hai... blogger | Members area : Register | Sign in

ingin blog anda dapat iklan KLIK GAMBAR DIBAWAH INI !!!

Online Job for All. Work from home computer.

merumuskan anggapan dasar


BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Dalam pelaksanaan penelitian khususnya yang memerlukan penulisan karya ilmiah harus dilakukan secara sistematik. Tahapan dilakukan mulai dari menentukan judul sampai melakukan eksperimen atau observasi sampai akhirnya membuat kesimpulan. Penelitian merupakan proses mencari pemecahan masalah melalui prosedur ilmiah. Tahap-tahap yang harus dilalui menurut prosedur ilmiah bukan hanya dilkukan di laboratorium saja tetapi juga di kancah termasuk untuk bidang pendidikan. Guru di dalam menghadapi masalah dengan muridnya, juga dapat menerapkan metode ilmiah.
Setelah peneliti menjelaskan permasalahan secara jelas yang dipikirkan selanjutnya adalah suatu gagasan tentang letak persoalan atau masalah dalam hubungan yang lebih luas. Dalam hal ini peneliti harus memberikan asumsi yang jelas dan kuat tentang kedudukan permasalahannya. Asumsi yang harus diberikan tersebut diberi nama Asumsi Dasar atau Anggapan Dasar. Anggapan dasar ini merupakan landasan teori di dalam pelaporan hasil penelitian nanti.
Selain membuat anggapan dasar juga diperlukan suatu kajian pustaka yang mampu mendukung kebenaran dari anggapan dasar yang telah dibuat. Kajian pustaka merupakan sumber informasi yang perlu diupayakan untuk memperkuat atau mendukung kerangka berfikir yang akan dipergunakan sebagai dasar menarik hipotesis, juga untuk mengetahui perkembangan ilmu yang telah ada.
B.       Tujuan
Pentingnya anggapan dasar dan kajian pustaka dalam menyusun karya ilmiah menjadi hal pokok yang perlu untuk dipelajari, karenanya penulis melalui karya tulis ini mencoba untuk menjabarkan hal-hal yang perlu diketahui mengenai pengertian, manfaat, perumusan, dan penulisan dari anggapan dasar dan kajian pustaka.

