yang sama jumlah atom C-nya dengan mengganti akhiran ana menjadi ena. Beberapa aturan untuk memeberi nama alkena adalah sebagai berikut :

1.      Rantai utama dipilih rantai karbon terpanjang yang mengandung ikatan rangkap.
2.      Atom- atom karbon pada rantai utama diberi nomor urut sedemikian rupa, sehingga atom karbon yang berikatan rangkap mendapat nomor urut yang kecil.
3.      Rantai utama diberi akhiran ena
4.      Untuk menunjukan letak ikatan rangkap nama rantai utama didahului oleh nomor urut atom karbon yang berikatan rangkap.
5.      Senyawa karbon yang mempunyai lebih dari satu ikatan rangkap, misalnya senyawa yang mengandung 2 ikatan rangkap disebut diena, dan yang mengandung 3 ikatan rangkap disebut triena.
Contoh nya :

CH2=CH – CH – CH3             3 metil, 1 butena
             
                  CH3

CH2=C- CH - CH3                  1,2 Butadiena

CH2=C= C - CH3                    3 metil Butadrena

                CH3

Sifat- sifat Alkena

Ditulis oleh Sukarmin pada 30-09-2009

Sifat fisik

  1. Pada suhu kamar, tiga suku yang pertama adalah gas, suku- sulu berikutnyaadalah cair dan suku- sukutinggi berbentuk padat. Jika cairan Alkena dicampur dengan air maka kedua cairan itu akan membentuk lapisan yang saling tidak bercampur. Karena kerapatan cairan alkena lebih kecil dari 1 maka cairan alkena berada di atas lapisan air.
  2. Dapat terbakar dengan nyala yang berjelaga karena kadar karbon alkena lebihtinngi dari pada alkana yang jumlahatom karbon nya sama.

Tabel 5. beberapa sifat fisik alkena

Nama alkena   Rumus             Mr       Titik leleh        Titik didih       Kerapatan        fase
                        Molekul                       (0C)                 (0C)                 (g/Cm3)           pada
                                                                                                                                    250C
Etena               C2H4              28        -169                 -104                 0,568               Gas
Propena           C3H6              42        -185                 -48                   0,614               Gas
1-Butena         C4H8              56        -185                 -6                     0,630               Gas
1-Pentena        C5H10                        70        -165                 30                    0,643               Cair
1-Heksena       C6H12                        84        -140                 63                    0,675               Cair
1-Heptena       C7H14                        98        -120                 94                    0,698               Cair
1-Oktena         C8H16                        112      -102                 122                  0,716               Cair
1-Nonesa         C9H18                        126      -81                   147                  0,731               Cair
1-Dekena         C10H20          140      -66                   171                  0,743               Cair

Sifat kimia

Sifat khas dari alkena adalah terdapatnya ikatan rangkap dua antara dua buah atom karbon. Ikatan rangkap dua ini merupakan gugus fungsional dari alkena sehingga menentukan adanya reaksi- reaksi yang khusus bagi alkena, yaitu adisi, polimerisasi dan pembakaran.
Sifat kimia alkena :
  • Dapat di adisi zat lain
  • Dapat di substitusioleh zat lain
  • Dapat di oksidasi
  • Sukar larut dalam air
  • Bersifat non folar

  • Dapat do polimerisasi

Pembuatan Alkena

  • Dehidrohalogenasi alkil halida
  • Dehidrasi alcohol
  • Dehalogenasi dihalida
  • Reduksi alkuna

Dehidrasi etanol menjadi etena

Ini merupakan sebuah cara sederhana untuk membuat alkena berwujud gas seperti etena. Jika uap etanoldilewatkan pada bubukalumunium oksida yang dipanaskan, maka etanol akan terurai membentuk etena dan uap air.

Contoh pembuatan alkena

CH3-CH2-OH              CH2=CH2 + H2O

Dehidrasi etanol menjadi etena

Etanol dipanaskan bersama dengan asam sulfat pekat berlebih pada suhu 170°C. Gas- gas yang dihasilkan dilewatkanke dalam larutan natriumhidroksida untuk menghilangkan karbondioksida dan sulfur dioksida yang dihasilkan dari reaksi- reaksi sampingan.

Etena terkumpul diatas air

                        H2SC4 pekat
CH3-CH2-OH                          CH2=CH2 + H2O

Asam sulfat merupakan sebuah katalis. Olehnya itu biasa dituliskan di atas tanda panah bukan di sebelah kanan atau kiri persamaan reaksi.

Dehidrasi sikloheksanol menjadi sikloheksana

Proses dehidrasi merupakan sebuahproses pemisahan yang umumdigunakan untuk mengilustrasikan pembentukan dan pemurnian sebuah produk cair. Dengan adanya fakta bahwa atom- atom karbon tergabungdalam sebuah struktur cincin, tidak aka nada perbedaanyang terbentuk bagaimana punkarakteristik kimia reaksi yang terjadi.

Sikloheksanol dipanaskandengan asam fosfat(v) pekat dan sikloheksena cair disaring dan bisa dikumpulkan dan di murnikan.

Asam fosfat(v) cenderung digunakan menggantikan asam sulfat karena lebih aman dan menghasilkan lebih sedikit reaksi sampingan.

                        CH2                                                     CH2

            C2O                 CH-OH                       H2O                 CH
                                                  H2PO4 pekat
            H2O                 CH2                             H2O                 OH
                                                                                                            +H2O
                        CH2                                                     CH2



Kegunaan alkena sebagai :
  • Dapat digunakan sebagai obat bius (dicampur dengan O2
  • Untuk memasakkan buah- buahan
  • Bahan baku industri plastic, karet sintetik, dan alcohol.

1.      Etena C2H4
Etena adalah bahan baku pembuatan polietena dan senyawa organic intermediet (produk antara) seperti kloroetena (vinil klorida) dan stirena.
2.      Propena C3H6
Propena digunakan untuk membuat polipropena, suatu polimer untuk membuat serat sintetis, materi pengepakan, dan peralatan memasak.
3.      Butadiena
Butadiena adalah salah satu alkadiena, yang melalui reaksi polimerisasi akan membentuk polibutediena (karet sintesis). Polibutadiena murni bersifat lengket dan lemah sehingga di gunakan sebagai komponen adhesif dan semen. Agar lebih kuat dan elastis, polibutadiena di panaskan dengan belerang melalui proses vulkanisir. Rantai- rantai polibutadiena akan bergabung melalui belerang. Setelah itu, zat kimia seperti karbon dan pigmen ditambahkan untuk memperoleh karakteristik yang diinginkan.  











BAB II
PENUTUP

  1. Kesimpulan
Dari Pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa senyawa kimia adalah zat tunggal yang terbentuk dari beberapa unsur dengan melalui reaksi kimia dan senyawa tersebut juga dapat diuraikan lagi menjadi unsur-unsur pembentuknya dengan reaksi kimia tersebut. Contohnya dihidrogen monoksida (Air dan H2O) adalah sebuah senyawa yang terdiri dari dua atom hidrogen untuk setiap atom oksigen.
Dan senyawa alkena itu sendiri ialah merupakan hidrokarbon yang mengandung atom ikatan rangkap dua pada rantai atom C-nya (-C=C).


































DAFTAR PUSTAKA

1.      Lau, W.S. (1999). Karakterisasi inframarah untuk mikroelektronik. World Scientific.
2.      Silverstein, R.M. (1991). Spectrometric identification of organic compound. John wiley & sons, Inc.










































Alkana
1.      pengertian
Alkana Adalah hidrokarbon alifatik jenuh yaitu hidrokarbon dengan rantai terbuka dan semua ikatan antar atom karbonnya merupakan ikatan tunggal.
2.      rumus umum
Rumus umum alkana yaitu : C n H 2n+2
 n = jumlah atom C
3.      tata nama
Berdasarkan aturan dari IUPAC (nama sistematik) :
1) Nama alkana bercabang terdiri dari 2 bagian :
Ø  Bagian pertama (di bagian depan) merupakan nama cabang
Ø  Bagian kedua (di bagian belakang) merupakan nama rantai induk
2) Rantai induk adalah rantai terpanjang dalam molekul. Jika terdapat 2 atau lebih rantai terpanjang, maka harus dipilih yang mempunyai cabang terbanyak. Induk diberi nama alkana sesuai dengan panjang rantai.
3) Cabang diberi nama alkil yaitu nama alkana yang sesuai, tetapi dengan mengganti akhiran –ana menjadi –il. Gugus alkil mempunyai rumus umum : C n H 2n+1 dan dilambangkan dengan R
4) Posisi cabang dinyatakan dengan awalan angka. Untuk itu rantai induk perlu dinomori. Penomoran dimulai dari salah 1 ujung rantai induk sedemikian rupa sehingga posisi cabang mendapat nomor terkecil.
5) Jika terdapat 2 atau lebih cabang sejenis, harus dinyatakan dengan awalan di, tri, tetra, penta dst.
6) Cabang-cabang yang berbeda disusun sesuai dengan urutan abjad dari nama cabang tersebut. Awalan normal, sekunder dan tersier diabaikan. Jadi n-butil, sek-butil dan ters-butil dianggap berawalan b-. Awalan iso- tidak diabaikan. Jadi isopropil berawal dengan huruf i- . Awalan normal, sekunder dan tersier harus ditulis dengan huruf cetak miring .
7) Jika penomoran ekivalen dari kedua ujung rantai induk, maka harus dipilih sehingga cabang yang harus ditulis terlebih dahulu mendapat nomor terkecil.
Berdasarkan aturan-aturan tersebut di atas, penamaan alkana bercabang dapat dilakukan dengan 3 langkah sebagai berikut :
1) Memilih rantai induk, yaitu rantai terpanjang yang mempunyai cabang terbanyak.
2) Penomoran, dimulai dari salah 1 ujung sehingga cabang mendapat nomor terkecil.
3) Penulisan nama, dimulai dengan nama cabang sesuai urutan abjad, kemudian diakhiri dengan nama rantai induk. Posisi cabang dinyatakan dengan awalan angka. Antara angka dengan angka dipisahkan dengan tanda koma (,) antara angka dengan huruf dipisahkan dengan tanda jeda (-).
Atau lebih singkatnya adalah:
  1. Jika rantai lurus, nama sesuai dengan jumlah alkana dengan awalan n-(alkana)
  2. Jika rantai cabang;
    1. Tentukan rantai terpanjang (sebagai nama alkana)
    2. Tentukan rantai cabangnya (alkil)
    3. Pemberian nomor dimulai dari atom C yang paling dekat dengan cabang
    4. Alkil-alkil sejenis digabung dengan awalan di(2), tri(3), dst
    5. Alkil tak sejenis ditulis berdasar abjad (butil, etil, metil) atau dari yang paling sederhana (metil, etil, propil)
4. sifat fisika dan kimia
·         Sifat fisik
1. Semua alkana merupakan senyawa polar sehingga sukar larut dalam air. Pelarut yang baik untuk alkana adalah pelarut non polar, misalnya eter. Jika alkana bercampur dengan air, lapisan alkana berada di atas, sebab massa jenisnya lebih kecil daripada 1.
2. Pada suhu kamar, empat suku pertama berwujud gas, suku ke 5 hingga suku ke 16 berwujud cair, dan suku diatasnya berwujud padat.
3. Semakin banyak atom C, titik didih semakin tinggi. Untuk alkana yang berisomer (jumlah atom C sama banyak), semakin banyak cabang, titik didih semakin kecil.
Tabel 4. Beberapa sifat fisik alkana
Nama alkana
Rumus
Mr
Titik leleh
Titik didih
Kerapatan
Fase

