hai... blogger | Members area : Register | Sign in

ingin blog anda dapat iklan KLIK GAMBAR DIBAWAH INI !!!

Online Job for All. Work from home computer.

pembibitan karet sampai cara penyadapan

Berdasarkan kunjungan lapang yang telah dilaksanakan di perkebunan renteng yang terdapat di daerah Jenggawa kabupaten Jember kami dapat mengetahui cara budidaya tanaman karet dari awal pembibitan sampai pengambilan lateks. Dalam budidaya karet tahap yang pertama yaitu dari pembibitan karet, pembuatan kebun entress, okulasi (penggunaan klon unggul), pemeliharaan kebun karet, penyadapan hingga penanganan pasca panen/pengolahan lateks.
1)        Pembibitan Tanaman Karet
Pembibitan karet adalah salah hal penting yang perlu diperhatikan benar pelaksanaannya. Jenis klon karet akan sangat mempengaruhi banyaknya getah yang akan dihasilkan nantinya apabila tanaman sudah mulai besar. Tanaman karet sendiri dapat diperbanyak dengan cara vegetatif maupun secara generatif.
Dalam pembibitan karet secara generatif yaitu melalui biji, maka biji tersebut dapat diperoleh dari kebun benih yang kemudian perlu adanya seleksi biji untuk mendapatkan biji yang terbaik. Cara manual yang bisa dilakukan adalah melalui metode pelentingan menggunakan alat penguji pelentingan biji karet. Langkah awal untuk mendapatkan biji berkualitas baik adalah dengan memasukkan biji karet tersebut kedalam alat penguji, dan apabila biji tersebut dapat memantul keatas yang menandakan bahwa biji tersebut bagus. 
Penanaman bibit tanaman karet harus tepat waktu untuk menghindari tingginya angka kematian di lapang. Waktu tanam yang sesuai adalah pada musim hujan. Selain itu perlu disiapkan tenaga kerja untuk kegiatan-kegiatan dalam pembuatan lubang tanam, pembongkaran, dan penanaman bibit.
Sebelum bibit ditanam, terlebih dahulu dilakukan seleksi bibit untuk memperoleh bahan tanam yang memeliki sifat-sifat umum yang baik antara lain : berproduksi tinggi, responsif terhadap stimulasi hasil, resitensi terhadap serangan hama dan penyakit daun dan kulit, serta pemulihan luka kulit yang baik. Beberapa syarat yang harus dipenuhi bibit siap tanam adalah antara lain :
a.    Bibit karet di polybag yang sudah berpayung dua.
b.    Mata okulasi benar-benar baik dan telah mulai bertunas.
c.    Akar tunggang tumbuh baik dan mempunyai akar lateral.
d.    Bebas dari penyakit jamur akar (jamur akar putih).
Untuk kebutuhan bibit, dengan jarak tanam 7 m x 3 m (untuk tanah landai), diperlukan bibit tanaman karet untuk penanaman sebanyak 476 bibit, dan cadangan untuk cadangan sebanyak 10% (47 bibit) sehingga untuk setiap hektar kebun diperlukan sebanyak 523 batang bibit karet.
2)        Pembuatan Kebun Entres dan Penggunaan Klon Unggul Pada Kebun Entres
Klon merupakan tanaman yang diperoleh darai hasil perbanyakan secara vegetatif. Klon dihasilkan melalui penelitian dan pengujian selama bertahun tahun. Klon memiliki kelebihan daripada tanaman yang dikembangkan melalui biji antara lain tumbuhnya lebih serempak dan seragam dan jumlah lateks yang dihasillkan jauh lebih banyak.
Penamaan klon tanaman karet berasal dari lembaga yang melakukan penelitian klon tersebut misalnya klon BPM meruapakan hasil penelitian dan pengembangan dari Balai Penelitian Medan, begitu pula klon yang lainnya seperti klon RRIM (Rubber Research Institute of Malaysia), GT (GOndang Tapen), AVROS (Algemene Vereneging van Rubberonderneming en in Oost Sumatera), PB(Prang Besar), PR (Proefstation),LCB (Land Caoutchouc) danWR (Wangon Rejo). Tetua dalam persilangan buatan buatan banyak menggunakan klon seri BPM dan GT dari Indonesia. Sedangkan tetua lain, seperti beberapa klon seri RRIM, PB (berasal dari Malaysia) dan RRIC (berasal dari Sri Lanka) masuk ke Indonesia melaalui program pertukaran klon internasional yang dilakukan pada tahun 1974.