BAB II
ISI
I. MERUMUSKAN ANGGAPAN DASAR
A. Pengertian Anggapan Dasar
Dalam hal ini peneliti harus dapat memberikan sederetan asumsi yang kuat tentang kedudukan permasalahan yang sedang diteliti. Asumsi yang harus diberikan tersebut, diberi nama asumsi dasar atau anggapan dasar. Anggapan dasar ini merupakan landasan teori di dalam pelaporan hasil penelitian nanti.
Menurut Prof. Dr. Winarno Surakhmad M.Sc.Ed. dalam Arikunto (2006:65) anggapan dasar atau postulat merupakan sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik, dimana setiap penyelidik dapat merumuskan postulat yang berbeda. Seorang penyelidik yang mungkin meragukan sesuatu anggapan dasar yang oleh orang lain diterima sebagai suatu kebenaran.
Menurut Muhammad Ikram (2011) anggapan dasar ini merupakan landasan teori di dalam pelaporan hasil penelitian nanti. Dikatakan juga anggapan dasar atau postulat adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyidik.
Dalam melakukan penelitian anggapan–anggapan dasar perlu dirumuskan secara jelas sebelum melangkah mengumpulkan data. Anggapan-anggapan semacam inilah yang disebut sebagai anggapan dasar, postulat atau asumsi dasar. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa anggapan dasar adalah sesuatu yang diyakini kebenarannya oleh peneliti yang akan berfungsi sebagai hal yang digunakan untuk tempat berpijak bagi peneliti di dalam melaksanakan penelitiannya.
Pentingnya merumuskan anggapan dasar bagi seorang peneliti :
1.      Agar ada dasar berpijak yang kokoh bagi masalah yang sedang diteliti
2.      Untuk mempertegas variabel yang menjadi pusat perhatian
3.      Guna menentukan dan merumuskan hipotesis
B. Cara Menentukan Anggapan Dasar
Seseorang yang masih merasa ragu terhadap suatu hal tentu saja tidak dapat dengan pasti menentukan anggapan bagi hal tersebut, caranya bermacam macam, diantaranya :
1.   Dengan banyak membaca buku, surat kabar atau berita lain
Dalam hal ini Prof. Drs. Sutrisno Hadi, M.A. mengklasifikasikan bahan pustaka (yang disebut sumber acuan) menjadi dua kelompok yaitu :
a)      Sumber umum : buku teks, ensiklopedi dsb.
b)      Sumber acuan khusus : buletin, jurnal, periodikan ( majalah – majalah yang terbit secara periodik ), skripsi dsb.
Dari sumber acuan umum dapat diperoleh teori–teori dan konsep– konsep dasar, sedang dari sumber acuan khusus dapat dicari penemuan – penemuan atau hasil penelitian yang sudah dan sedang dilaksanakan
2.   Dengan banyak menonton berita, ceramah dan pembicaraan orang lain
3.   Dengan banyak berkunjung ketempat
4.  Dengan mengadakan pendugaan mengabstraksi berdasarkan perbendaharaan pengetahuannya
Sebagai bahan pendukung anggapan dasar, peneliti perlu melakukan studi perpustakaan untuk mengumpulkan teori – teori dari buku maupun penemuan dari penelitian. Apa yang sudah dibaca sebaiknya langsung dicatat pada kartu – kartu. Cara ini disebut dengan istilah pencatatan dengan sistem kartu. Bahan – bahan yang sudah dibaca, dituliskan pada sebuah kartu dengan topik subjek matter atas bagian dari permasalahannya dimana pada setiap kartu dicantumkan sumber keterangan yang diambil agar tidak ada kesulitan apabila buku pinjaman atau sukar kembali ditemukannya. Oleh karenanya penulisannya harus lengkap agar tidak perlu membuka buku sumbernya lagi.
Kartu yang digunakan dapat dibuat dari kertas manila berwarna. Untuk masalah yang sama dapat digunakan kartu yang sewarna. Ukuran kartu dapat dibuat sesuai kehendak hati misalnya 15 x 10 cm. kartu – kartu yang sudah diisi disusun sesuai abjad dalam sebuah kotak sehingga memudahkan penelitian dalam membandingkan, mengelompokkan dan menelaah kembali bahan – bahan tersebut.
Merumuskan suatu anggapan dasar bukanlah pekerjan yang mudah, tapi ini membutuhkan suatu pemikiran, renungan dan analisis masalah, sehingga boleh jadi bisa dianggap sukar bagi siapa saja, terutama bagi yang belum biasa meneliti.
Untuk melakukan hal ini diperlukan latihan, membiasakan dan banyak melihat contoh, misalnya seperti di bawah ini:
Judul Penelitian:      
“Studi tenteng Peranan Orangtua terhadap Pilihan Profesi Anak SMA
se-Daerah Istimewa Yogyakarta”
anggapan dasar:
1.      Hubungan anak dengan orangtua cukup erat.
2.      Anak tahu keadaan orangtuanya (pendidikan, pekerjaan, cita-cita terhadap dirinya, dan sebagainya).
3.      Anak SMA sudah memahami berbagai jenis profesi yang ada, baik dalam wilayah yang sempit maupun yang luas.

Atau dari contoh kehidupan sehari-hari adalah orang yang berkata bahwa orang yang tidak suka makan akan menjadi kurus. Yang ada dibalik ucapan itu adalah suatu anggapan bahwa yang dimakan orang tersebut sedikit sehingga kekurangan bahan untuk dicerna, kemudian hanya sedikit atau bahkan tidak ada yang berubah menjadi otot dan lemak. Inilah sebabnya maka orang menjadi kurus.


C. Perbedaan anggapan dasar dan hipotesis
No
Anggapan dasar
Hipotesis
1
      Dr. Winanto surakhamd M.Sc.Ed. anggapan dasar atau postulat adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik. Setiap penyelidik dapat merumuskan postulat yang berbeda. Seorang penyelidik mungkin meragukan sesuatu anggapan dasar orang lain diterima sebagai kebenaran.
Jadi anggapan dasar adalah sesuatu yang diyakini kebenarannya oleh peneliti yang akan berfungsi sebagai hal yang digunakan untuk tempat berpijak bagi peneliti di dalam melaksanakan penelitiannya.
Good dan Scates (1954) menyatakan hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang dirumuskan serta diterima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang diamati ataupun kondisi-kondisi yang diamati dan digunakan sebagai petunjuk untuk langkah-langkah selanjutnya.