molekul

(oC)
(0C)
(g/Cm3)
pada






250C
Metana
CH4
16
-182
-162
0,423
Gas
Etana
C2H6
30
-183
-89
0,545
Gas
Propana
C3H8
44
-188
-42
0,501
Gas
Butana
C4H10
58
-138
-0. 5
0,573
Gas
Pentana
C5H12
72
-130
36
0,526
Cair
Heksana
C6H14
86
-95
69
0,655
Cair
Heptana
C7H16
100
-91
99
0,684
Cair
Heptadekana
C17H36
240
22
302
0,778
cair
Oktadekana
C18H38
254
28
316
0,789
padat
Nonadekana
C19H40
268
32
330
0,789
padat
Iikosana
C20H42
282
37
343
0,789
padat
·         Sifat kimia
1. Pada umumnya alkana sukar bereaksi dengan senyawa lainnya.
2. Dalam oksigen berlebih, alkana dapat terbakar menghasilkan kalor, karbon dioksida dan uap air.
23
3. Jika alkana direaksikan dengan unsur-unsur halogen (F2, Cl2, Br2, I2), atom -atom H pada alkana akan digantikan oleh atom-atom halogen.
24
5.Sumber dan Kegunaan Alkana
Alkana adalah komponen utama dari gas alam dan minyak bumi.
Kegunaan alkana, sebagai :
·         Bahan bakar
·         Pelarut
·         Sumber hidrogen
·         Pelumas
·         Bahan baku untuk senyawa organik lain
·         Bahan baku industri


6 . proses pembuatan
Alakana dibuat melalui
·         Secara laboratorium
Alumuiumkarbida + H2O → Alumunium hidroksida + metana
               Al4C3 +   H2O →              4Al(OH)3       +  3CH4
·         Sintesis wurtz
RX + Na      NaX    +   R - R

  R =gugus fungsi
X = halogen (Cl,Br,I)
Contoh ;
2C2H5Br + 2Na →2 NaBr + C2H5 – C2H5
Etil bromida                                  butana
·         Sintesis grignard
Grignad menemukansuatu zat yang sangat berguna untuk pembutan senyawa organik yaitu “alkil magnesium halida (R Mg X)“.Sering disebut juga ; senyawa gridnard (R Mg X)


 RX +Mg                            R Mg X                  R-H + Mg (OH) X
Eter                                         +H2O

Contoh ;
CH3Cl + Mg           CH3Mg Cl                         CH4 + Mg (OH)Cl
Eter                             +H2O
Metil klorida + magnesium             metil magneesium klorida →  metana +magnesium hidroksida klorida







ETER (alkoksi alkana)

A.    Rumus Umum dan Tata Nama
·         Rumus umum eter : CnH2n + 2O
·         Tata nama eter :
a)      Jika dalam eter gugus alkilnya berbeda, maka alkil yang terkecil dianggap sebagai gugus alkoksi, sedangkan gugus alkil yang lain sebagai alkananya. Gugus alkoksi adalah gugus –OR dengan R adalah gugus alkil.
Contoh :
H3C  ̶  O  ̶  CH2  ̶  CH3
gugus alkoksi          rantai induk
b)      Penomoran dimulai dari ujung rantai induk, sehigga letak gugus alkoksi mendapat nomor terkecil.
Contoh :
                     2            1
CH3  ̶   O  ̶  CH  ̶   CH3
                     ׀
                3   CH2
                     ׀
                                                     4  CH3
c)      Nama bagian depanya adalah nama gugus alkoksi, sedangkan bagian belakang nama alkilnya.
Contoh :
CH3  ̶  O  ̶  CH2  ̶  CH3
                metoksietana
d)     Jika pada rantai induk terdapat cabang alkil, maka gugus alkoksinya diprioritaskan mendapat nomor terkecil, sedangkan cabang alkilnya mengikuti nama rantai induk alkana
Contoh :



                        3              4           5       6                7
C2H5  ̶   O  ̶   CH   ̶   CH2  ̶   CH  ̶  CH2   ̶   CH3
                    1,2    ׀                    ׀
                        5H2C                3CH
3-etoksi-5-metil heptana
Selain nama IUPA, eter juga memiliki nama lazim yaitu dengan menuliskan nama alkil-alkil yang terletak diantara gugua –O- menurut abjad dan diikuti kata eter.
Contoh :
Rumus Struktur
Nama IUPAC
Nama Lazim
CH3  ̶  O  ̶  CH2  ̶  CH3
Metoksi etana
Etil metil eter
C2H5  ̶  O  ̶  CH2  ̶  CH3
Etoksi etana
Dietil eter
C2H5  ̶  O  ̶  CH  ̶  CH3
                    ׀
                   CH3
2-etoksi propana
Etil isopropil eter
C2H5  ̶  O  ̶  CH2  ̶  CH2  ̶  CH3
Etoksi propana
Etil propil eter


B.     Sifat-Sifat Eter
Sifat fisika
·         Pada suhu kamar eter berwujud gas, suku yang lebih tinggi berwujud cair dan mudah munguap.
·         Titik didih eter jauh lebih rendah dibandingkan alkohol, karena eter memiliki gaya tarik van der waals yang lemah sedangkan alkohol memiliki ikatan hidrogen antar molekulnya
·         Eter sukar larut dalam karena kepolaranya yang sangat kecil.
Sifat kimia
·         Pembakaran eter
Sama seperti pada alkohol, eter mudah terbakar menghasilkan gas CO2 dan H2O.
·         Eter tidak bereaksi dengan logam natrium.
·         Eter bereaksi dengan PCL5 seperti halnya alkohol, akan tetapi tidak menghasilkan HCL.
·         Reaksi dengan hidrogen halida (HX)
Eter dapat bereaksi dengan asam iodida menghasilkan alkohol.

  1. Proses Pembuatan / Pengolahan
·         Dehidrasi alkohol
Dehidrasi senyawa alkohol dapat menghasilkan eter:
2 R-OH → R-O-R + H2O
Reaksi ini memerlukan temperatur yang tinggi (sekitar 125 °C). Reaksi ini dikatalisis oleh asam, biasanya asam sulfat. Metode ini efektif untukn menghasilkan eter simetris, namun tidak dapat digunakan untuk menghasilkan eter tak simetris. Dietil eter dihasilkan dari etanol menggunakan metode ini. Eter siklik dapat pula dihasilkan menggunakan metode ini.
·         Sintesis eter Williamson
Eter dapat pula dibuat melalui substitusi nukleofilik alkil halida oleh alkoksida
R-ONa + R'-X → R-O-R' + NaX
Reaksi ini dinamakan sintesis eter Williamson. Reaksi ini melibatkan penggunaan alkohol dengan basa kuat, menghasilkan alkoksida, yang diikuti oleh adisi pada senyawa alifatik terkait yang memiliki gugus lepas (R-X). Gugus lepas tersebut dapat berupa iodida, bromida, maupun sulfonat. Metode ini biasanya tidak bekerja dengan baik dengan aril halida (misalnya bromobenzena). Reaksi ini menghasilkan rendemen reaksi yang tinggi untuk halida primer. Halida sekunder dan tersier sangat rawan menjalani reaksi eliminasi E2 seketika berpaparan dengan anion alkoksida yang sangat basa.

Dalam reaksi lainnya yang terkait, alkil halida menjalani substitusi nukleofilik oleh fenoksida. R-X tidak dapat digunakan untuk bereaksi dengan alkohol. Namun, fenol dapat digunakan untuk menggantikan alkohol. Oleh karena fenol bersifat asam, ia dapat bereaksi dengan basa kuat seperti natrium hidroksida, membentuk ion fenoksida. Ion fenoksida ini kemudian mensubstitusi gugus -X pada alkil halida, menghasilkan eter dengan gugus aril yang melekat padanya melalui mekanisme reaksi SN2.
C6H5OH + OH- → C6H5-O- + H2O
C6H5-O- + R-X → C6H5OR

·         Kondensasi Ullmann
Kondensasi Ullmann mirip dengan metode Williamson, kecuali substratnya adalah aril halida. Reaksi ini umumnya memerlukan katalis, misalnya tembaga.

·         Adisi elektrofilik alkohol ke alkena
Alkohol dapat melakukan reaksi adisi dengan alkena yang diaktivasi secara elektrofilik.
R2C=CR2 + R-OH → R2CH-C(-O-R)-R2
Katalis asam diperlukan agar reaksi ini dapat berjalan. Biasanya merkuri trifluoroasetat (Hg(OCOCF3)2) digunakan sebagai katalis.

  1. Manfaat / Kegunaan
·         Dietil eter adalah obat bius yang paling banyak di gunakan, senyawa ini adalah zat yang membuat otot kendur namun kerjanya hanya sebentar.
·         Divinil eter juga di gunakan sebagai obat bius, tetapi dapat menyebabkan ketidaksadaran yang sangat mendalam.
·         Natrium pentatol adalah obat bius intravena yang banyak digunakan.
·         MTBE (metil ter-butil eter) digunakan untuk menaikan angka oktan pada bensin.
·         Dietil eter biasa digunakan sebagai pelarut zat organik.
ETER (alkoksi alkana)

E.     Rumus Umum dan Tata Nama
·         Rumus umum eter : CnH2n + 2O
·         Tata nama eter :
e)      Jika dalam eter gugus alkilnya berbeda, maka alkil yang terkecil dianggap sebagai gugus alkoksi, sedangkan gugus alkil yang lain sebagai alkananya. Gugus alkoksi adalah gugus –OR dengan R adalah gugus alkil.
Contoh :
H3C  ̶  O  ̶  CH2  ̶  CH3
gugus alkoksi          rantai induk
f)       Penomoran dimulai dari ujung rantai induk, sehigga letak gugus alkoksi mendapat nomor terkecil.
Contoh :
                     2            1
CH3  ̶   O  ̶  CH  ̶   CH3
                     ׀
                3   CH2
                     ׀
                                                     4  CH3
g)      Nama bagian depanya adalah nama gugus alkoksi, sedangkan bagian belakang nama alkilnya.
Contoh :
CH3  ̶  O  ̶  CH2  ̶  CH3
                metoksietana
h)      Jika pada rantai induk terdapat cabang alkil, maka gugus alkoksinya diprioritaskan mendapat nomor terkecil, sedangkan cabang alkilnya mengikuti nama rantai induk alkana
Contoh :



                        3              4           5       6                7
C2H5  ̶   O  ̶   CH   ̶   CH2  ̶   CH  ̶  CH2   ̶   CH3
                    1,2    ׀                    ׀
                        5H2C                3CH
3-etoksi-5-metil heptana
Selain nama IUPA, eter juga memiliki nama lazim yaitu dengan menuliskan nama alkil-alkil yang terletak diantara gugua –O- menurut abjad dan diikuti kata eter.
Contoh :
Rumus Struktur
Nama IUPAC
Nama Lazim
CH3  ̶  O  ̶  CH2  ̶  CH3
Metoksi etana
Etil metil eter
C2H5  ̶  O  ̶  CH2  ̶  CH3
Etoksi etana
Dietil eter
C2H5  ̶  O  ̶  CH  ̶  CH3
                    ׀
                   CH3
2-etoksi propana
Etil isopropil eter
C2H5  ̶  O  ̶  CH2  ̶  CH2  ̶  CH3
Etoksi propana
Etil propil eter


F.      Sifat-Sifat Eter
Sifat fisika
·         Pada suhu kamar eter berwujud gas, suku yang lebih tinggi berwujud cair dan mudah munguap.
·         Titik didih eter jauh lebih rendah dibandingkan alkohol, karena eter memiliki gaya tarik van der waals yang lemah sedangkan alkohol memiliki ikatan hidrogen antar molekulnya
·         Eter sukar larut dalam karena kepolaranya yang sangat kecil.
Sifat kimia
·         Pembakaran eter
Sama seperti pada alkohol, eter mudah terbakar menghasilkan gas CO2 dan H2O.
·         Eter tidak bereaksi dengan logam natrium.
·         Eter bereaksi dengan PCL5 seperti halnya alkohol, akan tetapi tidak menghasilkan HCL.
·         Reaksi dengan hidrogen halida (HX)
Eter dapat bereaksi dengan asam iodida menghasilkan alkohol.