Sejak pertama kali dilakukan, pemuliaan karet di Indonesia saat ini telah memasuki periode atau siklus generasi ke-4 (keempat). Pembagian tahapan tersebut menurut Suhendry, I. (2002) adalah:
a.    Generasi I (<1930) : seedling terpilih
b.    Generasi II (1930 – 1960) : AVROS 2037, PIL-B 84, PB 86, Tjir 1, GT 1, LCB 1320, LCB 479, PR 107, WR 101.
c.    Generasi III (1983-1992) : PR 255, PR 261, PR 228, PR 300, PR 303, RRIM 600, BPM 1 dan seri TM.
d.    Generasi IV (1993-sekarang) : BPM 24, BPM 107, BPM 109, PB 260, PB 217, PB 330, RRIC 100, RRIM 712 dan klon klon seri IRR.
Pada siklus ke-4 (keempat), klon klon yang dihasilkkan merupakan hasil penggabungan antara klon klon hasil seleksi Generasi II dengan Generasi III atau sebaliknya. Klon IRR seri 100 merupakan salah satu klon yang dihasilkan pada Generasi IV yang produktivitasnya dapat mencapai 2500 kg/ha/tahun. Salah satu klon IRR seri 100 yang mempunyai potensi untuk dapat dikembangkan yaitu :
IRR 118. Klon klon anjuran konvensional terdiri dari 3 (tiga) kategori, antara lain klon penghasil lateks, klon penghasil kayu dan klon penghasil lateks dan kayu (Tabel 2).
Tabel 2.  Beberapa Klon anjuran Komersial
Klon Penghasil Lateks
Klon penghasil Kayu
Klon pengahsil lateks dan kayu
BPM 24, BPM 107, BPM 109, IRR 104, PB 217 dan PB 260
BPM 1, PB 330, PB 340, RRIC 100, AVROS 2037, IRR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 112 dan IRR 118.
IRR 70, IRR 71, IRR 72 dan IRR 78
Tanaman yang berumur lebih dari sepuluh tahun dan dipelihara sesuai standar adalah tanaman yang dapat diambil bijinya, karena mutu bijinya lebih baik. Pada umumnya biji yang dapat dimanfaatkan berasal dari perkebunan besar atau proyek peremajaan karet rakyat dengan hamparan yanf cukup luas (Anonim, 2007).
c. Penyadapan
Pemungutan hasil tanaman karet disebut penyadapan karet. Penyadapan merupakan salah satu kegiatan pokok dari pengusahaan tanaman karet. Tujuan dari penyadapan karet ini adalah membuka pembuluh lateks pada kulit pohon agar lateks cepat mengalir. Kecepatan aliran lateks akan berkurang apabila takaran cairan lateks pada kulit berkurang Kulit karet dengan ketinggian 260 cm dari permukaan tanah merupakan bidang sadap petani karet untuk memperoleh pendapatan selama kurun waktu sekitrar 30 tahun. Oleh sebab itu penyadapan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merisak kulit tersebut. Jika terjadi kesalahan dalam penyadapan, maka produksi karet akan berkurang (Santosa, 1986).
Menurut Pendle, lateks mengandung beragam jenis protein katena lateks adalah cairan sitiplasma, protein ini termasuk enzim-enzim yang berperan dalam sintesis molekul karet (Hience, L, 2008). Sebagian protein hilang sewaktu pemekatan lateks yaitu karena pengendapan dan karena terbuang dalam lateks skim. Protein yang tersisa dalam lateks pekat kurang lebih adalah 1% terhadap berat lateks dan terdistribusi pada permukaan karet (60%) dan sisanya sebesar 40% terlarut dalam serum lateks pekat tersebut (Pendle, 1992).