Jadi Hipotesis, secara sederhana merupakan dugaan sementara yang diharapkan terjadi dalam penelitian.
2
Tujuan/manfaat Anggapan Dasar :
1. Sebagai dasar untuk berfikir
2. Untuk mempertegas variabel yang diteliti
3. Untuk merumuskan hipotesis
Tujuan/Fungsi hipotesis :
1.    sebagai jawaban atau kesimpulan sementara dari suatu masalah
2.    memberikan arah dalam pencarian atau pengumpulan data
3.    memperjelas keadaan yang masih samar – samar (membingungkan)
4.    dapat membantu memprediksi kejadian – kejadian mendatang yang mungkin terjadi.
3
Dasar pembuatan anggapan dasar adalah kebenaran atau fakta yang didukung dengan:
1.    Membaca buku
2.    Mendengarkan berita
3.    Berkunjung ke tempat obyek penelitian
4.    Dengan mengadakan abstraksi.
hipotesis dibuat atas dasar pengetahuan-pengetahuan tertentu dari hasil serta problematika yang timbul dari penyeledikan sebelumnya, atau dari renungan. Sebelum dirumuskan atau sedang dirumuskan harus ada landasan-landasan teoritis dan praktisnya.
Hipotesis dirumuskan dengan bersumber pada rumusan masalah.

II. KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian dan Pentingnya Kajian Pustaka
Kepustakaan merupakan sumber informasi yang perlu diupayakan untuk memperkuat atau mendukung kerangka berfikir yang akan dipergunakan sebagai dasar menarik hipotesis, juga untuk mengetahui perkembangan ilmu yang telah ada.
Menurut Suminar, dkk. (1996) dalam Masyhuri dan Zainuddin (2008:100), tinjauan pustaka disarankan pustaka baru, relevan, dan asli (state of the art). Uraian kajian pustaka yang menimbulkan gagasan dan mendasari kegiatan yang diusulkan. Pengacuan pada pustaka tidak perlu ekstensif sampai tuntas, tetapi lakukan secukupnya untuk menunjukan bahwa masalah itu betul-betul ada.
Penelitian merupakan proses mencari pemecahan masalah melalui prosedur ilmiah. Tahap-tahap yang harus dilalui menurut prosedur ilmiah bukan hanya dilkukan di laboratorium saja tetapi juga di kancah termasuk untuk bidang pendidikan. Guru di dalam menghadapi masalah dengan muridnya, juga dapat menerapkan metode ilmiah. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1.  Menghadapi masalah yang perlu dipecahkan.
2.  Membatasi dan merumuskan masalah dalam bentuk yang spesifik dan dapat dikenali dengan jelas.
3.  Mengembangkan hipotesis (dugaan) pemecahan masalah.
4.  Mengembangkan teknik dan instrumen untuk mengumpulkan data yang mengarah pada pembuktian hipotesis.
5.  Mengumpulkan data.
6.  Menganalisis data.
7.  Menarik kesimpulan dari data yang tersedia menuju pada informasi tentang terbukti ada tidaknya hipotesis