  1. Proses Pembuatan / Pengolahan
·         Dehidrasi alkohol
Dehidrasi senyawa alkohol dapat menghasilkan eter:
2 R-OH → R-O-R + H2O
Reaksi ini memerlukan temperatur yang tinggi (sekitar 125 °C). Reaksi ini dikatalisis oleh asam, biasanya asam sulfat. Metode ini efektif untukn menghasilkan eter simetris, namun tidak dapat digunakan untuk menghasilkan eter tak simetris. Dietil eter dihasilkan dari etanol menggunakan metode ini. Eter siklik dapat pula dihasilkan menggunakan metode ini.
·         Sintesis eter Williamson
Eter dapat pula dibuat melalui substitusi nukleofilik alkil halida oleh alkoksida
R-ONa + R'-X → R-O-R' + NaX
Reaksi ini dinamakan sintesis eter Williamson. Reaksi ini melibatkan penggunaan alkohol dengan basa kuat, menghasilkan alkoksida, yang diikuti oleh adisi pada senyawa alifatik terkait yang memiliki gugus lepas (R-X). Gugus lepas tersebut dapat berupa iodida, bromida, maupun sulfonat. Metode ini biasanya tidak bekerja dengan baik dengan aril halida (misalnya bromobenzena). Reaksi ini menghasilkan rendemen reaksi yang tinggi untuk halida primer. Halida sekunder dan tersier sangat rawan menjalani reaksi eliminasi E2 seketika berpaparan dengan anion alkoksida yang sangat basa.

Dalam reaksi lainnya yang terkait, alkil halida menjalani substitusi nukleofilik oleh fenoksida. R-X tidak dapat digunakan untuk bereaksi dengan alkohol. Namun, fenol dapat digunakan untuk menggantikan alkohol. Oleh karena fenol bersifat asam, ia dapat bereaksi dengan basa kuat seperti natrium hidroksida, membentuk ion fenoksida. Ion fenoksida ini kemudian mensubstitusi gugus -X pada alkil halida, menghasilkan eter dengan gugus aril yang melekat padanya melalui mekanisme reaksi SN2.
C6H5OH + OH- → C6H5-O- + H2O
C6H5-O- + R-X → C6H5OR

·         Kondensasi Ullmann
Kondensasi Ullmann mirip dengan metode Williamson, kecuali substratnya adalah aril halida. Reaksi ini umumnya memerlukan katalis, misalnya tembaga.

·         Adisi elektrofilik alkohol ke alkena
Alkohol dapat melakukan reaksi adisi dengan alkena yang diaktivasi secara elektrofilik.
R2C=CR2 + R-OH → R2CH-C(-O-R)-R2
Katalis asam diperlukan agar reaksi ini dapat berjalan. Biasanya merkuri trifluoroasetat (Hg(OCOCF3)2) digunakan sebagai katalis.

  1. Manfaat / Kegunaan
·         Dietil eter adalah obat bius yang paling banyak di gunakan, senyawa ini adalah zat yang membuat otot kendur namun kerjanya hanya sebentar.
·         Divinil eter juga di gunakan sebagai obat bius, tetapi dapat menyebabkan ketidaksadaran yang sangat mendalam.
·         Natrium pentatol adalah obat bius intravena yang banyak digunakan.
·         MTBE (metil ter-butil eter) digunakan untuk menaikan angka oktan pada bensin.
·         Dietil eter biasa digunakan sebagai pelarut zat organik.
ETER (alkoksi alkana)

I.       Rumus Umum dan Tata Nama
·         Rumus umum eter : CnH2n + 2O
·         Tata nama eter :
i)        Jika dalam eter gugus alkilnya berbeda, maka alkil yang terkecil dianggap sebagai gugus alkoksi, sedangkan gugus alkil yang lain sebagai alkananya. Gugus alkoksi adalah gugus –OR dengan R adalah gugus alkil.
Contoh :
H3C  ̶  O  ̶  CH2  ̶  CH3
gugus alkoksi          rantai induk
j)        Penomoran dimulai dari ujung rantai induk, sehigga letak gugus alkoksi mendapat nomor terkecil.
Contoh :
                     2            1
CH3  ̶   O  ̶  CH  ̶   CH3
                     ׀
                3   CH2
                     ׀
                                                     4  CH3
k)      Nama bagian depanya adalah nama gugus alkoksi, sedangkan bagian belakang nama alkilnya.
Contoh :
CH3  ̶  O  ̶  CH2  ̶  CH3
                metoksietana
l)        Jika pada rantai induk terdapat cabang alkil, maka gugus alkoksinya diprioritaskan mendapat nomor terkecil, sedangkan cabang alkilnya mengikuti nama rantai induk alkana
Contoh :



                        3              4           5       6                7
C2H5  ̶   O  ̶   CH   ̶   CH2  ̶   CH  ̶  CH2   ̶   CH3
                    1,2    ׀                    ׀
                        5H2C                3CH
3-etoksi-5-metil heptana
Selain nama IUPA, eter juga memiliki nama lazim yaitu dengan menuliskan nama alkil-alkil yang terletak diantara gugua –O- menurut abjad dan diikuti kata eter.
Contoh :
Rumus Struktur
Nama IUPAC
Nama Lazim
CH3  ̶  O  ̶  CH2  ̶  CH3
Metoksi etana
Etil metil eter
C2H5  ̶  O  ̶  CH2  ̶  CH3
Etoksi etana
Dietil eter
C2H5  ̶  O  ̶  CH  ̶  CH3
                    ׀
                   CH3
2-etoksi propana
Etil isopropil eter
C2H5  ̶  O  ̶  CH2  ̶  CH2  ̶  CH3
Etoksi propana
Etil propil eter


J.       Sifat-Sifat Eter
Sifat fisika
·         Pada suhu kamar eter berwujud gas, suku yang lebih tinggi berwujud cair dan mudah munguap.
·         Titik didih eter jauh lebih rendah dibandingkan alkohol, karena eter memiliki gaya tarik van der waals yang lemah sedangkan alkohol memiliki ikatan hidrogen antar molekulnya
·         Eter sukar larut dalam karena kepolaranya yang sangat kecil.
Sifat kimia
·         Pembakaran eter
Sama seperti pada alkohol, eter mudah terbakar menghasilkan gas CO2 dan H2O.
·         Eter tidak bereaksi dengan logam natrium.
·         Eter bereaksi dengan PCL5 seperti halnya alkohol, akan tetapi tidak menghasilkan HCL.
·         Reaksi dengan hidrogen halida (HX)
Eter dapat bereaksi dengan asam iodida menghasilkan alkohol.

  1. Proses Pembuatan / Pengolahan
·         Dehidrasi alkohol
Dehidrasi senyawa alkohol dapat menghasilkan eter:
2 R-OH → R-O-R + H2O
Reaksi ini memerlukan temperatur yang tinggi (sekitar 125 °C). Reaksi ini dikatalisis oleh asam, biasanya asam sulfat. Metode ini efektif untukn menghasilkan eter simetris, namun tidak dapat digunakan untuk menghasilkan eter tak simetris. Dietil eter dihasilkan dari etanol menggunakan metode ini. Eter siklik dapat pula dihasilkan menggunakan metode ini.
·         Sintesis eter Williamson
Eter dapat pula dibuat melalui substitusi nukleofilik alkil halida oleh alkoksida
R-ONa + R'-X → R-O-R' + NaX
Reaksi ini dinamakan sintesis eter Williamson. Reaksi ini melibatkan penggunaan alkohol dengan basa kuat, menghasilkan alkoksida, yang diikuti oleh adisi pada senyawa alifatik terkait yang memiliki gugus lepas (R-X). Gugus lepas tersebut dapat berupa iodida, bromida, maupun sulfonat. Metode ini biasanya tidak bekerja dengan baik dengan aril halida (misalnya bromobenzena). Reaksi ini menghasilkan rendemen reaksi yang tinggi untuk halida primer. Halida sekunder dan tersier sangat rawan menjalani reaksi eliminasi E2 seketika berpaparan dengan anion alkoksida yang sangat basa.

Dalam reaksi lainnya yang terkait, alkil halida menjalani substitusi nukleofilik oleh fenoksida. R-X tidak dapat digunakan untuk bereaksi dengan alkohol. Namun, fenol dapat digunakan untuk menggantikan alkohol. Oleh karena fenol bersifat asam, ia dapat bereaksi dengan basa kuat seperti natrium hidroksida, membentuk ion fenoksida. Ion fenoksida ini kemudian mensubstitusi gugus -X pada alkil halida, menghasilkan eter dengan gugus aril yang melekat padanya melalui mekanisme reaksi SN2.
C6H5OH + OH- → C6H5-O- + H2O
C6H5-O- + R-X → C6H5OR

·         Kondensasi Ullmann
Kondensasi Ullmann mirip dengan metode Williamson, kecuali substratnya adalah aril halida. Reaksi ini umumnya memerlukan katalis, misalnya tembaga.

·         Adisi elektrofilik alkohol ke alkena
Alkohol dapat melakukan reaksi adisi dengan alkena yang diaktivasi secara elektrofilik.
R2C=CR2 + R-OH → R2CH-C(-O-R)-R2
Katalis asam diperlukan agar reaksi ini dapat berjalan. Biasanya merkuri trifluoroasetat (Hg(OCOCF3)2) digunakan sebagai katalis.