Musuh yang paling mengganggu para penyadap karet (Hevea brasiliensis) adalah hujan di pagi hari. Sebab jika kulit batang karet (balam) basah, getah akan luber keluar dari jalur (pelat) yang dibentuk oleh tarikan pahat. Jika hujan pagi, berarti hari libur para penyadap karet (penakok). Sedang musuh yang paling ditakutkan adalah hujan turun saat ngangkit (mengumpulkan getah dari sayak atau mangkuk penampung) (Darmandono, 1995). Hasil memutari pohon-pohon karet satu kebun bisa jadi tanpa hasil jika air hujan meluberi sayak (tempurung penampung) cairan getah karet. Namun musuh yang paling dibenci para penyadap karet adalah harga getah/lateks “jatuh” sedang harga kebutuhan sehari-hari meninggi (Radjam, 2009).
Penggunaan stimulan karet memang sangat menguntungkan bagi para petani atau perkebunan karet, hal ini dikarenakan tanaman karet yang telah diberi stimulan tersebut dapat menghasilkan getah / latek yang banyak karena stimulan tersebut merangsang enzim dan mempercepat metabolisme penghasil latek yang terdapat pada tanaman karet. Dalam penggunaan stimulan pada tanaman karet tergantung dari jenis tanaman karetnya. Ada tanaman karet yang memproduksi latek dalam jumlah banyak apabila diberi stimulan dan ada juga getah karet yang resisten terhadap pemberian stimulan. Namun dari kegiatan Fieldtrip yang telah dilaksanakan kemarin rata-rata tanaman karet peka terhadap pemberian stimulan, hal ini dapat diketahui pada saat dilapang yang mana pada setiap tanaman karet semua terdapat alat untuk memasukkan stimulan tersebut.
Penyadapan merupakan suatu tindakan membuka pembuluh lateks agar lateks yang terdapat di dalam tanaman karet keluar. Penyadapan dapat dilakukan sekitar umur 4,5-6 tahun tergantung pada klon dan lingkungan. Tahapan penyadapan sesuai aturan, diantaranya :
a.        Menentukan matang sadap
·      Matang sadap pohon. Tanaman karet siap sadap bila sudah matang sadap pohon. Matang sadap pohon tercapai apabila sudah mampu diambil lateksnya tanpa menyebabkan ganguan terhadap pertumbuhan dan kesehatan tanaman. Kesanggupan tanaman untuk disadap dapat ditentukan lilit batang. Untuk umur tidak dapat dijadikan pedoman menentukan matang sadap. Pengukuran lilit batang terhadap pohon yang sudah masuk matang sapad dapat dilakukan dengan :
-         Lilit batang 45 cm atau lebih.
-         Ketinggian 100 cm dpo (di atas pertautan okulasi).
·      Matang sadap kebun. Apabila pada kebun, jumlah tanaman matang sadap sudah mencapai >60%. Misalkan, jarak tanam 6 x 3 m (555 pohon/ha), maka pohon matang sadapnya sudah mencapai 333 pohon/ha.
b.    Teknis Pelaksanaan Buka Sadap
·      Dilakukan pada pohon dan kebun yang sudah matang sadap
·      Ditetapkan berdasarkan:
a. Tinggi bukaan sadap
b. Arah dan sudut kemiringan irisan sadap
c. Panjang irisan sadap
d. Letak bidang sadap
·      Penggambaran bidang sadap:
a.    Tanaman okulasi 130 cm dpo
b.    Tanaman seedling 100 cm
c.    Arah: dari kiri atas ke kanan bawah, alasannya: Pembuluh lateks posisinya  dari kanan atas ke kiri bawah membentuk sudut 3.7° dengan bidang datar.
·      Sudut kemiringan sadap.
a.    Bidang sadap bawah: 30°-40° terhadap bidang datar.
b.    Bidang sadap atas : 45°.
c.    Pemasangan Talang dan Mangkuk Sadap
Pemasangan talang dan mangkuk sadap dilakukan setelah penggambaran bidang sadap. Pemasangannya diletakkan di bawah ujung irisan sadap bagian bawah. Talang sadap terbuat dari seng selebar 2,5 cm dengan panjang ±8 cm. Talang sadap dipasang pada jarak 5 - 10 cm dari ujung irisan sadap bagian bawah, tepat di atas garis sandar depan yang juga berfungsi sebagai parit untuk aliran lateks. Pemasangan talang sadap di bagian ini bertujuan supaya tidak mengganggu pelaksanaan penyadapan, lateks dapat mengalir dengan baik, dan tidak terlalu banyak meninggalkan getah bekuan pada batang.