Kebanyakan para peneliti yang cukup bertindak hati-hati selalu berusaha mengikuti langkah-langkah ini. Ketaatan mengikuti langkah-langkah ini bukan karena sekedar ingin taat pada ketentuan tetapi disebabkan karena rasa tanggung jawab yang besar agar apa yang diperoleh merupakan sesuatu yang pantas diperhitungkan sebagai sesuatu yang bermakna bagi orang banyak atas dasar tanggung jawab yang tinggi.
Nazir (1999) dalam Masyhuri dan Zainuddin (2008:102) bahwa menelusuri literatur yang ada serta menelaahnya secara tekun merupakan kerja kepustakaan yang diperlukan dalam mengerjakan penelitian Survei terhadap data yang telah tersedia dapat dikerjakan setelah masalah penelitian dipilih atau dilakukan sebelum masalah dipilih.
Kegiatan penelitian selalu bertitik tolak dari pengetahuan yang sudah ada. Pada semua ilmu pengetahuan, ilmuwan selalu memulai penelitiannya dengan cara menggali apa-apa yang sudak diketemukan oleh ahli-ahli lain dan memanfaatkan penemuan-penemuan tersebut untuk kepentingan penelitiannya. Hasil penelitian yang sudah berhasil memperkaya khasanah pengetahuan yang ada biasanya dilaporkan dalam bentuk jurnal-jurnal penelitian. Ketika peneliti mulai membuat rencana penelitian ia tidak bisa menghindar dan harus mempelajari penemuan-penemuan tersebut dengan mendalami, mencermati, menelaah, dan mengidentifikasi hal-hal yang telah ada untuk mengetahui apa yang ada dan yang belum ada. Kegiatan itu biasa dikenal dengan istilah: mengkaji bahan pustaka atau hanya disingkat dengan kajian pustaka atau telaah pustaka (literature review).
Untuk dapat melakukan penelitian seperti yang seharusnya, peneliti dituntut untuk menguasai sekurang-kurangnya dua hal, yakni bidang yang diteliti dengan cara-cara atau prosedur melakukan penelitian. Untuk menguasai kedua persyaratan tersebut, (calon) peneliti harus banyak membaca, mengkaji berbagai literatur. Dengan melakukan kaji literatur peneliti akan memperoleh beberapa manfaat antara lain:
1.  Peneliti akan mengetahui dengan pasti apakah permasalahan yang dipilih untuk memecahkan melalui penelitian betul-betul belum pernah diteliti oleh orang-orang terdahulu.
2.  Dengan mengadakan kajian literatur peneliti dapat mengetahui masalah-masalah lain yang mungkin ternyata lebih menarik dibandingkan dengan masalah yang telah dipilih terdahulu.
3.  Dengan mengetahui banyak hal yang tercantum di dalam literatur (dan ini merupakan yang terpenting bagi pelaksanaan penelitiannya), peneliti akan dapat lancar dalam menyelesaikan pekerjaannya. Dalam tonggak-tonggak tertentu dari langkahnya meneliti, peneliti memang diharuskan untuk mengacu pada pengetahuan, dalil, konsep, atau ketentuan yang sudah ada. Penggunaan acuan tersebut harus dilakukan dengan menunjuk langsung pada sumber dimana bahan acuan tersebut diperoleh.
4.  Keharusan peneliti mengacu pada pengetahuan, dalil, konsep atau ketentuan yang sudah ada maka kedudukan peneliti sebagai ilmuwan menjadi mantap, kokoh, tegar, karena dalam kegiatannya tersebut ia telah bekerja dengan baik, menggunakan aturan-aturan akademik yang berlaku. Dalam segala tindakannya, seorang ilmuwan seorang ilmuwan harus berani membuka diri untuk mengemukakan apa yang ia lakukan terhadap ilmu, bertindak jujur, dan sanggup mengakui kelebihan orang lain.
Itulah sebabnya peneliti dalam menggunakan acuan pengetahuan, dalil, dan konsep dari penemuan orang lain tersebut, harus secara jujur menyebutkan siapa penemunya (atau siapa yang mengemukakan), tertera dalam literatur apa, halaman berapa, sumber yang diterbitkan oleh penerbit mana, tahun berapa. Dengan menyebutkan sumber pustaka secara lengkap ini dimaksudkan agar apabila ada peneliti atau orang lain ingin menelusuri lebih jauh tentang penemuan tersebut, dapat dengan mudah melakukannya.
B. Bagian Pra-Persiapan Penelitian yang Memerlukan  Kajian Pustaka
1.  Pemilihan Permasalahan dan Judul Penelitian
Judul penelitian merupakan sesuatu yang pokok dalam suatu kegiatan penelitian. Disamping judul, problematika penelitian lebih penting dan menentukan judul itu sendiri. Problematika peneliti merupakan pertanyaan-pertanyaan yang akan dicari jawabnya melalui kegiatan penelitian itu. Untuk memperoleh problematika yang tepat, sebaiknya peneliti mencoba mengidentifikasikan semua problematika yang mungkin. Kemudian baru dipertimbangkan problematika mana yang menurut berbagai hal memang cocok untuk penelitian yang bersangkutan.