  1. Manfaat / Kegunaan
·         Dietil eter adalah obat bius yang paling banyak di gunakan, senyawa ini adalah zat yang membuat otot kendur namun kerjanya hanya sebentar.
·         Divinil eter juga di gunakan sebagai obat bius, tetapi dapat menyebabkan ketidaksadaran yang sangat mendalam.
·         Natrium pentatol adalah obat bius intravena yang banyak digunakan.
·         MTBE (metil ter-butil eter) digunakan untuk menaikan angka oktan pada bensin.
·         Dietil eter biasa digunakan sebagai pelarut zat organik.

A.    KETON (ALKANON)
         O
        
            Keton merupakan senyawa yang mengandung gugus karbonil, yaitu    ― C ―.
Keton dan aldehida mempunyai gugus yang sama, tetapi pada aldehida bila tangan atom karbon gugus karbonil yang satu mengikat gugus alkil maka tangan yang lain mengikat atom hydrogen. Sedangkan pada keton kedua tangan atom karbon mengikat gugus alkil. Keton memiliki dua gugus alkil yang terikat pada karbon karbonil. Nama lain dari keton adalah alkanon.

Nama Senyawa
Rumus Umum
Rumus Empiris
Keton
       O
      
R ― C ― R atau R – CO – R’
CnH2nO


a.      Tata Nama Keton
Adapun tata nama keton adalah:
1)      Penamaan keton menurut IUPAC sama dengan alkana, tetapi akhiran a diganti dengan on. Anggota deret homolog keton yang terkecil adalah propanon yang terdiri dari 3 atom karbon. Contoh:     O
CH3 ― C ― CH3
Propanon

2)      Penomoran dimulai dari ujung rantai induk sehingga gugus fungsi mendapatkan nomor terkecil. Contoh: O
 1         ║2    3        4        5
CH3―C―CH2―CH2―CH3

3)      Pemberian nama mengikuti aturan, yaitu cabang-cabang disebut lebih dahulu, disusun menurut abjad, dan diberi awalan yang menyatakan jumlah cabang tersebut. Letak gugus fungsi dinyatakan dengan awalan angka pada nama rantai pokok.
Contoh:           O
                       
CH3―C―CH2―CH2―CH3
2- pentanon

Selain nama IUPAC juga terdapat nama trivial yang kadang lebih sering digunakan. Cara lain adalah dengan menyebut alkil – alkil – keton.




B.     Sifat Fisis Keton
              Keton memiliki sifat fisis yang relative sama dengan aldehid, seperti larut dalam air. Keton tidak dapat membentuk ikatan hidrogen dengan yang lainnya sehigga titik didihnya menjadi lebih rendah daripada aldehid padanannya.
              Beberapa sifat fisik keton dapat dilihat pada table:
Nama IUPAC
Struktur
Titik didih (ºC)
Titik leleh (ºC)
Kelarutan
Propanon
CH3COCH3
56,1
-95
Mudah larut
2- butanon
CH3COC2H5
79,6
-86
Mudah larut
2- pentanon
CH3COC3H7
102
-78
Larut
3 - pentanon
C2H5COC2H5
102
-39
Larut

              Keton suku rendah merupakan zat cair ynag mudah larut dalam air dan berbau menyengat, suku sedang merupakan zat cair ynag sukar larut dalam air, sedangkan keton suku tinggi merupakn zat padat. Cairan aseton mudah menguap dan beeracun, dapat menyebebkan matinya saraf.



Sifat Kimia Keton
              Senyawa keton tidak dapat dioksidasi menjadi asam karboksilat seperti aldehid, tetapi keton beradisi dengan hydrogen dan akan membentuk alcohol sekunder.
Description: http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2008/frisna_0606305_reaksi_organik/isi/picture/26.JPG

C.    Proses Pembuatan
              Keton merupakan reduktor yang lebih lemah daripada aldehida. Keton tidak dapat dioksidasi oleh Fehling dan pereaksi Tollens. Sifat ini digunakan untuk membedakan keton dari aldehida.
Aldehida  +  pereaksi Tollens → cermin perak
Keton  +  pereaksi Tollens → tidak ada reaksi
Aldehida  +  pereaksi Fehling → endapan merah bata
Keton  +  pereaksi Fehling → tidak ada reaksi
a)      Reduksi keton menghasilkan alkohol sekunder.

Description: http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2008/frisna_0606305_reaksi_organik/isi/picture/26.JPG




a.        Oksidasi alcohol sekunder

             OH                                        O
               |                                            ||
2R    CH    R’  à 2R    C    R’ — 2H2O


b.      Distilasi kering garam alkanoat

            O                                 O                                 O
            ||                                   ||                                  ||
   R —  C    ONa  +  R’ —  C    ONa   à  R    C    R’  +  Na2CO3

c.       Reaksi asam klorida dengan organologen
Organo logen adalah sudy mengenai senyawa kimia yang mengandung ikatan antara karbon dan lugam. Klorida adalah larutan akuatif dari gas hydrogen klorida (HCl) asam kuat dan merupakan utama dari asam lambung.

D.    Kegunaan Keton

Keton yang paling banyak digunakan adalah propanon atau aseton. Manfaat keton antara lain:
1)      Sebagai pelarut untuk membersihkan pewarna kuku (kutek).
2)      Pembersih kaca.
3)      Bahan baku untuk membuat senyawa bahan industri, misalnya perspek dan bispenol (plastic)
4)      Keton siklik merupakan bahan untuk membuat parfum karena berbau harum.
5)       


TUGAS KIMIA ORGANIC
MAKALAH KELOMPOK
AMINA

Disusun Oleh
Reza Mahendra           10321352
Isnawati                       10321327
Ayu Nurhasanah         10321296
Ayu Fajar Yani            10321304
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO
2010/2011

KATA PENGANTAR
           
            Puji syukur kami haturkan kepada Allah SWT, karna kami dapat menyelesaikan tugas, berupa makalah yang akan kami jadikan bahan untuk presentasi mata kuliah kimia organic.
            Terima kasih kami ucapkan untuk semuanya, yang telah memberi semangat berupa dorongan serta doa kepada kami sehingga makalah ini dapat tersusun dengan lancar. Penulis meminta maaf apabila dalam penyusunan serta isi dalam makalah ini terdapat kesalahan, dan kami juga meminta kritik dan saran berupa perbaikan dari para pembaca semua.
            Semoga makalah ini dapat bermanfaat, khususnya untuk kalangan sendiri dan umumnya untuk pembaca semua.


Metro, 19 Maret 2011
Penulis





Daftar isi

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
B.     Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
A.     Pengertian Amina
B.     Rumus Umum
C.     Tata Nama Amina
D.    Klasifikasi
BAB III PENUTUP
A.     Kesimpulan
B.     Saran





BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar belakang
Amina adalah senyawa organic yang mengandung atom nitrogen trivalent yang mengandung atom nitrogen trivalen yang berkaitan dengan satu atau dua atau tiga atom karbon, dimana amina juga merupakan suatu senyawa yang mengandung gugusan amino (-NH2, - NHR, atau – NH2). Di antara sejumlah golongan senyawa organic yang memiliki sifat basa, yang terpenting adalah amina. Senyawa organic amina mempunyai rumus umum, tata nama, sifat-sifatnya serta proses pembuatan dan pengolahannya.

B.     Tujuan
a.      Mengetahui rumus umum dan tata nama amina.
b.      Mengetahui sifat-sifat fisika dan kimia amina.
c.       Mengetahui proses pembuatan dan pegolahan amina.







BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian amina
Amina adalah senyawa organic yang mengandung atom nitrogen trivalent yang mengandung atom nitrogen trivalen yang berkaitan dengan satu atau dua atau tiga atom karbon, dimana amina juga merupakan suatu senyawa yang mengandung gugusan amino (-NH2, - NHR, atau – NH2). Gugusan amino mengandung nitrogen terikat, kepada satu sampai tiga atom karbon (tetapi bukan gugusan karbonil). Apabila salah satu karbon yang terikat pada atom nitrogen adalah karbonil, senyawanya adalah amida, bukan amina. Ciri Khas
Di antara sejumlah golongan senyawa organic yang memiliki sifat basa, yang terpenting adalah amina. Di samping itu sejumlah amina memiliki keaktifan faali (fisiologis), misalnya efedrina berkhasiat sebagai peluruh dahak, meskalina yang dapat mengakibatkan seseorang berhalusinasi, dan amfetamina yang mempunyai efek stimulant.
Kelompok senyawa alkaloid yang berasal dari tumbuhan secara kimia juga meripakan bagian dari golongan basa organic amina.

  1. Rumus Umum

Rumus umum untuk senyawa amina adalah : RNH2 R2NH R3N:
Dimana R dapat berupa alkil. Amina merupakan senyawa organik yang terpenting dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki urutan yang paling penting dalam senyawa organik, oleh karena itu amina tidak terlepas dari semua unsur organik yang lain. Oleh karena itu sifat-sifat yang di pelajari dalam senyawa amina akan sangat membantu dalam memahami aspek kimiawi kelompok alkoid yang mempunyai peran penting dalam pembuatan obat-obat sinetik dewasa ini.

  1. Tata Nama Senyawa Amina

  1. Tata Nama IUPAC (Sistematik).
Nama sistematik untuk amina alifatik primer diberikan dengan cara seperti nama sistematik alkohol, monohidroksi akhiran –a dalam nama alkana induknya diganti oleh kata amina. Contoh :

CH3-CH-CH3

NH2
2-propanamina

CH3-CH2-CH-CH2-CH3

NH­3
3-pentanamina

Untuk amina sekunder dan tersier yang asimetrik (gugus yang terikat pada atom N tidak sama), lazimnya diberi nama dengan menganggapnya sebagai amina primer yang tersubtitusi pada atom N. Dalam hal ini berlaku ketentuan bahwa gugus sustituen yang lebih besar dianggap sebagai amina induk, sedangkan gugus subtituen yang lebih kecil lokasinya ditunjukkan dengan cara menggunakan awalan N (yang berarti terikat pada atom N) Contoh :

CH3N

CH3N3N-dimetilsikopentamina




  1. Tata Nama Trivial

Nama trivial untuk sebagian besar amina adalah dengan menyebutkan gugus-gugus alkil/aril yang terikat pada atom N dengan ketentuan bahwa urutan penulisannya harus memperhatikan urutan abjad huruf terdepan dalam nama gugus alkil/aril.
 Kemudian ditambahkan kata amina di belakang nama gugus-gugus tersebut.