Mangkuk sadap umumnya terbuat dari tanah liat, plastik atau aluminium.  Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan mangkuk adalah harus mudah dipakai, mudah dibersihkan, dapat dipergunakan dalam jangka waktu lama, ekonomis dan mudah didapat. 
Mangkuk sadap dipasang pada jarak 15 cm - 20 cm di bawah talang sadap.  Pemasangan mangkuk sadap di posisi ini bertujuan supaya lateks dapat mengalir sampai ke mangkuk dengan baik, dan penyadap tidak mengalami kesulitan mengambilnya sewaktu pengumpulan lateks.
d.    Kedalaman Irisan Sadap dan ketebalan irisan sadap
Kedalaman irisan sadap dianjurkan 1-1,5 mm dari kambium. Hal ini dikarenakan di dalam kulit batang terdapat pembuluh lateks, semakin ke dalam semakin banyak, jangan sampai terjadi kerusakan kambium agar kulit pulihan dapat terbentuk dengan baik dan lamanya penyadapat berkisar 25-30 tahun.  Ketebalan sadap dianjurkan sebesar 1,5-2,0 mm setiap penyadapan.
Menurut Sapta Bina Usaha Tani Karet, 2003 menyatakan bahwa :
a.    Frekuensi Penyadapan
  1. Frekuensi penyadapan: jumlah penyadapan yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu.
  2. Penentuan frekuensi penyadapan berkaitan dengan panjang irisan dan intensitas penyadapan.
  3. Panjang irisan: ½ S (spiral)
  4. Frekuensi penyadapan:
·        Tahun pertama: d/3 (3 hari sekali).
·        tahun selanjutnya: d/2 (2 hari sekali) panjang irisan dan frekuensi penyadapan bebas.
b.    Waktu Penyadapan
Sebaiknya penyadapan dilakukan Jam 5.00-7.30 pagi hari, dengan dasar pemikirannya:
a.    Jumlah lateks yang keluar dan kecepatan aliran lateks dipengaruhi oleh tekanan turgor sel.
b.    Tekanan turgor mencapai maksimum pada saat menjelang fajar, kemudian menurun bila hari semakin siang.
c.    Pelaksanaan penyadapan dapat dilakukan dengan baik bila hari sudah cukup terang.
Pengolahan karet ini mepertimbangkan bahan baku. Bahan baku dalam pengolahan karet adalah lateks yang belum mengalami pra koagulasi. Lateks merupakan cairan yang berbentuk koloid berwarna putih kekuning-kuningan yang dihasilkan oleh pohon karet. Menurut Oktaviana, 2009 menyatakan bahwa ciri-ciri lateks yang digunakan untuk menghasilkan lembaran slab yang baik, yaitu :
a.    Berbau segar atau langu wengur.
b.    Mempunyai KKK (Kader Karet Kering) yang tinggi yaitu 20% - 25%.
c.    Tidak mengandung kotoran, yaitu kotoran dari benda lain yang tercampur dalam lateks, msalnya tatal kayu, daun, tanah, dan lain-lain.
d.    Tidak terdapat bintik-bintik gumpalan karet atau terjadi proses pra koagulasi. Mempunyai pH antara 6,5 – 7,0.
Pada proses penyadapan lateks dilakukan dengan pelukaan kulit batang karet. Di dalam kulit batang terdapat pembuluh lateks, semakin ke dalam semakin banyak. Namun, dalam aplikasinya jangan sampai terjadi kerusakan kambium agar kulit pulihan dapat terbentuk dengan baik. Sehingga lamanya penyadapan dalpat berlangsung selama 25–30 tahun.
Penyadapan karet bila melukai pohon/kambium akan mengakibatkan kerusakan pada kulit. Kerusakan ini disebabkan kerukan cambium akan menyebabkan proses transportasi dari akar yang berupa air dan hara maupun dari daun yang berupa hasil fotosintesis kebagian tanaman lainnya tidak dapat berjalan dengan baik. Dengan demikian pada tanaman yang luka akan sulit mendapatkan bahan-bahan atau enzim yang dapat menutup luka yang telah terjadi.

0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger.....