Unsur-unsur yang harus dipertimbangkan di dalam merumuskan judul penelitian antara lain: sifat studi atau pendekatan penelitian, variabel pokok, subjek penelitian, lokasi tempat penelitian berlangsung dan kurun waktu ketika penelitian dilaksanakan, juga jenis studi (populasi atau kasus) dapat juga dicantumkan dalam judul.
Pemilihan problematika dan judul penelitian harus dilkukan secara hati-hati agar keinginan (calon) peneliti dapat terlaksana. Problematika dan judul tersebut harus sesuai dengan dengan bidang keahlian, minat serta kemampuan peneliti dan dapat dilaksanakan karena bebas atau minim dari kendala, baik yang datang dari diri (calon) peneliti maupun dari luar.
Untuk dapat dengan jujur dan berhenti terbuka dalam menentukan penting tidaknya permasalahan, peneliti dapat mencoba mengajukan pertanyaan tentang kemanfaatannya dan kepada siapa informasi tentang hasil tersebut dapat disarankan.
2.  Penyusunan Latar Belakang Masalah
a. Untuk dapat memberikan alasan dengan tepat mengapa permasalahan yang sudah ditentukan memang merupakan permasalahan yang memenuhi kriteria pemilihan permasalahan atau judul penelitian, (calon) peneliti seyogianya menguasai permasalahan mencari sumber-sumber yang berupa surat-surat keputusan, pedoman, laporan kegiatan, dan sebagainya.
b. Untuk memperbanyak pengetahuan agar dapat melakukan identifikasi masalah sebanyak-banyaknya, (calon) peneliti harus banyak membaca buku-buku teori dan laporan hasil penelitian sebelumnya.
c. Untuk memperbanyak bahan dukungan bagi (calon) peneliti agar dapat memilih dan merumuskan hipotesis dengan tepat, maka ia harus banyak mengkaji bahan-bahan yang mengandung teori serta jurnal-jurnal yang memuat hasil laporan penelitian.
Agar pekerjaan (calon) peneliti dapat efektif, kajian untuk persiapan identifikasi masalah dan penentuan hipotesis lebih baik dilakukan bersama-sama. Dengan cara ini (calon) peneliti diharapkan bahwa ia dapat memilih dengan tepat problematika yang diajukan dalam penelitiannya, karena sekaligus dapat dipikirkan bagaimana kemungkinan (calon) peneliti dapat menghimpun bahan dukungan.
3.  Penyusunan Metode Penelitian
Metodologi penelitian merupakan bagian pokok dalam program penelitian yang di dalamnya tercermin metode-metode apa yang akan digunakan oleh (calon) peneliti mengenai pemilihan subjek penelitian (penentuan poulasi dan sampel), teknik sampling, pemilihan instrumen pengumpul data dan pemilihan teknik analisis data. Ada dua bagian uraian metodologi penelitian yaitu:
a)      Metodologi penelitian dalam proposal penelitian
Uraian metodologi penelitian dalam proposal penelitian yang baru menjelaskan rencana tentang cara, teknik atau metode-metode penentuan populasi dan sampel, metode dan instrumen yang dipilih untuk pengumpulan data, serta metode atau teknik yang akan digunakan untuk melakukan anaisis data.
b)      Metodologi penelitian dalam laporan hasil penelitian
Uraian metodologi penelitian dalam laporan hasil penelitian yang dalam hal ini peneliti sudah menceritakan tentang apa-apa yang dilkukan oleh peneliti di kancah.
C. Cara-cara Mengkaji Bahan Pustaka
Uraian mengenai cara-cara mengkaji bahan pustaka bukan hanya berguna untuk (calon) peneliti yang akan menyusun proposal penelitian, tetapi juga untuk peneliti yang akan dan sedang menyusun laporan hasil penelitiannya. Agar uraian tentang cara mengkaji bahan pustaka berurutan dan mudah dipahami, terlebih dahulu dikemukakan berbagai jenis sumber bahan pustaka, cara-cara mengkaji dan mengumpulkan hasil kajian, disusul dengan cara menuangkannya dalam tulisan.
1.  Jenis Sumber Bahan Pustaka
a. Klasifikasi menurut bentuk
Dibedakan atas:
1)        Sumber tertulis (printed materials yang biasanya disebut: dokumen): antara lain buku harian, surat kabar, majalah, buku notulen rapat, buku inventaris, ijazah, buku-buku pengetahuan, surat-surat keputusan dan lain-lain yang secara umum dapat dibedakan atas bahan-bahan yang ditulis tangan dan yang dicetak atau diterbitkan oleh penerbit, baik yang dipublikasikan secara umum maupun tidak.
2)        Sumber bahan yang tidak tertulis (non printed materials): adalah segala bentuk sumber bukan tulisan antara lain rekaman suara, benda-benda hasil peningalan purbakala (relief, manuskrip, prasasti dan sebagainya) film, slide, dan lain-lainnya.