Contoh :

 CH3

CH3——NH2CH—C—NH2

CH3

Metilaminatersier-butilamina


  1. Klasifikasi
Amina digolongkan menjadi amina primer (RNH2), sekunder (R2NH), atau tersier (R3N), tergantung kepada jumlah atom karbon yang terikat pada atom nitrogen (bukan pada atom karbon, seperti pada alkohol)
Beberapa (10) Amin Primer (suatu karbon Terikat kepada N)
CH3

CH3NH2 CH3 C NH2 NH2
­
CH3

Beberapa (20) Amin sekunder (Dua Korbon terikat kepadaN)


CH3 — NH — CH3 NHCH3
N
H
Beberapa (30) Amin Tersier (Tiga karbon Terkait kepada N):
CH
CH3 — N — CH3 N
CH3 N
CH3
E. Sifat-Sifat Amina
1. Sifat Kimia
Kebasaan
Seperti halnya amonia, semua amina bersifat sebagai basa lemah dan larutan amina dalam air bersifat basis
Contoh : H

CH3—N: + H – O- H CH3- N- H + HO


H Metilamonium hidroksida
[CH3NH3][HO]
Kb = ———————— = 4,37 × 10-4
[CH3NH2]

Harga pKb untuk CH3NH2 = - log Kb = 3,36

Untuk menelaah kebasaan suatu amina, sering kali digunakan acuan tetapan ionisasi konjugatnya (Ka). Untuk asam konjugat dari CH3NH2 yaitu CH3NH3+ harga tetapan ionisasi asamnya adalah :
CH3NH3+ CH3NH2 + H+

[CH3NH2][H+]
Ka = = 4,37x10
[CH3NH3+]

Harga pKa untuk CH3NH3+ = -log Ka = 10,64

Harga pKa dan pKb untuk pasangan asam basa konjugat dinyatakan dengan persamaan: pKa + pKb =14

Reaksi Amina dngan Asam
Amina yang larut maupun yang tidak larut dalam air dapat bereaksi dengan asam dan menghasylkan garam yang larut dalam air.

Contoh :
(CH3CH2)2NH + HCl → (CH3CH2)2NH2+Cl-

dietilamonium klorida
2. Sifat Fisik
Contoh :
H H
│ │
ROH—:OR R2NH —:NR2
¨


5 kcal/mol 3kcal/mol
Titik didih dari amina yang mengandung suatu ikatan N—H adalah ditengah-tengah antara alkana (tidak ada ikatan hidrogen) dan alcohol (ikatan alcohol kuat)
CH3CH2CH3 CH3CH2NH2 CH3CH2OH
propana Etilamina Etanol
Berat rumus : 44 45 46
Titik didh (°C): -42 17 78,5
Titik didih dari amina yang tidak mengandung ikatan N—H, jadi tidak mempunyai ikatan hidrogen, lebih rendah dari amina yang mempunyai ikatan hidrogen.
F. Reaksi-Reaksi Amina
Reaksi Amina dengan Asam Nitrit
1. Amina alifatik primer dengan HNO2 menghasilkanalkohol disertai pembebasan gas N2 menurut persamaan reaksi di bawah ini :
CH3-CH-NH2 + HNO2→ CH3-CH-OH + N2 + H2O
│ │
CH3 CH3
Isopropilamina (amina 1°) isopropil alkohol (alkohol 2°)
2. Amina alifatik/aromatik sekunder dengan HNO2 menghasilkan senyawa N-nitrosoamina yang mengandung unsur N-N=O
Contoh :

H N=O

N + HNO2 → N + H2O

CH3 CH3
N-metilanilina N-metilnitrosoanilina



3. Amina alifatik/aromatik dengan HNO2 memberikan hasil reaksi yang ditentukkan oleh jenus amina tersier yang digunakan. Pada amina alifatik/aromatik tersier reaksinya dengan HNO2 mengakibatkan terjadinya sustitusi cincin aromatik oleh gugus –NO seperti contoh dibawah ini

CH3 CH2
N + HNO2 → N + H2O

CH3 CH3
N,N-dietilanilina p-nitroso –N,N- dimetilanilina

4. Amina aromatik primer jika direaksikan dengan HNO2 pada suhu 0°C menghasilkan garam diazonium

Contoh :
+
NH2 + HNO2 + HCl N= : Cl + 2H2O

Anilina benzenadiaazonium klorida
Reaksi Amina dengan Asam
Contoh :
(CH3CH2)2NH + HCl (CH3CH2)2NH+Cl-
Dietilamonium klorida
G. Pembuatan Amina
Ada dua jalan umumuntuk pembentukan amina yaitu subtitusi dan reduksi.
Reaksi Subtitusi dari Alkil Halida
Ammonia dan mengandung pasangan elektron sunyi pada atom nitrogen, oleh sebab itu, senyawa itu dapatbertindak sebagai nukleofil dalm reaksi subtitusi nukleofilik dari alkil halida. Reaksi dengan amonia menghasilkan garam dari amin primer. Bila garam amina ini direaksikan dengan basa akan dibebaskan amina bebas.
Reaksi alkil halida dengan amina dan bukan amonia akan menghasilkan amin sekunder, tersier, atau garam amonium kuarterner, tergantung pada amina yang digunakan. +
CH3CH2Br + CH3CH2 CH3CH2NH2CH3 Br - - OH CH3CH2NH2CH3

10 amina 20 amina
+
CH3CH2Br + (CH3)2 NH CH3CH2NH2 (CH3)2 Br - - OH
20 amina

CH3CH2N(CH3)2
30 amina

CH3CH2Br + (CH3)3 N CH3CH2N(CH3)2
Reaksi Reduksi dari Senyawa Nitrogen lain
Reduksi dari amida atau nitril dengan litium aluminium hidrida atau dengan gas hidrogen (hidrogenasi katalitik) menghasilkan amina. Dengan amida, amin primer, sekunder, atau tersier bisa didapat, tergantung kepada jumlah substitusi pada amida nitrogen.
Amida yang disubtitusi

CH3CH2CH2 —C N CH3CH2CH2- CH2NH2

Nitril 1°amina
Senyawa organik bersifat basa lemah, dibanding air lebih basa.
Jumlah unsur C kecil sangat mudah larut dalam air.
Sifat fisika Amina :
·       Suku-suku rendah berbentuk gas.
·       Tak berwarna, berbau amoniak, berbau ikan.
·       Mudah larut dalam air
·       Amina yang lebih tinggi berbentuk cair/padat.
·       Kelarutan dalam air berkurang dengan naiknya BM.
Struktur amina : R-NH2, (R)2NH, (R)3N =primer, sekunder, tersier
CH3-CH2-CH2-CH2-NH2             (CH3)2NH                        (CH3)3N

          Primer                            sekunder                              tersier

Struktur Amina berdasarkan rantai gugus alkil/aril :
·       Amina aromatis
·       Amina alifatis
·       Amina siklis
·       Amina campuran
PEMBUATAN AMINA :
Ø    Reduksi senyawa nitro
Ø    Reaksi alkil halida dengan amonia dan amina
PENGGUNAAN AMINA :
ä       Sebagai katalisator
ä       Dimetil amina : pelarut, absorben gas alam, pencepat vulkanisasi, membuat sabun, dll.
ä       Trimetil amina : suatu penarik serangga






BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan
senyawa amina mempunyai rumus umum adalah : RNH2 R2NH R3N:
Dimana R dapat berupa alkil. Amina merupakan senyawa organik yang terpenting dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki urutan yang paling penting dalam senyawa organik, oleh karena itu amina tidak terlepas dari semua unsur organik yang lain. Oleh karena itu sifat-sifat yang di pelajari dalam senyawa amina akan sangat membantu dalam memahami aspek kimiawi kelompok alkoid yang mempunyai peran penting dalam pembuatan obat-obat sinetik dewasa ini.

  1. Saran
Senyawa amina adalah senyawa organic yang berada di sekitar kita yang perlu kita ketahui fungsi dan kegunaanya dalam kehidupan sehari-hari

TUGAS KELOMPOK

“BENZENA DAN TURUNANNYA”




OLEH :

DESI FITRI                                  10321300
HENI ZULFIA A                         10321322
LIA NANDIA L                           10321329
MULYA HAPPY                                     10321340
MEGA SARI                                10321336



FAKULTAS KEGURUAAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMADIYAH METRO
2011










KATA PENGANTAR



Dengan mengucap puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia_Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Penulis menyadari dalam menyelesaikan makalah ini mengalami berbagai kendala, namun berkat bantuan dan dukungan dari semua pihak, kendala-kendala tersebut dapat diatasi.
                                                                                        
Oleh karenanya penulis tidak lupa menyampaikan terima kasih kapada:
1.      Ibu Mulyani  dosen pengampu mata kuliah kimia organik.
2.      Ayah dan ibu tercinta yang telah memberikan dukungan moril maupuun materil.
3.      Reken-rekan di kelas A program staid pendidikan biologi, yang telah       memberikan bantuandalam menyelesaikan makalah ini.

Semoga Allah SWT membalas budi baik dari semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan kepada penulis. Demikian lah penyusun makalah ini, mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.



                                                                                    Metro,… Juni 2011



                                                                                    Penulis 






DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar belakang masalah
1.2.Rumusan masalah
1.3.Tujuan penulisan
BAB II PEMBAHASAN
            2.1.      Struktur benzena
            2.2.      Struktur resonansi benzena
            2.3.      Sifat benzena
            2.4.      Reaksi-reaksi pada benzena
            2.5.      Senyawa turunan benzena
            2.6.      Tata nama senya benzena
            2.7.      Kegunaan benzena dan turunannya
            2.8.      Dampak benzena
BAB III PENUTUP
            3.1.      Kesimpulan
            3.2.      Saran

DAFTAR PUSTAKA











BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar belakang masalah.
Kimia organik adalah percabangan studi ilmiah dari ilmu kimia mengenai struktur, sifat, komposisi, reaksi, dan sintesis senyawa organik. Senyawa organik dibangun terutama oleh karbon dan hidrogen, dan dapat mengandung unsur-unsur lain seperti nitrogen, oksigen, fosfor, halogen dan belerang. Definisi asli dari kimia organik ini berasal dari kesalahpahaman bahwa semua senyawa organik pasti berasal dari organisme hidup, namun telah dibuktikan bahwa ada beberapa perkecualian. Bahkan sebenarnya, kehidupan juga sangat bergantung pada kimia anorganik; sebagai contoh, banyak enzim yang mendasarkan kerjanya pada logam transisi seperti besi dan tembaga, juga gigi dan tulang yang komposisinya merupakan campuran dari senyama organik maupun anorganik. Contoh lainnya adalah larutan HCl, larutan ini berperan besar dalam proses pencernaan makanan yang hampir seluruh organisme (terutama organisme tingkat tinggi) memakai larutan HCl untuk mencerna makanannya, yang juga digolongkan dalam senyawa anorganik. Mengenai unsur karbon, kimia anorganik biasanya berkaitan dengan senyawa karbon yang sederhana yang tidak mengandung ikatan antar karbon misalnya oksida, garam, asam, karbid, dan mineral. Namun hal ini tidak berarti bahwa tidak ada senyawa karbon tunggal dalam senyawa organik misalnya metana dan turunannya.
Salah satu cabang dalam ilmu Kimia Organik adalah Kimia Organik Bahan Alam yang juga merupakan tumpang tindih dengan Biokimia

1.2.Rumusan masalah.
Dari latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan beberapa rumusan yaitu :
1.Apa sajakah yang termasuk ke dalam senyawa-senyawa organik?
2.Salah satu senyawa organik yang memiliki bahasan tersendiri adalah benzena, bagaimanakah struktur benzena itu sendiri dan turunanya!


1.3.Tujuan penulisan.
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.      Sebagai tugas kelompok yang dikumpul pada saat sebelum ujian akhir semester  untuk mata kuliah kimia organik.
2.      Merupakan rangkuman atau review yang kami bahas dalam presentasi kelas mata kuliah kimia organik.
























BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Struktur benzena.













atau













Struktur Kekule Benzena
Struktur benzena pertama kali diperkenalkan oleh Kekule pada tahun 1865. Menurutnya, keenam atom karbon pada benzena tersusun secara melingkar membentuk segi enam beraturan dengan sudut ikatan masing-masing 120 derajat. Ikatan antara karbon adalah ikatan rangkap dua dan ikatan tunggal yang berselang seling, seperti diperlihatkan gambar di atas.
Benzena termasuk senyawa aromatik dan memiliki rumus molekul C6H6. Rumus molekul benzena memperlihatkan sifat ketakjenuhan dengan adanya ikatan rangkap. Tetapi ketika dilakukan uji bromin benzena tidak memperlihatkan sifat ketakjenuhan karena benzena tidak melunturkan warna dari air bromin. Mengapa demikian?
Berdasarkan hasil analisis, ikatan rangkap dua karbon-karbon pada benzena tidak terlokalisasi pada karbon tertentu melainkan dapat berpindah-pindah. Gejala ini disebut resonansi. Adanya resonansi pada benzena ini menyebabkan ikatan pada benzena menjadi stabil, sehingga ikatan rangkapnya tidak dapat diadisi oleh air bromin.

2.2. Struktur Resonansi Benzena.
Resonansi terjadi karena adanya delokalisasi elektron dari ikatan rangkap ke ikatan tunggal. Delokalisasi elektron yang terjadi pada benzena pada struktur resonansi adalah sebagai berikut:
Hal yang harus diperhatikan adalah, bahwa lambang resonasi bukan struktur nyata dari suatu senyawa, tetapi merupakan struktur khayalan. Sedangkan struktur nyatanya merupakan gabungan dari semua struktur resonansinya. Hal ini pun berlaku dalam struktur resonansi benzena, sehingga benzena lebih sering digambarkan sebagai berikut:
Teori resonansi dapat menerangkan mengapa benzena sukar diadisi. Sebab, ikatan rangkap dua karbon-karbon dalam benzena terdelokalisasi dan membentuk semacam cincin yang kokoh terhadap serangan kimia, sehingga tidak mudah diganggu. Oleh karena itulah reaksi yang umum pada benzena adalah reaksi substitusi terhadap atom H tanpa mengganggu cincin karbonnya.

Gambar 3 dimensi Struktur Benzena

Gambar Molimod Struktur Benzena

2.3. Sifat benzena.
            Sifat fisik :
·         Zat cair tidak berwarna
·         Memiliki bau yang khas
·         Mudah menguap
·         Tidak larut dalam pelarut polar seperti air air,
tetapi larut dalam pelarut yang kurang polar atau nonpolar,
seperti eter dan tetraklorometana
·         Titik Leleh : 5,5 derajat Celsius
·         Titik didih : 80,1derajat Celsius
·         Densitas : 0,88
Sifat kimia :
  • Bersifat kasinogenik (racun)
  • Merupakan senyawa nonpolar
  • Tidak begitu reaktif, tapi mudah terbakar dengan menghasilkan banyak jelaga
  • Lebih mudah mengalami reaksi substitusi dari pada adisi.


2.4. Reaksi-reaksi pada benzena.
Benzena merupakan senyawa yang kaya akan elektron, sehingga jenis pereaksi yang akan menyerang cincin benzena adalah pereaksi yang suka elektron. Pereaksi seperti ini disebut elektrofil. Contohnya adalah golongan halogen dan H2SO4.
1.Halogenasi
Halogenasi merupakan reaksi substitusi atom H pada benzena oleh golongan halogen seperti F, Cl, Br, I. Pada reaksi ini atom H digantikan oleh atom dari golongan halogen dengan bantuan katalis besi (III) halida. Jika halogennya Cl
2, maka katalis yangdigunakanadalahFeCl3.
Contoh:
Untuk lebih memahami reaksi halogenasi pada benzena perhatikan animasi dari mekanisme reaksi halogenasii di bawah ini:

2.Nitrasi
Nitrasi merupakan reaksi substitusi atom H pada benzena oleh gugus nitro. Reaksi ini terjadi dengan mereaksikan benzena dengan asam nitrat (HNO
3) pekat dengan bantuan H2SO4 sebagai katalis. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
Untuk lebih memahami reaksi nitrasi pada benzena perhatikan animasi dari mekanisme reaksi nitrasi di bawah ini:

3.Sulfonasi
Sulfonasi merupakan reaksi substitusi atom H pada benzena oleh gugus sulfonat. Reaksi ini terjadi apabila benzena dipanaskan dengan asam sulfat pekat sebagai pereaksi.

4.Alkilasi–FriedelCraft
Alkilbenzena dapat terbentuk jika benzena direaksikan dengan alkil halida dengan katalis alumunium klorida (AlCl
3)

2.5.                        Senyawa turunan benzena.
Kemudahan benzena mengalami reaksi substitusi elektrofilik menyebabkan benzena memiliki banyak senyawa turunan. Semua senyawa karbon yang mengandung cincin benzena digolongkan sebagai turunan benzena. Berikut ini beberapa turunan benzena yang umum:
Struktur
Nama
Struktur
Nama
Toluena
Fenol
p-xilena
Benzaldehida
Stirena
Asam Benzoat
Anilina
Benzil alkohol
Selain senyawa-senyawa di atas, masih banyak lagi senyawa turunan benzena yang terdapat di sekitar kita baik itu dengan satu substituen yang terikat pada cincin benzena, ataupun dua substituen atau lebih.
2.6.                        Tata nama senyawa turunan benzena.
Dalam sistem penamaan IUPAC, cincin benzena dianggap sebagai induk, sama seperti rantai terpanjang dalam alkana. Gugus-gugus fungsi lain yang terikat pada benzena dianggap sebagai cabang.
a. Tata Nama Senyawa Turunan Benzena dengan satu substituen yang terikat pada cincinbenzena.
Perhatikan beberapa contoh berikut:


Etil benzena

bromobenzena

nitrobenzena





Dari ketiga contoh di atas, dapat terlihat bahwa gugu alkil seperti etil, golongan halogen seperti bromo, dan gugus nitro dituliskan sebagai awalan pada benzena.
Benzena yang kehilangan satu atom H disebut fenil (C6H5-) dengan struktur sebagai berikut:
fenil
Sehingga klorobenzena dapat juga disebut fenilklorida dan bromobenzena dapai disebut fenilbromina
klorobenzena = fenilklorida
Sedangkan toluena yang kehilangan satu atom Hnya disebut benzil dengan struktur sebagai berikut:
Benzil
Sehingga, senyawa turunan benzena yang tersusun dari toluena yang kehilangan satu atom H diberi nama dengan awalan benzil, seperti contoh dibawah ini:
Benzilamina
b. Tata Nama Senyawa Turunan Benzena dengan dua substituen yang terikat pada cincinBenzena Jika terdapat dua jenis substituen, maka posisi substituen dapat dinyatakan dengan awalan o (orto), m (meta), p (para) atau dengan menggunakan angka.









 








orto

meta

para







Perhatikan contoh-contoh berikut:



o-dibromobenzena

m-kloroanilina

p-nitrofenol







Urutan prioritas penomoran untuk beberapa substituen yang umum:
Arah tanda panah menunjukkan substituen yang semakin prioritas, 
maka penomorannya dengan nomor yang semakin kecil
c. Tata Nama Senyawa Turunan Benzena dengan lebih dari dua substituen yang terikat pada cincin benzena
Sedangkan jika terdapat tiga substituen atau lebih pada cincin benzena, maka sistem o, m, p tidak dapat diterapkan lagi dan hanya dapat dinyatakan dengan angka. Perhatikan contoh berikut:


1,2,4-trinitro benzena

2,4,6-trinitotoluena
Urutan prioritas penomoran sama denganprioritas penomoran pada tata nama benzena yang tersubtitusi oleh dua substituen.
CatatanPenting!
Jika sebuah cincin benzena terikat pada suatu rantai alkana yang bergugus fungsi atau rantai alkana yang terdiri dari 7 atom karbon atau lebih, maka cincin benzena dianggapsebagaisubstituenbukanlagisebagaiinduk.
Perhatikan contoh berikut:
2-fenil-1-etanol

2-feniloktana
2.7. Kegunaan benzena dan turunanya.
Kegunaan  benzena yang terpenting adalah sebagai pelarut dan sebagai bahan baku pembuatan senyawa-senyawa aromatik lainnya yang merupakan senyawa turunan benzena. Masing-masing dari senyawa turunan benzena tersebut memiliki kegunaan yang beragam bagi kehidupan manusia. Berikut ini beberapa senyawa turunan Benzena dan kegunaannya:
1.Toluena
Toluena digunakan sebagai pelarut dan sebagai bahan dasar untuk membuat TNT (trinitotoluena), senyawa yang digunakan sebagai bahan peledak (dinamit).
2.Stirena.
Stirena digunakan sebagai bahan dasar pembuatan polimer sintetik polistirena melalui proses polimerisasi. Polistirena banyak digunakan untuk membuat insolator listrik, boneka, sol sepatu serta piring dan cangkir.
Struktur Polistirena
3.Anilina.
Anilina merupakan bahan dasar untuk pembuatan zat-zat warna diazo. Anilina dapat diubah menjadi garam diazonium dengan bantuan asam nitrit dan asam klorida.
Garam diazonium selanjutnya diubah menjadi berbagai macam zat warna. Salah satu contohnya adalah Red No.2 yang memiliki struktur sebagai berikut:
Struktur Zat Pewarna Red No.2

Red No.2 dulunya digunakan seabagai pewarna minuman, tetapi ternyata bersifat sebagai mutagen. Oleh karena itu, sekarang Red No.2 digunakan sebagai pewarna wol dan sutera.
4.Benzaldehida.
Benzaldehida digunakan sebagai zat pengawet serta bahan baku pembuatan parfum karena memiliki bau yang khas. Benzaldehida dapat berkondensasi dengan asetaldehida (etanal), untuk menghasilkan sinamaldehida (minyak kayu manis).
5.Fenol.
Dalam kehidupan sehari-hari fenol dikenal sebagai karbol atau lisol yang berfungsi sebagai zat disenfektan.
6.AsamBenzoatdanTurunannya
Terdapat beberapa turunan dari asam benzoat yang tanpa kita sadari sering kita gunakan,diantaranyaadalah:
Asam asetil salisilat atau lebih dikenal dengan sebutan aspirin atau asetosal yang biasa digunakan sebagai obat penghilang rasa sakit (analgesik) dan penurun panas (antipiretik). Oleh karena itu aspirin juga digunakan sebagai obat sakit kepala, sakit gigi, demam dan sakit jantung. Penggunaan dalam jangka panjang dapat menyebabkan iritasi lapisan mukosa pada lambung sehingga menimbulkan sakit maag, gangguan ginjal, alergi, dan asma.

Asam asetil salisilat

Natrium benzoat yang biasa ggunakan sebagai pengawet makanan dalam kaleng.

Natrium Benzoat
Metil salisilat adalah komponen utama obat gosok atau minyak angin.