b. Klasifikasi menurut isi
 Dibedakan atas:
1)         Sumber Primer adalah sumber bahan atau dokumen yang dikemukakan atau digambarkan sendiri oleh orang atau pihak yang hadir pada waktu kejadian yang digambarkan tersebut berlangsung, sehingga mereka dapat dijadikan saksi. Dalam penelitian historis, kedudukan sumber primer sangat utama karena dari sumber primer inilah keaslian dan kemurnian isi sumber bahan lebih dapat dipercaya dibandingkan dengan sumber sekunder.
2)         Sumber Sekunder adalah sumber bahan kajian yang digambarkan oleh bukan orang yang yang ikut mengalami atau yang hadir pada waktu kejadian berlangsung.
2.  Cara Mengkaji dan Mengumpulkan Hasil Kajian
Untuk mengakaji sumber pustaka sebaiknya peneliti menggunakan kartu bibliografi yang selalu disiapkan setiap saat.
3.  Cara Menuliskan Hasil Kajian
a.  Cara Menuangkan Hasil Kajian
Sebelum menuangkan hasil kajian dalam bentuk narasi yang serasi, terlebih dahulu akan dikemukakan uraian sekedarnya tentang kerangka teori dan kerangka berfikirnya.
Kerangka Teori adalah bagian dari penelitian, tempat peneliti memberikan penjelasan tentang hal-hal yang berhubungan dengan variabel pokok, sub variabel atau pokok masalah yang ada dalam penelitiannya.
Kerangka Berpikir adalah bagian teori dari penelitian yang menjelaskan tentang alasan atau argumentasi bagi rumusan hipotesis. Kerangka berpikir menggambarkan alur pikiran peneliti dan memberikan penjelasan kepada orang lain mengapa ia mempunyai anggapan seperti yang diungkapkan dalam hipotesis. Penulisan kerangka berpikir harus didasarkan atas pendapat para ahli dan hasil-hasil penelitian yang mendahuluinya. Untuk menjelaskan maksud peneliti, biasanya penyajian kerangka berpikir ini dilengkapi dengan sebuah bagan yang menunjukkan alur pikiran peneliti dalam kaitan antar variabel yang diteliti. Gambaran bagan yang disajikan tersebut menunjuk pada model penelitian yang diambil dan dikenal dengan nama: Paradigma atau Model Penelitian.
b.  Cara Mempertanggungjawabkan Pengambilan Kutipan
Peneliti dibenarkan mengutip hasil karya terdahulu sepanjang dengan jujur menyebutkan dalam daftar pustaka maupun dalam teks proposal dan teks uraian laporan penelitiannya. Jika aturan tata tertib yang ada sudah diikuti, maka mereka tidak dikatakan sebagai plagiat.
Cara peneliti mempertanggungjawabkan pengutipannya itu dilakukan dua kali, yaitu pada halaman dimana terdapat kutipan tersebut dan pada daftar kepustakaan.
C. Cara Mengutip Kajian Pustaka
Berdasarkan PPKI UM Metro edisi revisi 2008, cara mengutip kajian pustaka adalah sebagai berikut:
         a. Cara Merujuk ( Menguntip ) Kutipan Langsung.
1.      Kutipan Kurang dari 4 Baris .
Kutipan yang berisi kurang dari 4 ( empat ) baris di tulis diantara tanda kutip (“…”) sebagai bagian yang terpadu dalam teks utama , di ketik dengan spasi ganda , dan nomor halaman sumber yang di kutip harus di sebutkan . Nama pengarang dapat di tulis secara terpadu  dalam teks atau menjadi satu dengan tahun dan nomor halaman di dalam kurung .
Contoh  :