Metil Salisilat

Asam tereftalat merupakan bahan serat sintetik polyester.

Asam Tereftalat

Parasetamol (asetaminofen) memiliki fungsi yang sama dengan aspirin tetapi lebih aman bagi lambung. Hampir semua obat yang beredar dipasaran menggunakan zat aktif parasetamol. Penggunaan parasetamol yang berlebihan dapat menimbulkan gangguan ginjal dan hati.

Parasetamol


Diagram Kegunaan Benzena dan Turunannya:
2.8. Dampak benzena.
Telah disebutkan bahwa benzena memiliki sifat racun atau kasinogenik, yaitu zat yang dapat membentuk kanker dalam tubuh manusia jika kadarnya dalam tubuh manusia berlebih. Beberapa penelitian menunjukan bahwa benzena merupakan salah satu penyebab leukemia, penyakit kanker darah yang telah banyak menyebabkan kematian.
Dampak kesehatan akibat paparan Benzena berupa depresi pada sistim saraf pusat hingga kematian. Paparan Benzena antara 50–150 ppm dapat menyebabkan sakit kepala, kelesuan, dan perasaan mengantuk. Konsentrasi Benzena yang lebih tinggi dapat menyebabkan efek yang lebih parah, termasuk vertigo dan kehilangan kesadaran. Paparan sebesar 20.000 ppm selama 5 – 10 menit bersifat fatal dan paparan sebesar 7.500 ppm dapat menyebabkan keracunan jika terhirup selama 0,5 – 1 jam. Dampak yang ringan dapat berupa euforia, sakit kepala, muntah, gaya berjalan terhuyung-huyung, dan pingsan
   

























BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan.
            Benzena termasuk senyawa aromatik dan memiliki rumus molekul C6H6. Rumus molekul benzena memperlihatkan sifat ketakjenuhan dengan adanya ikatan rangkap. Teori resonansi dapat menerangkan mengapa benzena sukar diadisi. Sebab, ikatan rangkap dua karbon-karbon dalam benzena terdelokalisasi dan membentuk semacam cincin yang kokoh terhadap serangan kimia, sehingga tidak mudah diganggu. Oleh karena itulah reaksi yang umum pada benzena adalah reaksi substitusi terhadap atom H tanpa mengganggu cincin karbonnya.
Tata nama senyawa benzena Dalam sistem penamaan IUPAC, cincin benzena dianggap sebagai induk, sama seperti rantai terpanjang dalam alkana. Gugus-gugus fungsi lain yang terikat pada benzena dianggap sebagai cabang.
           
3.2. Saran.
            Setiap senyawa organik memiliki fungsi dan kegunaanya masing-masing. Namun penggunaan yang salah dapat menyebabkan beberapa hal yang fatal. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan senyawa-senyawa organik tersebut sesuai dengan kegunaanya masing-masing dan jangan melakukan hal-hal yang dapat merugikan orang lain demi keuntungan pribadi atau pun kelompok.










DAFTAR PUSTAKA

Anonimus.2011.http://www.docstoc.com/docs/26657344/BENZENA-DAN-TURUNANNYA. Rabu, 8 juni 2011. Pukul 10:20

Anonimus.2011.http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2008/Siti%20Latifah%20A_054413/BenZena.Com/1.html. Rabu, 8 juni 2011. Pukul 10:20


TUGAS KELOMPOK
KIMIA ORGANIK
UMASAM KARBOKISLAT







Disusun Oleh:

Nama
NPM
1.      Henny Supriyati
2.      Fitri wulandari
3.      Denny prasetia
4.      Redi fananda
5.      Elis setiawati
10321323
10321320
103213
103213
103213


BIOLOGI A

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVRSITAS MUHAMMADIYAH METRO
2011




KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena hanya dengan berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan  tugas kelompok Morfologi Tumbuhan ini.
Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan tugas ini. Kami mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Bapak Mulyani, M.Pd  selaku dosen mata kuliah kimia organik
2.      Orang tua di rumah yang telah membantu kami dalam segi moril dan spiritual.
3.      Teman-teman FKIP terutama prodi Pendidikan Biologi.

Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sangat kami harapkan sebagai bahan bagi kami di masa mendatang.
Harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan kita mengenai kimia organik .
                                                                  
Metro,    Mei 2011

                                                                                             Penulis




BAB I
PEMBAHASAN
1.1    ASAM KARBOKSILAT
Asam karbokislat dan ester merupakan senyawa karbon yang mempunyai gugus karboksil yang sama . pada asam karboksilat gugus tersebut akan  mengikat gugus alkil H ,sedangkan untuk ester akan mengikat dua gugus alkil . rumus kimia asam karboksilat secara umum dapat di nyatakan sebagai CnH2NO2
1.2    Rumus Umum
Asam alkanoat atau asam karboksilat merupakan golongan senyawa karbon yang
mempunyai gugus fungsional –COOH terikat langsung pada gugus alkil, sehingga rumus
umum asam alkanoat adalah : R-COOH
Mengandung gugus COOH yang terikat pada gugus alkil (R-COOH) maupun gugus aril (Ar-COOH)
      Kelarutan sama dengan alkohol
      Asam dengan jumlah C 1 – 4       : larut dalam air
      Asam dengan jumlah C = 5           : sukar larut dalam air
      Asam dengan jumlah C > 6           : tidak larut dalam air
      Larut dalam pelarut organik seperti eter, alkohol, dan benzen
      TD asam karboksilat > TD alkohol dengan jumlah C sama.
Struktur  Asam Karboksilat : R – COOH dan Ar – COOH


image017


image018CH3-CH2-CH2-CH2-COOH                                      COOH
          Valelat                           
CH3-COOH (asam asetat)                  Asam benzoat
1.3     Tata Nama
Tatanama Asam karboksilat
Karena banyak terdapat dialam, asam-asam karboksilat adalah golongan senyawa yang paling dulu dipelajari oleh kimiawan organik. Karena tidak mengherankan jika banyak senyawa-senyawa asam mempunyai nama-nama biasa. Nama-nama ini biasanya diturunkan dari bahasa Latin yang menunjukkan asalnya. Tabel 12.8 memuat nama-nama asam berantai lurus beserta nama IUPAC-nya. Banyak dari asam ini mula-mula dipisahkan dari lemak sehingga sering dinamakan sebagai asam-asam lemak (struktur  lemak secara terinci dibahas dalam bab berikutnya). Untuk memperoleh nama IUPAC suatu asam karboksilat (Tabel 12.8 kolom terakhir) diperlukan awalan kata asam da akhiran at.
Asam-asam bersubstitusi diberi nama menurut dua cara. Dalam sisitem IUPAC, nomor rantai dimulai dari asam karbon pembawa gugus karboksil dan substituen diberi nomor lokasi. Jika nama umum yang digunakan lokasi substituen dilambangkan dengan huruf latin, dimulai dengan atom karbon α.

tabel_12_8
iupac
Jika gugus karboksilat dihubungkan dengan cincin, akhiran karboksilat ditambahkan pada nama induk sikloalkana.
asam_siklo
Asam-asam aromatic juga diberi tambahan –at pada turunan hidrokarbon aromatiknya. Beberapa contoh diantaranya :

Penamaan senyawa-senyawa asam alkanoat atau asam karboksilat juga ada dua cara
yaitu :
1) Menurut IUPAC : mengikuti nama alkananya dengan menambahkan nama asam di
depannya dan mengganti akhiran “ ana “ pada alkana dengan akiran “ anoat “ pada
asam Alkanoat.
2) Menurut Trivial, penamaan yang didasarkan dari sumber penghasilnya.

Contoh:
Tabel PENAMAAN SENYAWA ASAM KARBOKSILAT
Rumus Struktur
Nama IUPAC
Nama Trivial
Sumber
HCOOH
CH3COOH
C2H5COOH
CH3(CH2)COOH
CH3(CH2)3COOH
CH3(CH2)4COOH
Asam Metanoat
Asam Etanoat
Asam Propanoat
Asam Butanoat
Asam Rentanoat
Asam Heksanoat
Asam Format
Asam Asetat
Asam Propionat
Asam Butirat
Asam Valerat
Asam Kaproat
Semut (Formica)
Cuka (Asetum)
Susu (Protospion)
Mentega (Butyrum)
Akar Valerian (Valere)
Domba (Caper)


Untuk senyawa-senyawa asam alkanoat yang mempunyai rumus struktur bercabang
aturan penamaan IUPAC adalah sebagai berikut :
1) Tentukan rantai utama dengan memilih deretan C paling panjang dan mengandung
gugus fungsi –COOH, kemudian diberi nama seperti pada tabel di atas.
2) Penomoran atom C dimulai dari atom C gugus fungsi, sedang aturan selanjutnya sama
dengan yang berlaku pada senyawa-senyawa hidrokarbon.
Contoh :
a) CH3–CH2–CH (CH3)–COOH Asam 2, metil Butanoat
1.4    Sifat – Sifat Asam Karboksilat
Secara umum senyawa-senyawa asam alkanoat atau asam karboksilat mempunyai
sifat-sifat sebagai berikut :
1) a) Asam alkanoat yang mengandung C1 sampai C4 berbentuk cairan encer dan larut
sempurna dalam air
b) Asam alkanoat dengan atom C5 sampai C9 berbentuk cairan kental dan sedikit larut
dalam air
c) Asam alkanoat suku tinggi dengan C10 atau lebih berbentuk padatan yang sukat
larut dalam air.
2) Titik didih asam alkanoat lebih tinggi dibandingkan titik didih alkohol yang memiliki
jumlah atom C yang sama.
3) Asam alkanoat pada umumnya merupakan asam lemah. Semakin panjang rantai
karbonnya semakin lemah sifat asamnya.
Contoh :
HCOOH Ka = 1,0 . 10–4

CH3COOH Ka = 1,8 . 10–5

CH3CH2COOH Ka = 1,3 . 10–5

4) Asam alkanoat dapat bereaksi dengan basa menghasilkan garam. Reaksi ini disebut
reaksi penetralan.
a) CH3COOH + NaOH -------------> CH3COONa + H2O
Asam Etanoat Natrium Etanoat

5) Asam alkanoat dapat bereaksi dengan alkohol menghasilkan senyawa ester. Reaksi ini
dikenal dengan reaksi esterifikasi.
a) CH3COOH + CH3–OH ------------------> CH3COOHCH3 + H2O
Asam Etanoat Metanol Metil Etanoat

b) CH3CH2COOH + CH3CH2–OH -------------> CH3CH2COOCH3 + H2O
Asam Propanoat Etanol Etil Propanoat

1.5  Kegunaan Asam Alkanoat
Penggunaan asam alkanoat dalam kehidupan sehari-hari antara lain :
1) Asam format (asam metanoat) yang juga dikenal asam semut merupakan cairan tak
berwarna dengan bau yang merangsang. Biasanya digunakan untuk :
a) menggumpalkan lateks (getah karet)
b) obat pembasmi hama
2) Asam asetat atau asam etanoat yang dalam kehidupan sehari-hari dikenal dengan nama
asam cuka. Asam cuka banyak digunakan sebagai pengawet makanan, dan penambah
rasa makanan (baksa dan soto)
3) Asam sitrat biasanya digunakan untuk pengawet buah dalam kaleng
4) Asam stearat, asam ini berbentuk padat, berwarna putih. Dalam kehidupan sehari-hari
terutama digunakan untuk membuat lilin.

1.6  REAKSI ASAM KARBOKSILAT
Asam karboksilat adalah golongan senyawa organik yang memiliki rumus umum R-COOH. Beberapa reaksi yang dapat terjadi pada asam karoksilat antara lain:
  1. Reaksi penetralan
Asam karboksilat bereaksi dengan basa membentuk garam dan air.
Garam natrium atau kalium dari asam karboksilat suku tinggi dikenal sebagai sabun. Sabun natrium disebut sabun keras, sedangkan sabun kalium disebut sabun lunak. Sebagai contoh, yaitu natrium stearat (NaC17H35COO) dan kalium stearat (KC17H35COO).
Asam alkanoat tergolong asam lemah, semakin panjang rantai alkilnya, semakin lemah asamnya. Jadi, asam alkanoat yang paling kuat adalah asam format, HCOOH. Asam format mempunyai Ka=1,8x10-4. Oleh karena itu, larutan garam natrium dan kaliumnya mengalami hidrolisis parsial dan bersifat basa.
  1. Reaksi Pengesteran
Asam karboksilat bereaksi dengan alkohol membentuk ester. Reaksi ini disebut esterifikasi (pengesteran).
1.7 PEMBUATAN ASAM KARBOKSILAT
Ø    Oksidasi alkohol primer dengan aksidator kuat
                     KMNO4
R-CH2OH-----------à R-COOH + H2O
CONTOH :
                         KMNO4
CH----CH2OH ------à CH3 -----COOH +H2O
Ø    Oksidasi alkil benzen
Ø    Carbonasi Reagen Grignard
Ø    Hidrolisin alkana karboksitrik (rcn) pada suhu tinggi dan dalam lingkungan asam kuat
                         H+
R-CN+2H2O--------àR-COOH+NH4+
Contoh ;
                                 H+
CH3 –CN +2H2O --------àCH3 –COOH +NH4+

MAKALAH
KIMIA ORGANIK
ORGANOHALOGEN
Description: D:\Logo\UM.BMP


DI SUSUN OLEH     :



NO
NAMA
NPM
PARAF
1
Ade siska febriani
103211288

2
Dwi novitasari
10321305

3
Miftahul huda
10321337

4
Nur hasanah
10321342

5
Rahayu widosari
10321347



Program Studi Pendidikan Biologi


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO
2011
DAFTAR ISI






















KATAS PENGANTAR
Description: A025

Alhamduliilahirobbil’alamin, penulis memuji syukur kehadirat Allah SWT karena sampai detik ini Allah SWT masih bermurah hati memberikan segala karunia-Nya sehangga penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang disusun guna memenuhi tugas mata kuliah morfologi tumbuhan.
Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan pada Nabi Muhammad SAW sebagai Rahmatan Lil’alamin. Semoga kelak kita menjadi salah satu umatnya yang mendapatkan syafa’at dari beliau. Amin, Ya Robbal’alamin.
Pada kesempatan kali ini panulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan bantuan baik dari segi moril maupun mateil dan yang secara langsung maupun tidak langsung:
1.           Ratini           selaku dosen pengampu mata kuliah MIPA tumbuhan dan dosen pembimbing penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
2.      Ayah dan ibu kami, semoga Allah SWT selalu melimpahkan karunia-Nya dalam bentuk kesehatan, kemurahan rizki-Nya, dan kesehatan untuk kalian. Semoga Allah SWT mempermudah jalannya dalam menggapai ridho-Nya.
3.      Teman-teman yang lain yang telah memberikan dukungannya.
4.      Pihak lain yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Sebagai hamba Allah SWT, penulis yakin bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu dengan segala krendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi memperoleh hasil yang lebih baik dikesempatan mendatang.



Metro, 10 Mei 2011




Penulis





BAB I
PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG
Haloalkana adalah senyawa hidrokarbon yang mengikat satu atau lebih unsure halogen  (F,Cl,Br,I). Cara pemberian nama senyawa haloalkana, yaitu menyebutkan atom halogen (F=flour, Cl=cloro,Br=bromo,I=iodo) diikuti nama alkana yang mengikatnya. Untuk penomoran dimulai dari atom C yang  terdekat dengan cabang (jika jarak sama, maka dilihat dari urutan kereaktifanya F>Cl>Br>I. Halogenalkana bisa dibuat dari reaksi antara alkena dengan hidrogen halida, akan tetapi halogenalkana lebih umum dibuat dengan cara mengganti gugus -OH pada sebuah alkohol dengan atom halogen. Haloalkana merupakan senyawa karbon di mana atom karbon berikatan dengan halogen. Terbentuk dari substitusi atom hidrogen pada alkana oleh halogen

B. RUMUSAN MASALAH
    1. Apakah pengertian haloalkana
    2. Bagaimna cara pembuatannya
    3. Bagaimana cara menggunakannya

C. TUJUAN PENULISAN
        1.   Mendiskripsikan pengertian Haloalkana
        2.   Mendiskripsikan kegunaan haloalkana
3.       Mendiskripsikan cara pembuatan haloalkana
      

D. MANFAAT PENULISAN

Tulisan ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan para pembaca, kususnya para Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Metro, agar dapat lebih jelas bagaimana. Tatacara pemberian nama-nama, penggunaan dan pembuatannya.





BAB II
PEMBAHASAN

Tata nama haloalkana :

1. Rantai utama dipilih rantai atom karbon terpanjang yang mengandung atom halogen
2. Penomoran dimulai dari atom C yang mengikat dan/atau berdekatan dengan atom C yang mengikat halogen
3. Nama halogen ditulis terlebih dahulu disusul nama alkananya.
Contoh :
1. CH3CH2CH2Br (bromometana)
2. CH3CH2Cl (kloroetana)
pemberian nama alkil halide dapat dilakukan dengan dua cara:                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       
4                 3              2                1
CH3      CH      CH       CH          : 3-kloro-2-flurobutana
            CI         F

*      Sistem IUPAC
Alkil halide diberi nama dengan awalan halo-
Contoh:

CH3  F                                     CH3-CH2-CI                                       CH3-CH-CH3

                                                                                                                      Br

Fluorometana                          kloroetana                                           2-bromopropana

Jika tredapat lebih dari satu atom halogen, maka diberi nama di=2,tri=3 dan tetra=4 untuk menyatakan jumlah atom halogen tersebut.


Contoh:
CH 2CI – CH 2CI                                            CHCI3                                                 CCI4

1,2-diklorometana                               Trikloromrtana                                    2-bromoproana


*      Gugus-fungsional trivial
Dalam pemberian nama alkil halide diawali dengan gugus alkil, diikuti nama halidanya. Tipe alkil halida berdasarkan struktur bagian alkilnya dapat dibagi menjadi  empat yaitu metal,primer,sekunder, tersier. Metal halide (RX) satu hydrogen dari metana digantikan oleh sebuah halogen
Contoh:

C H 3 -- F                                 C H 3 – C H 2 – C I                             C H 3 – C H – C H 3

                                                                                                                         Br
Metil fluorida                          Etil klorida                                          Isopropil bromide

B. Kegunaan CFC

            CFC merupakan zat-zat yang tidak mudah terbakar dan tidak terlalu toksik. Dengan demikian zat ini memiliki banyak kegunaan.
CFC digunakan sebagai pendingin, bahan bakar untuk aerosol, untuk menghasilkan plastik busa seperti busa polistirena atau poliuretana yang memuai, dan sebagai pelarut untuk pembersihkeringan dan untuk tujuan-tujuan pengeringan minyak.
Sayangnya, CFC dapat merusak lapisan ozon. Pada lapisan atmosfir yang tinggi, ikatan C-Cl akan terputus menghasilkan radikal-radikal bebas klorin. Radikal-radikal inilah yang merusak ozon. CFC sekarang ini telah digantikan oleh senyawa-senyawa yang lebih ramah lingkungan.
CFC juga bisa menyebabkan pemanasan global. Satu molekul CFC-11 misalnya, memiliki potensi pemanasan global sekitar 5000 kali lebih besar ketimbang sebuah molekul karbon dioksida.
Di sisi lain, terdapat jauh lebih banyak karbon dioksida di udara ketimbang CFC, sehingga 



C. PEMBUATAN HALOALKANA

Pembuatan haloalkana dapat dilakukan dengan  beberapa penjelasan berikut
1.      Pembuatan haloalkana dari alkana
Reaksi katalis dengan gas klorin yang merupakan reaksi subsitusi. Reaksi ini dapat berlangsung melalaui katalis sinar matahari.
Contohnya:
CH                  +          Cl2                               CH3 Cl             +          HCl
Metana                                                       Monoklorometana
CH3 Cl             +          Cl2                                         CH2 Cl 2              +              HCl
Monoklorometana                                                   Diklorometana
2.      Pembuatan haloalkana dari alkena
Reaksi alkena dengan hidrokarbon halogenida merupakan reaksi adesi. Tempat terikatnya atom halida pada rantai karbon tergantung pada tempat terjadinya ikatan jenuh.
Contohnya :
CH3 CH=CH2             +   HCl                        CH3  CH         CH

                                                            Cl
       Propena                            2-kloropropana
3.      Pembuatan haloalkanan dari halogen
Reaksi alkena dengan gas kelorin merupakan reaksi adisi , menghasilkan dihaloalkana
CH2 =CH2       +          Cl2                         CH2 Cl      CH2 Cl
Etana                                                1,2 dikloroetana

4.      Pembuatan haloalkana dari alkohol
Alkohol dapat bereaksi dengan aasam klorida, asam bromina, atau asam iodida menghasilkan haloalkana.
Contohnya :
C2 H5 OH        +          HCl                 C2 H5 Cl           +          H2 O
Etanol                                               etil klorida

5.      Pembuatan haloalkana dari alkohol dengan fosfortriklorida
Reaksi alkohol dengan   fosfortriklorida merupakan reaksi subtitusi , menghasilkan akil klorida.
Contohnya :
3C2 H5 OH        +              PCl 2                                     `3C 2 H5 C        +          H3 PO3
ETANOL                                   fosfortilorida                           etil klorida.














BAB III
PENUTUP

Demikian makalah tetang Haloalkana dalam kimia organik, semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah pengetahuan dan dapat bermanfaat bagi kita semua

Kesimpulan

Haloalkana adalah senyawa hidrokarbon yang mengikat satu atau lebih unsure halogen  (F,Cl,Br,I). Cara pemberian nama senyawa haloalkana, yaitu menyebutkan atom halogen (F=flour, Cl=cloro,Br=bromo,I=iodo) diikuti nama alkana yang mengikatnya
1.       Rantai utama dipilih rantai atom karbon terpanjang yang mengandung atom halogen
2. Penomoran dimulai dari atom C yang mengikat dan/atau berdekatan dengan atom C yang mengikat halogen
3. Nama halogen ditulis terlebih dahulu disusul nama alkananya.


























0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger.....