Ø Nama pengarang di sebut dalam teks secara terpadu .
Soebroto (1990: 123) menyimpulkan “ada hubungan yang erat antara factor social ekonomi dengan kemajuan belajar“

Ø Nama pengarang disebut bersama dengan tahun penerbitan dan nomor halaman .
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “ada hubungan yang erat antara factor social ekonomi dengan kemajuan belajar“ (Soebroto, 1990: 123).

Ø Jika di dalam kutipan terdapat tanda kutip , maka digunakan tanda kutip tunggal (“…”).
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “terdapat  kecenderungan semakin banyak ‘Campur tangan’ pimpinan perusahaan semakin rendah tingkat partisipasi karyawan di daerah perkotaan“ (Suwignyo , 1990: 101).

2.      Kutipan 4 baris atau lebih
Kutipan yang berisi 4 ( empat ) baris atau lebih ditulis tanpa tanda kutip secara terpisah dari teks yang mendahului, dimulai setelah ketukan ke-7 dari garis tepi sebalah kiri , dan di ketik dengan spasi tunggal.
Contoh :
Smith (1990 :276) ‘ menarik kesimpulan sebagai berikut :
The “ placebo effect “ mhith had been verivied in previous studies, dis appeared when behaviors were studied in this manner . furthermore , the behaviors never exhibited again , even when real drugs were administered . earlier studies were clearly premature in attributing the results to a placebo effect.

Jika dalam kutipan terdapat paragraf baru lagi, baris barunya dimulai dengan tujuh ketukan lagi dari tepi garis teks kutipan .
b.      Cara merujuk kutipan tak langsung
Kutipan yang disebut secara langsung atau dikemukakan dengan bahasa penulis sendiri di tulis tanpa tanda kutip, ditulis dengan spasi ganda dan terpadu dalam teks. Nama pengarang bahan kutipan dapat di sebut  terpadu dalam teks. Atau disebut dalam tanda kurung bersama tahun penerbitannya. Nomor halaman tidah harus di sebutkan. Terpadu dalam teks , namun disebut dalam tanda kurung bersama tahun penerbitannya . Nomor halaman tidak harus disebutkan .
contoh :
Ø  nama pengarang di sebutkan terpadu dalam teks
Salimin (1990) tidak terduga bahwa mahasiswa tahun ketiga lebih baik daripada mahasiswa tahun keempat .
Ø  nama pengarang disebut terpadu dalam teks .
Mahasiswa tahun ketiga ternyata lebih baik daripada mahasiswa tahun keempat (Salimin,1990).

c.       Cara Merunjuk Kutipan Yang Telah Di Kutip Di Suatu Sumber
Kutipan yang diambil dari naskah yang merupakan kutipan dari suatu sumber lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, dirujuk dengan cara menyebutkan nama penulis asli  dan nama pengutip pertama serta tahun dikutipnya. Cara merujuk semacam ini hanya dibolehkan jika sumber asli benar-benar tidak di dapatkan, dan harus di anggap sebagai keadaan darurat.
contoh :
Kerlinger ( dalam Ary , 1892 :382 ) memberikan batasan penelitian ex post facto sebagai:
Penyelidikan empiris yang sistematis dimana ilmuwan tidak mengendalikan variable bebas secara langsung karena variable tersebut pada dasarnya memang tidak dapat di manipulasi .
atau:
Menurut Kerlinger yang dikutip Ary ( 1982:382) penelitian ex post facto adalah:
Penyelidikan empiris yang sistematis dimana ilmuwan tidak mengendalikan variable bebas secara langsung karena variable tersebut pada dasarnya memang tidak dapat dimanipulasi.


















BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Dari hasil pengkajian yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa:
1.      Anggapan dasar adalah sesuatu yang diyakini kebenarannya oleh peneliti yang akan berfungsi sebagai hal yang digunakan untuk tempat berpijak bagi peneliti di dalam melaksanakan penelitiannya. Tujuan/manfaat anggapan dasar adalah sebagai dasar untuk berfikir, mempertegas variabel yang diteliti, dan merumuskan hipotesis.
2.      Mengkaji bahan pustaka (kajian pustaka) diupayakan untuk memperkuat atau mendukung kerangka berfikir yang akan dipergunakan sebagai dasar menarik hipotesis, juga untuk mengetahui perkembangan ilmu.
3.      Agar uraian tentang cara mengkaji bahan pustaka berurutan dan mudah dipahami, terlebih dahulu dikemukakan berbagai jenis sumber bahan pustaka, cara-cara mengkaji dan mengumpulkan hasil kajian, disusul dengan cara menuangkannya dalam tulisan.

B.       Saran
1.      kami selaku penulis menyarankan kepadaa semua pihak agar turut mengkaji mengenai sistematika penulisan karya ilmiah untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan berfikir kritis dalam menyusun karya ilmiah.
2.      Kepada anggota kelompok untuk berbagi ilmu dan terus memperkaya pengetahuan yang dapat menjadi modal membuat karya tulis nantinya.

0 komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger.....